DPR Sebut Tragedi Nanggala Akibat Gagal Perbaikan 2012, Kasal: Faktor Alam

Harian Terbit/Safari
DPR Sebut Tragedi Nanggala Akibat Gagal Perbaikan 2012, Kasal: Faktor Alam

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan, KRI Nanggala-402 tenggelam terjadi bukan karena terjadi "human error" (kesalahan manusia).
 
"Saya berkeyakinan ini (tenggelamnya KRI Nanggala) bukan karena 'human error' tapi lebih pada faktor alam," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono saat konferensi pers di Base Ops Lanud Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu.
 
Sementara itu, anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin menduga tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 di perairan Bali karena kegagalan retrofit atau pada saat perbaikan pada tahun 2012.

"Saya menduga pada hasil perbaikan ini ada hal-hal atau konstruksi yang tidak tepat sehingga KRI Nanggala 402 tenggelam. Ini sangat disayangkan," kata Hasanuddin dalam keterangan resminya, Minggu (25/4), dilansir CNNIndonesia.

Selain itu, Hasanuddin juga menyoroti jumlah kru KRI Nanggala 402 saat kejadian yang melebihi kapasitas. Menurutnya, jumlah kru maksimal kapal selam itu mestinya hanya 38 orang. 

Diketahui, KRI Nanggala membawa 53 awak saat diberitakan hilang kontak pada Rabu (21/4) lalu. "Artinya kelebihan beban 15 orang. Ada apa kok dipaksakan? Saya juga mendapat informasi bahwa saat menyelam KRI Nanggala 402 diduga tak membawa oksigen gel, tapi tetap diperintah untuk berlayar," kata dia.

Investigasi

(Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono menjelaskan, untuk proses investigasi akan dilakukan setelah proses pengangkatan KRI Nanggala-402 selesai dilakukan. Kata dia menegaskan bahwa kapal tenggelam bukan terjadi karena human error. Hal ini dipastikan karena saat proses menyelam itu sudah melalui prosedur yang benar.
 
Selain itu, kata Kasal bahwa saat menyelam juga diketahui lampu kapal masih menyala semua. Hal ini berarti tidak terjadi blackout, namun saat menyelam, kontak dari kapal langsung hilang dan nantinya akan diinvestigasi.
 
Ia menambahkan bahwa pada Tahun 2012, KRI Nanggala overhaul di Korea, setelah di Indonesia sudah dilaksanakan tingkat perbaikan. Baik dari pemeliharaan menengah hingga pemeriksaan rutin. Kata dia, sebelumnya KRI Nanggala sudah sempat berlayar dan latihan pada 12 April 2021 melaksanakan latihan penembakan torpedo.
 
"Sehingga sudah dinyatakan bahwa kapal ini layak untuk melaksanakan berlayar dan bertempur sehingga kami proyeksikan untuk melaksanakan latihan penembakan torpedo kepala latihan maupun kepala perang," katanya dilansir Antara.
 
Yudo Margono memastikan, KRI Nanggala-402 tak melebihi kapasitas saat beroperasi sebelum dinyatakan tenggelam di perairan utara Pulau Bali.

"Sebenarnya mampu, kemarin 53 awak. 53 masih masuk dalam kapasitas memuat orang," kata Yudo dalam konferensi persnya, Minggu (25/5).
Yudo menjelaskan bahwa kapal tersebut mampu membawa 57 awak dalam pelaksanaan tugasnya.

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan bahwa 53 prajurit terbaik yang berada dalam KRI Nanggala-402 telah gugur dalam penugasan di perairan utara Bali.
 
Ia mengatakan bahwa KRI Nanggala-402 dinyatakan telah tenggelam dan seluruh awaknya telah gugur diperkuat dengan penemuan bukti-bukti otentik berupa bagian kapal selam setelah dilakukan pemindaian secara akurat.

#KRI   #nanggala   #polri   #tni