Ekonomi Memburuk, Daya Beli Menurun, Rakyat Menjerit

Safari
Ekonomi Memburuk, Daya Beli Menurun, Rakyat Menjerit
Ilustrasi (ist)

Jakarta, HanTer - Ketua Umum Barisan Relawan Nusantara (Baranusa), relawan pendukung Jokowi, Adi Kurniawan setuju dengan pernyataan Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), dr. Ali Mahsun ATMO, yang mengatakan, saat ini daya beli rakyat makin menurun, omset pedagang menurun drastis karena pembeli sepi. Akibatnya, saat ini kondisi rakyat Indonesia yang mayoritas rakyat jelata 
semakin melarat.

"Ini karena pemerintah saat ini gagal dalam menyelamatkan kondisi negara dari situasi krisis," ujar Adi Kurniawan kepada Harian Terbit, Senin (12/4/2021).

Menurutnya, kelaparan bukan hanya sudah di depan mata tapi sudah sangat terasa. Persoalannya saat ini bukan hanya kelaparan saja karena hari ini rakyat hidupnya semakin terancam sehingga ada di antara rakyat yang tidak mampu lagi memiliki tempat tinggal. 

"Di Jakarta itu semakin banyak orang-orang terlantar tidur di jalanan sampai rela mencari nafkah dengan mencat dirinya sendiri (manusia silver). Belum lagi di daerah-daerah lain yang hidupnya masih di daerah pedalaman," paparnya.

Selain Jakarta, sambung Adi, rakyat terlantar juga bisa ditemui di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Padahal daerah tersebut memiliki sumber kekayaan alam yang luar biasa. Sukabumi memiliki sumber laut yang menghasilkan perikanan, sumber pertambangan emas, lumbung pertanian yang subur, memiliki perkebunan, kehutanan, hingga lokasi pariwisata yang indah mulai dari pegunungan hingga keindahan pantainya. "Namun kondisi rakyatnya miskin," paparnya.

Pengangguran

Sementara itu, Ketua Badan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Tarigan Girsang mengatakan, selalu saja sampai saat ini Pemerintah tak punya jurus jitu merespon keadaan dengan cepat dan tepat. Bahkan kalah oleh keadaan, dimana lapangan pekerjaan sangat sulit bagi rakyat kebanyakan.  

Bahkan, lanjutnya, PHK terus terjadi, itulah yang membuat lesunya daya beli masyarakat. "Gimana mau belanja, kalau uang masuk tak ada?," tanya Edysa.

Menurut Edysa, disisi lain pemerintah melakukan politik utang dengan melakukan pinjaman yang nilainya ratusan trilliun. Tapi sayangnya, tidak ada dampak perbaikan hidup bagi kebanyakan rakyat atas hutang yang dilakukan pemerintah tersebut. Kecuali pajak terus naik dan juga harga-harga kebutuhan pokok yang juga naik.

"Mirisnya, pedagang kaki lima dan juga UMKM justru jauh askes terhadap perbankan. Jadi rakyat harus terbiasa dengan penderitaan hidup jika keadaan ini tak diubah," paparnya.

Diketahui dalam sambutan dan pengarahan usai melantik DPW APKLI DKI Jakarta 2020-2025, Sabtu (10/4/2021), Ketua Umum DPP APKLI, dr. Ali Mahsun ATMO, M.Biomed mengatakan, saat ini daya beli rakyat makin menurun, omset pedagang menurun drastis karena pembeli sepi. Lebih dari itu, daya tahan ekonomi PKL atau UMKM sudah pada titik nadir.

“Realitas tersebut tidak boleh dibiarkan terlalu lama dapat akibatkan kelaparan. Dan tatkala massif dan massal bisa timbulkan persoalan sosial yang pada ujung dan akhirnya sulit dikendalikan. Untuk itu, saya minta pelaku UMKM (PKL) perkokoh kebersamaan, saling mendukung dan gotong royong,” jelasnya.