Anggota DPR PKS Ungkap Pandemi Berdampak Pada Keluarga

Danial
Anggota DPR PKS Ungkap Pandemi Berdampak Pada Keluarga
Anggota Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati dalam Sosialisasi Advokasi dan Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja, di wilayah Jakarta Selatan, Sabtu (1/5/2021).

Jakarta, HanTer - Dalam rangka memberikan informasi yang lebih luas kepada masyarakat tentang membangun keluarga yang berkualitas, DPR bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyelenggarakan Sosialisasi Advokasi dan Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja, di wilayah Jakarta Selatan, Sabtu (1/5/2021).

Anggota Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati mengatakan pihaknya bersama BKKBN akan membangun konsep keluarga yang berkualitas dan penuh dengan perencanaan. Selain itu, pihaknya juga akan fokus menuntaskan persoalan stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita di Indonesia. Dimana Pandemi Covid-19, juga berdampak pada keluarga di Indonesia, sehingga berpengaruh pada tingginya angka stunting. 

"Kita berharap masyarakat bisa support terhadap visi dari BKKBN ini, untuk membangun keluarga-keluarga yang berkualitas. Karena keluarga yang berkualitas ini sangat penting sekali perannya, apalagi ditengah pandemi Covid-19 ini," ujar Mufidayati kepada wartawan di Jakarta, Minggu (2/4/2021).

Dijelaskan politisi PKS ini, pandemi sangat berdampak pada keluarga Indonesia, baik dampak terhadap ketahanan sosialnya, ketahanan ekonominya, dan ketahanan pangannya. Nah ketahanan pangan ini sangat penting untuk mencegah terjadinya stunting, supaya gizi anak tetap terjaga.

Lebih lanjut dirinya juga mengimbau kepada masyarakat, untuk berkolaborasi bersama-sama mewujudkan keluarga yang berkualitas. Nantinya, keluarga Indonesia akan mampu bersaing dengan negara-negara lain, jika memiliki SDM yang berkualitas.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Plt. Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi BKKBN, Dwi Listyawardani menegaskan bahwa tahun ini pihaknya akan melakukan upaya ekstra untuk menekan angka stunting, yang akan dimulai dari level paling bawah atau tingkat Rukun Warga (RW). Dimana mulai dari pendampingan pada calon pengantin, ibu hamil, ibu habis melahirkan, termasuk anak balita dibawah dua tahun (Baduta).

"Terutama kalau anak baduta itu stunting, kurang gizi. Angka stunting nasional sekitar 27%. Kalau DKI sudah dibawah 20% sekitar 17%. Stanting itu masalahnya bukan hanya kurang gizi, tapi kecerdasannya juga terancam. Kasihan anaknya ga bisa sekolah dengan maksimal, gangguan kesehatan jadi mudah sakit, sampai tuanya juga bisa mudah sakit," ujarnya.