Epidemiolog: Kita Tidak Siap Hadapi Covid Gelombang 2

Safari
Epidemiolog: Kita Tidak Siap Hadapi Covid Gelombang 2
Ilustrasi

Jakarta, HanTer-- Gelombang penularan Covid-19 yang kembali "mengganas". Pemerintah ataupun masyarakat Indonesia perlu waspada. Jangan sampai gelombang kedua, yang lebih ganas juga terjadi di nusantara.

Epidemiolog Griffith University Australia, Dr Dicky Budiman mengatakan, untuk konteks Indonesia tidak siap menghadapi gelombang kedua Covid-19. Saat ini Indonesia masih masuk gelombang pertama Covid-19 yang puncaknya korbannya jauh lebih besar. Masalahnya Indonesia masih di gelombang pertama dengan beberapa puncak dan saat ini stabil dalam beberapa kasus yang belum memadai. Sehingga kasus yang tidak terdeteksi Covid-19 itu menumpuk. 

"Ini artinya pandemi kita tidak terkendali. Adanya cluster-cluster sekarang itu hanya sebagian kecil dan itu hanya pengumuman cluster saja, belum pada penyelesaian cluster," ujar Dr Dicky Budiman kepada Harian Terbit, Minggu (2/5/2021).

Dicky menyebut, tidak terkendalinya penanganan Covid-19 yang membuat Indonesia semakin rawan karena penularannya terjadi tanpa dapat dikendalikan dan ketahui. Hal itulah yang disebut fenomana gunung es, dimana dibawah itu jumlah penderitanya sangat besar. Sehingga pada suatu saat ada titik jenuh dimana usia muda yang tidak terlihat gejala terkena Covid-19. Akibatnya bisa menyebar ke yang paling awal.

"Ini lah yang disebut bom waktu meledak. Karena seperti ibarat api menyambar rumput kering. Jadi kesakitan dan kematiannya meningkat tajam dan jelas kelihatan," paparnya.

Dicky mengakui, Menkes kali ini memang lebih agresif menangani Covid-19 dibanding Menkes sebelumnya. Namun yang dilakukannya belum memadai. Karena agresif saja ketika penanganannya tidak kuat, tidak konsisten maka tidak akan berdampak signifikan. Contohnya, testing terhadap Covid-19, ternyata faktanya testing belum ada penguatan testing yang dilakukannya. 

"Jadi agresif dalam respon dan komunikasi cukup baik tapi strategi belum ada perubahan signifikan," paparnya. 

Ia menilai, strategi memutus mata rantai penularan juga tidak cukup lagi hanya dengan 3M, mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker. Akan tetapi harus 5M. Ada penambahan 2M, yakni membatasi interaksi dan menjauhi kerumunan. Kombinasi 3T atau testing, tracing dan treatment juga harus terus dipacu oleh Pemerintah. Jika tidak, kata dia, Indonesia akan menjadi ladang subur penularan Covid-19. Termasuk mutasinya.

“Memang gelombang pertama kita ini belum selesai sampai saat ini,” kata Dicky.

Bakal Terjadi

Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono mengatakan, saat ini Indonesia sedang menunggu gelombang kedua Covid-19. Karena lambat atau cepat gelombang kedua Covid-19 pasti bakal terjadi di Indonesia. Oleh karena itu saat ini masyarakat Indonesia sedang menunggu gelombang kedua Covid-19. Yang diharapkan dampaknya tidak seperti yang terjadi di India.

"Ya tinggal kita tunggu saja (gelombang kedua Covid-19), masyarakat dan pemerintah harus easpada," ujar Pandu Riono kepada Harian Terbit, Minggu (2/5/2021).

Pandu meyakini Indonesia bisa mengatasi Covid geombang kedua.  Cara terbaik mengatasi pandemi Covid-19 di Indonesia, yaitu mengurangi laju penularan melalui pendekatan berbasis mikro.

Selain itu lakukan dan Tes - Lacak - Isolasi secara yang agresif dan masif bagi orang - orang yang terpapar Covid-19. Sehingga penyebaran virus Corona tidak semakin meluas ke masyarakat yang lain. 

Prokes

Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo mengingatkan protokol kesehatan (prokes) dalam pencegahan Covid-19 tetap merupakan kewajiban mutlak untuk menjaga Indonesia dari pandemi Covid-19.

Seluruh elemen masyarakat Indonesia diharapkan untuk tidak ber-euforia dengan vaksinasi, berkaca dari terjadinya gelombang kedua Covid-19 di India. 

“Karena India dan Indonesia hampir mirip. Sehingga, pemerintah maupun masyarakat Indonesia harus belajar dari India yang ternyata sempat abai terhadap protokol kesehatan dengan klaim sudah mencapai herd immunity,” ujar Rahmad, Kamis (29/4).

Sementara pada Minggu (2/5/2021) Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan kasus positif Covid-19 mencapai 1.677.274 orang, kasus sembuh 1.530.718 orang, dan kasus meninggal 45.796 orang.  Kasus aktif tercatat naik 510 menjadi 100.780, spesimen yang diperiksa mencapai 39.958, sedangkan suspek tercatat sebanyak 73.065 orang.