Sangat Sulit Jokowi Jatuh di Tengah Jalan
Foto :

Jakarta, HanTer - Pengamat politik Syamsudin Alimsyah menegaskan, tidak ada yang tidak di dunia ini, termasuk soal kejatuhan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di tengah jalan atau jabatannya tidak sampai bertahan hingga 2024. Namun, kemungkinan Jokowi jatuh di tengah jalan sangat kecil mengingat posisi mayoritas dukungan parlemen melebihi 90  persen. 

 

"Tapi dulu Soeharto kan juga awalnya penguasa suara di DPR dan MPR. Bedanya demgan Soeharto, sekarang ini (Jokowi) berdasarkan survey kepuasan publik juga masih tinggi di atas 60 persen," ujar Syamsudin Alimsyah kepada Harian Terbit, Senin (21/6/2021).

 

Peniliti senior Komite Pemantau Legislatif (KOPEL) ini menegaskan, semua tetap harus hati - hati dalam kondisi politik saat ini. Hati yang dimaksud adalah harus bekerja secara baik, tidak malah sebaliknya yakni semakin memperlihatkan kinerja yang berlawanan harapan publik. Karena imbasnya bisa membuat publik semakin tidak percaya kepada pemerintah.

 

Syamsudin mengakui, saat ini banyak kebijakan pemerintah yang berlawanan dengan harapan publik. Karena bukan hanya soal rencana pajak untuk sembako, dan pendidikan yang secara nyata melawan konstitusi. Bahkan secara umum di era sekarang ini demokrasi sudah berjalan mundur,  terutama dalam isu kebebasan berekspresi dan penegakan hukum. Karena saat ini KPK juga dibongsai.

 

"Publik juga mulai menaruh curiga Jokowi bagian dibalik pelemahan KPK. Indikasi itu mulai dari Revisi UU KPK, pembentukan pansel KPK yang dulu disemprot publik hingga sandiwara dalam kasus TWK 75 pegawai KPK. Dan sekarang ini akan dihidupkan lagi pasal penghinaan Presiden," jelasnya.

 

"Tapi Jokowi masih bisa aman karena sukses merawat dulungam mayoritas parpol dan parlemen," tambahnya.

 

Syamsudin yang dikenal Ustadz Demokrasi ini mengungkapkan, pada dasarnya ada dua hal yang membuat Jokowi bisa bertahan, yakni, dukungan parlemen dan publik. Terlepas dukungan publik itu adalah dengan kerja ssitematis para buzzer, tapi survey sekarang memang menunjukkan kepuasan atas kinerja Jokowi masih bagus. Namun demikian sekali waktu kondisi saat ini sangat dinamis bergerak cepat. 

 

"Saya memberi contoh kasus Soeharto, yang sebenarnya juga secara dukungan parlemen malah lebh kiat. Kala itu Soeharto sangat dipuja. Tapi hanya beberapa bulan kemudian warga protes dan berhasil dilengserkan karena arah politik di parlemen berbalik," paparnya.

 

Syamsudin mengungkapkan, Parpol saat ini pragmatis. Pemilu semakin dekat. Di satu sisi ada banyak kebutuhan termasuk operasional yang diperlukan parpol.  Sayangnya selama Covid-19, pundi - pundi bantuan untuk warga melemah. Terutama dari swasta karena satu - satunya merapat ke pemerintah.

 

Dalam Program Obrolan Bang Ruslan bertajuk "Menanti Kejutan Pilpres" yang diselenggarakan Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (15/6/2021) lalu,pemerhati politik dan kebangsaan, Rizal Fadillah berpendapat, setidaknya ada lima kemungkinan yang bakal menjadi kejutan menjelang pilpres mendatang. "Ada lima kemungkinan nanti timbulnya kejutan," kata Rizal Fadillah saat menjadi pembicara 

 

Dia menguraikan, kejutan pertama dimungkinkan adalah Joko Widodo tidak jadi Presiden lagi hingga tahun 2024. "Bisa saja Jokowi selesai sebelum 2024. Karena beberapa faktor," ujar Rizal Fadillah.

 

Misalnya, sambung dia, beberapa penyumbang bisa jatuhnya Jokowi di tengah jalan antara lain, faktor ekonomi, investasi mandek, pertumbuhan ekonomi yang minus menyebabkan krisis.

 

Di sisi lain, penegakan hukum yang masih terdapat diskiriminasi, serta persoalan politik oligarkis yang bisa menimbulkan gejolak, bisa menambah faktor jatuhnya Jokowi.

 

"Kalau faktor-faktor itu terjadi, Jokowi harus hand out, kalau tidak mundur atau dimundurkan," kata Rizal Fadillah.

 

Potensi kejutan besar yang kedua, berkaitan dengan munculnya nama-nama sosok yang digadang menjadi capres seperti Puan Maharani, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan. Namun, nama-nama ini dianggap bukanlah perpanjangan tangan dari Presiden Joko Widodo.

 

"Nah, jika tidak terjadi kejutan pertama, artinya Jokowi masih berkuasa hingga Pilpres 2024. Bisa saja dia maju namun sebagai calon wakil presiden dimana Ganjar Pranowo akan menjadi capresnya. Itu untuk menjaga kelanjutan kekuasaan. Ini bisa jadi kejutan kedua," ujarnya.

 

Kemudian kejutan ketiga yakni soal kemungkinan Prabowo Subianto untuk kembali diusung maju bergandengan dengan Puan Maharani. Dalam hal ini, elektabilitas Puan Maharani akan menjadi PR besar untuk terus ditingkatkan.

 

"Dan jika tidak kunjung naik, bukan tidak mungkin yang maju adalah ibunya yaitu Megawati Soekarnoputri berpasangan dengan Prabowo. Apakah Mega-Prabowo atau Prabowo-Mega, itu kan bisa saja dan itu akan berpotensi menjadi hal yang mengejutkan dalam politik," kata Rizal Fadillah.

 

Sedangkan kejutan keempat yakni kemungkinan Jokowi untuk mempertahankan kekuasaan untuk bisa menjadi tiga periode. Hal ini memang sudah digaungkan dimana ada isu mengenai amandemen konstitusi.

 

"Bisa saja dipaketkan di situ. Kebetulan koalisi saat ini masih bagus, jadi itu bisa terjadi. Itu juga kejutan," sebutnya.

 

Dan kejutan kelima atau yang terakhir, yakni munculnya kejutan oposisi yang didasarkan pada tingkat elektabilitas yang tinggi. "Sebut saja tokoh yang muncul seperti Anies yang elektabilitasnya bagus, kemudian dipasangkan dengan AHY. Atau Anies-Airlangga yang bisa diusung oleh Partai Nasdem dan Partai Golkar. Atau misalnya Anies-Gatot. Karena dari kalangan militer, Gatot saat ini tertinggi elektabilitasnya," ucap Rizal Fadillah.