MK Panggil MAKI Terkait Gugatan TWK KPK

Safari

Jakarta, HanTer - Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) mengaku telah dipanggil Mahkamah Konsitusi (MK) untuk mengikuti sidang pendahuluan pada tanggal 21 Juni 2021 mendatang. Pada sidang yang akan dihelat pada pukul 13.30 WIB tersebut, MAKI akan menjalani sidang perkara register nomor : 25/PUU-XIX/2021 terkait Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) alih pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi  KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

 

"Kami gembira dikarenakan MK sangat cepat melakukan prosesnya untuk segera bersidang," ujar Koordinator MAKI, Boyamin Saiman di Jakarta, Jumat (11/6/2021).

 

Boyamin memaparkam, untuk mengimbangi proses di MK, maka MAKI telah menyiapkan saksi, saksi ahli dan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk memperkuat permohonan dengan maksud tidak ada pemecatan pegawai KPK akibat tidak lulus TWK.

 

"Disisi lain, Kami juga menyambut gembira Wadah Pegawai KPK yang tidak lolos TWK yang juga telah ikut mengajukan permohonan uji materi revis Undang Undang KPK Nomor 19 tahun 2019," jelasnya.

 

Boyamin menuturkan, dengan majunya Pegawai KPK yang tidak lolos TWK maka akan sangat memperkuat Permohonan Uji Materi di MK dikarenakan dirugikan secara langsung oleh TWK. Oleh karena itu MAKI akan bersinergi dengan pagawai KPK tersebut untuk saling mendukung dengan tujuan dikabulkannya uji materi tersebut oleh MK.

 

Boyamin mengungkapkan, berdasar pertimbangan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 70/PUU-XVIII/2019 yang telah dibacakan pada tanggal 4 Mei 2021 menyatakan proses peralihan pegawai KPK menjadi ASN tidak boleh merugikan Pegawai KPK, namun nyatanya saat ini Pimpinan KPK berlawanan dengan pertimbangan putusan MK tersebut yaitu hendak memberhentikan 51 Pegawai KPK yang berstatus "merah" dan "tidak bisa dibina lagi".

 

"Atas dasar polemik tersebut, MAKI telah mengajukan uji materi ke MK dengan maksud menjadikan Pertimbangan Putusan MK menjadi lebih kuat dan mengikat dengan cara Pertimbangan Putusan menjadikan Amar Putusan Mahkamah Konsitusi. Kalau dulu hanya berupa Pertimbangan, maka nantinya akan menjadi Putusan akhir dari produk MK," tandasnya.

 

Adapun pertimbangan Putusan MK terkait peralihan pegawai KPK menjadi ASN tidak boleh merugikan KPK, sambung Boyamin, dikuatkan menjadi amar putusan dengan cara menguji :

Pasal 24 dan Pasal 69C UU No 19 tahun 2019 ( UU Revisi KPK ).

 

1. Pasal 24 Ayat ( 2 ) ( 3 ) :

(2) Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan anggota korps Profesi Pegawai ASN Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. penyempurnaan penyebutan .

(3) Ketentuan mengenai tata cara pengangkatan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

2. Pasal 69C :

Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Pegawai

Komisi Pemberantasan Korupsi yang belum berstatus

sebagai pegawai aparatur sipil negara dalam jangka

waktu paling larna 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-

Undang ini mulai berlaku dapat diangkat menjadi

pegawai aparatur sipil negara sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan.

 

Pasal pasal tersebut dimintakan kepada MK berupa pemaknaan sebagai berikut :

 

1. Ketentuan pasal-pasal tersebut bertentangan dengan UUD 1945 sepanjang tidak dimaknai peralihan menjadi ASN tidak boleh merugikan hak pegawai KPK untuk diangkat menjadi ASN dengan alasan apapun;

 

2. Pegawai KPK tidak boleh diberhentikan sepanjang tidak melanggar hukum berdasar putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap dan atau tidak melanggar etik berat berdasar putusan Dewan Pengawas KPK.

 

Boyamin mengakui, setelah mengajukan permohonan uji materi ke MK, maka selanjutnya telah meminta kepada KPK, BKN dan KemenPAN-RB tidak melakukan upaya pemberhentian 51 Pegawai KPK sebelum ada putusan MK dan meminta kepada 75 pegawai KPK yang tidak lulus TWK untuk menjalankan tugas dan wewenangnya secara penuh sebagaimana sebelumnya.

 

"Semoga MK mengabullan permohonan uji materi ini," harapnya.

#Maki   #mk   #kpk   #twk