BKKBN Targetkan Indonesia Bebas Stunting 2030 

Eka
BKKBN Targetkan Indonesia Bebas Stunting 2030 
Kepala BKKBN Hasto Wardoyo (ist)

Jakarta, HanTer - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencanangkan target tinggi Indonesia bebas stunting pada 2030. 

Untuk mewujudkan target tersebut, BKKBN menggandeng dua lembaga nirlaba 1000 Days Fund atau Yayasan Seribu Cita Bangsa dan Yayasan Kesehatan Perempuan. 

Berdasarkan data 2019, jumlah kasus stunting di Indonesia mencapai 29,67 persen. Angka tersebut melampaui standar yang ditetapkan WHO, yakni 20 persen. Bahkan di masa pandemi Covid-19 pada 2020, diprediksi jumlah stunting kembali meningkat. 

Melihat tingginya jumlah stunting, BKKBN yang berkoalisi dengan sejumlah lembaga swasta tersebut, pun mematok target bebas stunting pada 2030. Namun sebelum melangkah jauh, BKKBN mencanangkan target secara bertahap. 

"2019 lalu jumlah stunting di Indonesia 29,67 persen dan di masa pandemi kembali naik menjadi 32,5 persen," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, di Jakarta, Kamis (8/4/2021). 

"Dan bapak Presiden (Joko Widodo -red) meminta agar 2024 ditargetkan turun menjadi 14 persen. Dan mudah-mudahan pada 2030 negeri kita benar-benar bebas stunting," sambung dia. 

Sasaran utama pemerintah melalui BKKBN akan lebih dulu terpusat di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai wilayah terbanyak jumlah stunting di Tanah Air. 

"Kita memulai lebih dulu dari NTT. Minimal empat kabupaten yang ada disana untuk bekerja bersama mitra kami. Semoga praktik-praktik yang kita kerjakan di NTT bisa kita share di tempat lain," ucap Hasto menambahkan. 

Salah satu mitra BKKBN, yakni 1000 Days Fund atau Yayasan Seribu Cita Bangsa yang diwakili Zack Petersen selaku Lead Strategist 1000 Days Fund mengatakan, saat ini jumlah kasus stunting di Indonesia sangat serius. 

Zack menuturkan, perlu aksi nyata untuk 'membasmi' perkembangan stunting di Indonesia. 1000 Days Fund pun mempunyai cara efektif, yakni dengan terjun langsung ke lapangan guna memberikan edukasi dan sosialisasi secara door to door. 

"Kalau mau jaga stunting kita harus fokus berada di desa. Itu lucu banget kalau kita bicara disini namun tidak hadir di desa-desa seperti NTT maupun NTB. Kita harus masuk kerumah-rumah untuk memberi pengetahuan dengan ibu-ibu," kata Zack. 

"Kita harus bertemu langsung dengan ibu-ibu di rumah di desa-desa yang berada di pedalaman sehingga target Indonesia bebas stunting 2030 bisa terwujud," ujarnya menambahkan. 

Sebagaimana diketahui, permasalahan terbesar dalam pengentasan stunting lantaran masih kurangnya edukasi kepada masyarakat. Diantaranya menyangkut gizi seimbang serta faktor kebersihan di dalam lingkungan. 

Hal tersebut dibuktikan dengan tingginya jumlah ibu hamil yang menderita anemia, kondisi yang berisiko tinggi melahirkan anak stunting. Sehingga tak ayal sasaran utama pemerintah langsung menyasar ke tingkat keluarga, terutama kaum hawa.