Soeharto Tumbang Akibat Krisis, Pengamat Yakin Perubahan Terjadi Sebelum 2024

Safari
Soeharto Tumbang Akibat Krisis, Pengamat Yakin Perubahan Terjadi Sebelum 2024
Ilustrasi aksi massa di depan gedung DPR

Jakarta, HanTer - Tokoh nasional Rizal Ramli menilai krisis ekonomi yang kini terjadi lebih parah ketimbang pada 1998. Saat itu, pemerintahan Soeharto yang begitu kuat dan telah berkuasa 32 tahun pun, mundur karena terjangan krisis ekonomi.

"Jangan lupa, saat itu hanya perlu 22 hari sejak Soeharto terpilih kembali menjadi presiden untuk ke tujuh kalinya, dia tumbang. Saya yakin, perubahan akan terjadi sebelum tahun 2024," kata Rizal Ramli. 

Menanggapi pernyataan Rizal Ramli, Direktur Eksekutif Oversight of Indonesia's Democratic Policy, Satyo Purwanto mengatakan, dalam kondisi situasi krisis memang banyak hal yang bisa terjadi. Saat ini banyak negara termasuk Indonesia sedang mengalami kontraksi ekonomi yang luar biasa, dari pengalaman terdahulu perubahan situasi selalu ditriger oleh krisis ekonomi.

"Kondisi ini akan sangat tergantung bagaimana pemerintahan Jokowi dapat mengelola kondisi kritis ini dengan baik dan mampu menemukan solusi logis dengan cepat dan tepat," ujar Satyo Purwanto kepada Harian Terbit, Senin (12/4/2021).

Parah

Satyo memaparkan, bila dibandingkan dengan krisis sebelumnya, krisis ekonomi yang dipicu oleh pandemi Covid-19 memang jauh lebih parah. Pada krisis terdahulu harga berbagai komoditas ekspor saat itu masih menguntungkan yang membuat ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh positif. Namun saat ini Jokowi dan timnya tidak mampu mengendalikan dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19.

"Jokowi bersama timnya sejauh ini dianggap tidak mampu mengendalikan dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19," jelasnya.

Asumsi kegagalan itu, sambung Satyo, di antaranya terkait proses vaksinasi yang masih jauh dari standar yang dirumuskan oleh WHO. Selain itu juga soal kekhawatiran adanya gelombang ketiga Covid-19. Hal itu sangat mempengaruhi strategi pemerintah menghadapi dampak ekonominya.Parameternya adalah beberapa ekonom memprediksi ekonomi Indonesia pada tahun 2021 masih tetap mengalami krisis.

"Beberapa faktor yang memengaruhinya, yaitu besarnya akumulasi defisit APBN, rapuhnya ketahanan fiskal, hingga daya beli masyarakat yang belum juga merangkak naik," tandasnya.

Tiga Presiden 

Direktur Rumah Politik Indonesia (RoI Indonesia), Fernando Ersento Maraden Sitorus juga mengatakan, jika melihat sejarah di Indonesia sudah ada 3 Presiden yang tidak sampai akhir pemerintahannya. Persoalan ekonomi dan politik sering kali menjadi pemicu "dijatuhkan" pemerintahannya di tengah jalan.

"Kalau kita melihat pemerintahan Jokowi saat ini masih kuat. Tapi kalau ekonomi kita memburuk bisa saja dukungan pemerintahan Jokowi yang kuat akan melemah," jelasnya.

Agar tidak jatuh di tengah jalan, Fernando meminta agar Jokowi tidak abai atas prediksi Rizal Ramli terkait kondisi perekonomian yang terjadi di Indonesia. Karena selama ini analisis Rizal Ramli selalu tepat.

Kalau sampai prediksi Rizal Ramli ekonomi Indonesia akan semakin tidak baik, maka bisa saja Jokowi tidak akan sampai tahun 2024 memerintah Indonesia.

Fernando memaparkan, walaupun saat ini komposisi DPR diisi oleh orang - orang Jokowi, namun jika ekonomi tidak membaik seperti prediksi Rizal Ramli, maka akan sangat mungkin kekuatan politik dukungan Jokowi saat ini akan bergeser. Kuatnya dukungan politik saat ini karena keadaan ekonomi Indonesia masih dianggap baik oleh kalangan masyarakat bawah.

"Kekuatan di DPR akan bisa bergeser kalau adanya tuntutan yang besar dari masyarakat," tegasnya.

Tetap Bertahan

Pengamat politik dan pemerhati bangsa, Tony Rosyid mengatakan, dibutuhkan banyak variable untuk menentukan apakah suatu rezim akan jatuh atau bertahan hingga akhir jabatannya. Variable itu tidak saja di dalam negeri, tetapi juga luar negeri untuk menjadi bahan analisis. Selain itu dinamika politik yang tak mudah ditebak, karena bisa begitu cepat naik turunnya. 

"Stabilitas dan instabilitas begitu tipis jaraknya, sehingga sulit untuk memprediksi apa yang terjadi di antara ruang stabilitas dan instabilitas. Banyak analis yang dipengaruhi oleh subyektifitas kepentingan, sehingga tidak obyektif. Akhirnya tidak akurat," jelasnya.

Tony memprediksi, Jokowi akan bertahan hingga 2024. Karena politik saat ini mulai stabil dan ekonomi juga sedang recovery untuk perbaikan yang lebih baik lagi. "Besar kecenderungannya, mengingat politik mulai stabil dan ekonomi sedang recovery," tandasnya. 

Pengamat politik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, secara konstitusional sangat dimungkinkan Jokowi dimahzulkan dari jabatan Presiden Indonesia sebelum perode jabatan habis. Pasal 7A UUD 1945 mengatur sebagai berikut: “Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.”

Terkait di DPR yang diisi oleh orang - orang Jokowi, Aminudin menilai, hal tersebut tergantung momentum dan kemampuan melakukan rekonsolidasi kekuatan seperti 98. Karena Presiden Soeharto kuasai DPR/ MPRI sekitar 70% tapi jatuh juga akhirnya.