Jika Dipercaya Rakyat Jadi Presiden, Rizal Ramli Siap Bebaskan Habib Rizieq dan Basmi Islamphobia

Safari
Jika Dipercaya Rakyat Jadi Presiden, Rizal Ramli Siap Bebaskan Habib Rizieq dan Basmi Islamphobia

Jakarta, HanTer - Tokoh nasional Dr Rizal Ramli (RR) mengatakan jika dipercaya menjadi presiden Indonesia maka akan membebaskan mantan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) dan aktivis lainnya dari tahanan. 

Saat ini HRS tengah mendekam di tahanan atas tiga kasus yang menjeratnya, yakni, dugaan kerumunan massa di Petamburan, Jakarta dan Megamendung, Bogor serta dugaan pidana menghalangi informasi swab di RS Ummi.

"Kalau ada perubahan kita bebasin semua, Rizieq kita bebasin. Semua kita bebasin. Jadi fokus saja sama perubahan dan perbaikan. Jangan ladenin isu-isu yang tidak penting," ujar Rizal Ramli saat berdialog dengan Bang Arief di chanel YouTube berjudul "Jadi Presiden Rizal Ramli Akan Bebaskan Habib Rizieq dan Basmi Islamphobia" yang dilihat Harian Terbit, Jumat (23/4/2021).

Mantan Menko Kemaritiman era Presiden SBY menyebut, saat ini rezim Jokowi memang sangat piawai memainkan isu Islamphobia. Hal itu dilakukan agar masyarakat Indonesia tidak menanyakan kemampuannya untuk membuka lapangan kerja dan menciptakan kesejahteraan. Padahal membuka lapangan kerja dan menciptakan kesejahteraan sudah diamanatkan dalam UUD 45. 

"(Islamphobia) itu permainan spin. Pemerintah paling jago membuat spin-spin yang tidak jelas, seolah - olah ada upaya," jelasnya.

Utang Menggunung

Rizal memaparkan, masyarakat Indonesia semakin diadu domba. Oleh karena itu secara sengaja dikembangkan isu-isu Islamphobia dengan istilah radikal. Padahal pokok masalah adalah utang yang menggunung dan korupsi yang sudah menjadi budaya. Kedua masalah itu yang harusnya diselesaikan pemeritah saat ini jika dibanding mengatasi istilah radikal.

"Memang betul, di antara umat Islam ada yang jadi teroris. Aparat keamanan atau intelijen juga sudah punya daftar itu semua. Tangkapi aja. Bangsa kita itu moderat dan tidak aneh - aneh," tegas ekonom senior ini.

Ternyata, sambung Rizal, isu Islamphobia secara sistematis dikembangkan terus dengan tujuan fokus masyarakat bisa beralih untuk membicarakan masalah radikal, sehingga tidak meminta pertanggung jawaban di bidang ekonomi. Karena masyarakat tidak akan lagi menanyakan kepada presiden atas kesanggupannya menciptakan lapangan kerja, menciptakan kesejahteraan. 

"Mayoritas masyarakat kita dibuat sibuk ngomogin agama, tidak adil terhadap Islam. Jadi pemerintah berhasil mengalihkan isu. Padahal kita negara Pancasila yang artinya tidak boleh phobia terhadap agama apapun, baik Islam, Budha, Katolik atau agama lainnya," paparnya.

Negara Islam

Rizal mengungkapkan, adanya isu Islamphobia juga dipakai sebagai alat mobilisasi finansial, karena taipan-taipan paling takut jika Indonesia menjadi negara Islam. Oleh karena itu semakin banyak isu yang dikembangkan dari Islamphobia maka akan semakin banyak sumbangan dari taipan.

"Ditariknya itu sumbangan dari taipan. Islamphobia diijadikan proposal untuk membiayai," tandasnya.

"Padahal Indonesia jadi ISIS atau negara Islam itu tidak mungkin. Nah para taipan mau nyumbang untuk mengampanyekan ini. Akibatnya negara kita tidak fokus," paparnya.

"Makanya nanti kalau ada perubahan kita bebasin semua, Rizieq kita bebasin. Semua kita bebasin. Jadi fokus saja sama perubahan dan perbaikan. Jangan ladenin isu isu yang tidak penting," tambahnya.

Sementara apakah Jokowi akan bertahan hingga 2024 mengingat banyak permasalahan seperti korupsi, utang dan lainnya yang dihadapinya, secara diplomatis Rizal mengatakan, pada bulan April 1998, semua elit yakin Soeharto tidak akan jatuh dari posisinya sebagai presiden. Karena waktu itu Soeharto baru terpilih sebagai presiden kembali.

"Ternyata satu bulan berikutnya jatuh karena Soeharto tidak menduga dampak dari krisis ekonomi.  Selain tidak mengerti bahwa Amerika mengalami perubahan, yang awalnya senang banget sama Soeharto tapi Clinton sudah tidak senang sama Soeharto. Itu terjadi perubahan geo poltik," jelasnya.

Rizal menilai, kejadian yang dialami Soeharto tahun 1998, sama persis dialami juga oleh Jokowi. Para kroni Jokowi meremehkan (underestimate) dengan krisis ekonomi. Selain itu saat ini juga terjadi juga geo poltik, yang awalnya presiden AS Donald Trumph terbuka sama China, namun setelah diganti Joe Biden kebijakan terhadap China berubah.

"Biden yang tidak suka China. Biden menganggap Indonesia pro China. Khan Kelihatan sekali, lagi Covid-19, tenaga kerja dari China bebas masuk Indonesia. Ini kan yang benar saja. Australia yang awalnya tidak berani sama China karena jualannya banyak banget, sekarang perdana menterinya mulai berani. Dan itu akan punya pengaruh terhadap dalam negeri," paparnya.