Polri Didesak Umumkan Tersangka Penembak Laskar FPI ke Publik

Safari
Polri Didesak Umumkan Tersangka Penembak Laskar FPI ke Publik
Wakil Koornidator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Rivanlee Anandar

Jakarta, HanTer-- Sejumlah pihak mengkritik proses penyidikan yang tengah dilakukan oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri terkait kasus pembunuhan di luar hukum (unlawful killing) terhadap empat Laskar Front Pembela Islam (FPI). Apalagi hingga saat ini identitas polisi yang menembak mati 4 Laskar FPI itu juga masih belum dibuka secara umum.

Wakil Koornidator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Rivanlee Anandar mengatakan, Polri yang masih enggan untuk terbuka kepada publik dalam menyidik perkara itu membuat masyarakat luas sulit untuk memantau proses hukum yang berjalan. 

"Upaya melindungi anggota ini terlihat dari banyak kasus dan selalu menjadi pola," kata Wakil Koornidator KontraS, Rivanlee Anandar di Jakarta, Rabu (7/4/2021).

Sebagai informasi, Polri sudah menetapkan tiga tersangka anggota Polda Metro Jaya dalam kasus unlawful killing terhadap 4 Laskar FPI. Salah satu tersangka sudah meninggal dunia karena kecelakaan pada Januari lalu. Namun, hingga saat ini Polri juga belum mau mengkonfirmasi identitas para tersangka, termasuk kesatuan tugasnya.

Menurut Rivan, Polri seharusnya dapat membagikan informasi mengenai penanganan perkara itu secara berkala. "Sejumlah kejanggalan menunjukkan ada yang ditutupi oleh kepolisian atas pengungkapan kasus tersebut," tambahnya.

Para tersangka sendiri ditetapkan usai gelar perkara yang dilakukan Bareskrim pada Kamis (1/4/2021). Kemudian, hasilnya diumumkan oleh Polri pada Selasa (6/4/2021).

Masih Gelap

Terpisah, Pakar Hukum Pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar juga mengatakan, identitas tiga oknum polisi jadi tersangka dinilai masih gelap dan belum ada titik terang.  

"Ini masih gelap ini. Makanya kita imbau kepolisian harus mengumumkan siapa saja yang ditetapkan sebagai tersangka. Diproses secara terbuka karena Indonesia ini adalah negara hukum yang terbuka," kata Fickar saat di konfirmasi, Rabu (7/4/2021).

Menurut Fickar, belajar dari kasus yang ada, saat ini masyarakat sudah lebih tahu dan memahami adanya aturan yang terjadi selama ini. “Sekarang tinggal keterbukaan polisi saja membuka informasi itu, tegakkanlah hukum yang benar kalau mau polisi dihormatin juga oleh masyarakat," tuturnya. 

Fickar menambahkan, jika kasus ini akan terang benderang maka penyidik harus jujur dan terbuka "Istilahnya jeruk makan jeruk karena sama-sama polisi. Maka itu harus terbuka siapa yang melakukan kemudian dalam konteks apa dilakukan,” tukasnya.

Transparan

Ketua Tim Kuasa Hukum keluarga 6 Laskar FPI Hariadi Nasution juga meminta Polri transparan menyampaikan informasi perihal tiga anggota polisi yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan di luar proses hukum terhadap 6 Laskar FPI. "Harus jelas, namanya siapa, atau inisial lah. Terus satuan mana, unit apa. Kalau di Polda kan banyak," kata Hariadi, Rabu (7/4/2021).

Hariadi mengatakan, dari dibukanya identitas 3 polisi yang menembak 6 Laskar FPI maka akan diketahui siapa pemimpin atau komandan dari anggota polisi itu. Dalam peristiwa ini, Hariadi meminta pemimpin anggota polisi itu untuk ikut diproses. "Kan tidak bakalan ada kejadian itu kalau tidak ada perintah, karena kalau pelanggaran HAM itu sudah jelas, kalau pelanggaran HAM berat, itu harus dilakukan secara terstruktur, ada garis komando yang memerintahkan itu, masif," jelasnya.

Diketahui saat ini tiga anggota Polda Metro Jaya yang merupakan terlapor kasus dugaan unlawful killing terhadap enam anggota laskar FPI ditetapkan sebagai tersangka. Namun Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri, Brigadir Jenderal Rusdi Hartono belum mau membeberkan identitas para tersangka. "Nanti akan disampaikan," kata Rusdi menjawab pertanyaan wartawan terkait identitas para tersangka, Selasa (6/4/2021).