PPKM Mikro Diperpanjang, Tempat Ibadah Ditutup Dua Pekan, Mall Tutup Jam 21.00
Foto : Istimewa

Jakarta, HanTer - Pemerintah kembali menperpanjang masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro. Kali ini perpanjangan PPKM Mikro berlaku pada 15-28 Juni 2021. Salah satu aturan yang dalam perpanjangan PPKM kali ini, tempat ibadah di zona merah akan ditutup selama dua pekan.

"Beribadah di tempat publik atau beribadah di tempat-tempat ibadah khusus di daerah merah ditutup dulu untuk dua minggu. Umat beragama di zona merah beribadah di rumah masing-masing," ujar Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin (14/6/2021).

"Daerah zona merah antara lain Kudus, Bangkalan dan daerah-daerah merah lainnya, instruksi Mendagri-nya akan diterbitkan," lanjutnya.

Airlangga menjelaskan perkantoran hanya boleh diisi 25 persen karyawan. Perusahaan wajib membuat jadwal rotasi karyawan yang ke kantor dan bekerja di rumah. 

Selain itu, pemerintah juga mewajibkan sekolah di zona merah menggelar pembelajaran jarak jauh (PJJ). Aturan lain mengenai tempat umum merujuk pada aturan PPKM Mikro sebelumnya. Misalnya, pusat perbelanjaan tetap dibatasi hingga 21.00 dengan penerapan protokol kesehatan ketat.

Kewaspadaan

Sementara Juru Bicara Covid-19, Wiku Adisasmito meminta pemerintah tingkat kabupaten/kota meningkatkan kewaspadaannya untuk upaya antisipasi penyebaran Covid-19. Perlu evaluasi pengendalian lebih lanjut, dan koordinasi dengan tenaga kesehatan setempat untuk merumuskan solusi pengendalian efektif sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing daerah.

"Saya juga meminta pemerintah provinsi untuk mulai memikirkan strategi untuk memperbaiki perkembangan kasus di wilayah tanggungjawab masing-masing maupun mempersiapkan rencana antisipatif, khususnya daerah yang berbatasan langsung dengan daerah yang sedang mengalami kasus dan mengalami perubahan ke zona risiko yang lebih buruk," ujarnya.

Micro Lockdown 

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko menilai penerapan micro lockdown di Jakarta perlu diperluas. Apalagi DKI selama ini telah menerapkan PPKM Mikro untuk memutus penularan Covid-19.

"Ya bayangkan saja, kalau lockdown di tingkat RT, dalam satu RW ada RT yang tidak di-lockdown. Itu sangat tidak efektif," kata Miko terkait meningkatnya kasus Covid-19 di DKI beberapa waktu terakhir, Senin (14/6/2021).

Perluasan, kata Miko, juga perlu dilakukan jika penularan terjadi di beberapa RW dalam satu kelurahan. Menurutnya, micro lockdown yang hanya diterapkan di RW-RW yang terpapar juga tidak efektif.

"Kalau penyebarannya kasus Covid itu di semua RW berantakan, menurut saya lockdown atau PPKM di tingkat RW tidak efektif. Harus diperluas lagi menjadi lockdown atau PPKM tingkat kelurahan atau tingkat kecamatan begitu," jelasnya.

Miko menyatakan penerapan micro lockdown yang diperluas itu juga merupakan salah satu opsi yang bisa diambil, ketimbang menerapkan PSBB. Sebab, kata dia, penerapan PSBB bisa berpengaruh pada sejumlah sektor.

"Dampaknya pertokoan pada tutup kemudian, economic lose-nya harus dihitung. Jadi menurut saya bisa diturunkan di tingkat kecamatan atau kelurahan yang kasusnya benar benar banyak, yang jadi problem penularan," ucap dia.

Lebih lanjut, terkait dengan melonjaknya kasus Covid-19 di Jakarta, Miko menduga terjadi karena varian baru Covid-19. Ia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) untuk memastikan hal tersebut.

Tokoh Masyarakat

Terpisah, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono menilai tidak efektifnya penerapan PPKM Mikro lantaran Pemprov yang tidak bisa menggandeng tokoh-tokoh masyarakat di lingkup terkecil.Menurutnya, orang-orang itu seharusnya digandeng sebagai perpanjangan tangan untuk mengkampanyekan soal protokol kesehatan.

"Kalau itu bisa dilakukan Pemda DKI maka insyaAllah kita bisa mengerem. Rem darurat itu bagaimana mampu menggaet masyarakat di lingkungan. Misalkan pak Lurah ngomong nggak didengerin, tapi pak RT ngomong langsung diturutin, itu contohnya," kata Gembong.