Di Era Jokowi Tuduhan Radikal Terhadap Umat Islam Makin Masif dan Berani

Alee
Di Era Jokowi Tuduhan Radikal Terhadap Umat Islam Makin Masif dan Berani
Din Syamsuddin

Jakarta, HanTer - Tuduhan dan penyematan radikalisme terhadap umat Islam di Indonesia belakangan ini gencar dilakukan. Padahal tuduhan itu jelas tidak tepat dan mengada-ada. Bahkan tuduhan terhadap umat Islam lewat sejumlah figur yang dilakukan sangat gencar tidak beralasan dan kebablasan. 

Tuduhan-tuduhan itu tidak tepat dan mengada-ada. Seandainya umat Islam radikal atau penganut radikalisme (khususnya politik) maka tidak akan ada Negara Pancasila. Demikian rangkuman hasil wawancara Harian Terbit dengan tokoh Islam Prof. Dr. M. Din Syamsuddin pada Kamis (6/5/2021).

Menurut Guru Besar Politik Islam FISIP UIN Jakarta ini, pada Era Jokowi tuduhan radikal terhadap kalangan Islam terkesan berlangsung sistematis, masif, terstruktur, dan berani. Bahkan, tuduhan-tuduhan itu dilakukan oleh orang perorang yang dengan sombong dan berani menghina dan menistakan lambang-lambang Islam. 

Sayangnya, kata Din, terhadap pelakunya negara tidak selalu hadir, bahkan terkesan tidak adil. Ada yang mencurigai dengan patut menduga bahwa tuduhan radikal terhadap kalangan Islam itu merupakan bagian dari sebuah operasi yang menggunakan muzzling approach atau pendekatan membungkam lawan. 

“Tidak bisa dilepas dari asumsi ini bahwa tuduan radikal yang juga diarahkan kepada figur-figur kritis terhadap penyelenggaraan negara adalah bagian dari pada mekanisme pengamanan diri (self defence mechanism) kaum oligarkis baik politik maupun ekonomi agar tetap menguasai,” katanya.

Kaum olighar ini, lanjut Din, mengendalikan dengan membiayai para buzzer yang bertugas melakukan character assasination terhadap figur-figur umat Islam. Mereka berani dan bebas bergerak karena mendapat pengamanan dari aparatur negara (buktinya mereka tidak pernah terjerat hukum padahal sudah diadukan).

Saat ditanya bagaimana umat Islam menghadapi tuduhan itu? “Tenang saja. Biar mereka berulah. Lihatlah sambil tertawa. Tentu sambil meyakini dan berdoa "wamakaru wamakarallah, wallahu khairul makirin" (mereka merekayasa dan Allah merekayasa. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik perekayasa).

“Hal itu mutlak perlu disertai dengan tekad semua elemen umat Islam untuk bersatu dengan menghilangkan egoisme kelompok, sambil menahan diri dan tidak terjebak ke dalam hasutan atau provokasi untuk terlibat dalam tindak kekerasan. Karena kelompok-kelompok penuduh itu sebenarnya tidak mengamalkan Pancasila maka umat Islam justeru perlu tampil mengawal Pancasila dan UUD 1945 yg telah disepakati oleh para pendiri negara,” paparnya.

Din menilai tuduhan radikal terhadap umat Islam bersifat kontra produktif dan akan menjadi boomerang bagi pelakunya. Menurut Din, Jika tuduhan demikian tidak segera dihentikan maka terdapat dua kemungkinan. Pertama, ada dari kalangan Islam yang akan melawan dalam rangka pembelaan diri secara radikal pula (cara radikal dilawan dengan cara radikal).

Kedua, kekuatan politik dan sosial Islam akan bersatu dengan dukungan massa luas yg akan tampil mengawal Negara Pancasila dan mengenyahkan kelompok-kelompok penuduh radikal yg hanya bertopeng pada Pancasila.

Musuh Politik

Lebih lanjut Din menyebut, tuduhan radikal terhadap umat Islam adalah gerak politik dari "musuh politik umat Islam". Gerak politik ini dapat didorong oleh beberapa sebab. Pertama, hal ini boleh jadi karena ketakutan terhadap kebangkitan umat Islam sehingga mereka memandang perlu melakukan preemptive action atau aksi yang mendahului. Ini adalah cara yang sering dilakukan oleh Kaum Komunis. 

Kedua, tuduhan itu dilakukan dalam rangka mematikan langkah kelompok Islam dalam arena politik, sehingga mereka dapat berkuasa atau melanggengkan kekuasaan. Kelompok ini sebenarnya takut terhadap potensi besar umat Islam dalam politik, tapi mereka juga mengetahui cara untuk melemahkannya. 

Ketiga, tuduhan itu merupakan bagian dari skenario global yang bersekongkol dengan komrad-komradnya di dalam negeri yang sama-sama khawatir akan kebangkitan gerakan populisme Islam di Indonesia. Cara yg biasa mereka lakukan adalah politik kolonial divide et empera atau politik adu domba. Memang kelemahan umat Islam adalah sulit bersatu.

Yang jelas tuduhan radikal terhadap umat Islam dapat ditengarai datang dari kelompok-kelompok yang memiliki kekuasaan (the ruling groups) sehingga merasa mampu dan perlu menggembosi kekuatan umat Islam.  

Hal ini dapat terlihat dalam bentuk penuduhan yang berujung pada penangkapan dan pemenjaraan. Juga ada modus lain yaitu menjerat figur-figur tertentu dengan alasan-alasan yang absurd. 

“Hal ini pernah terjadi pada Era Soekarno dengan dipenjarakannya sejumlah tokoh Islam. Pada Era Orde Baru, kalangan Islam dituduh sebagai Ekstrim Kanan dan Anti Pancasila, walau Pemerintah Orde Baru kemudian sadar bahkan Soeharto menampilkan pembelaan terhadap umat Islam,” ungkap Din.