Ada Oknum Lingkaran Jokowi Terus Memelihara Manajemen Konflik
Foto :

Jakarta, HanTer - Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Herryansyah.S Sos MBA merasa sedih melihat Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo) dan pemerintah seperti 'ngos-ngosan' berjalan sendirian berusaha keras menelurkan berbagai kebijakan memerangi COVID-19.

Namun di sisi lain, kata Herryansyah, Rabu, ada oknum-oknun di lingkarannya yang tidak ada sense of crisis (peka terhadap krisis), dan terus memelihara "manajemen konflik dan buying time (mengulur waktu)" untuk menciptakan tembok jarak presiden dengan tokoh Islam baik ulama, kyai, habaib, dan ajengan, dibanding menyatukan di antara mereka bersama, di tengah berpacunya waktu hadapi keganasan pandemi.

Menurutnya, untuk menghadapi pandemi COVID-19 dibutuhkan kerja sama yang harmonis antara umaro dan ulama serta elemen masyarakat lainnya, sehingga lebih efektif dalam penanganannya.

Untuk hadapi pandemi COVID-19 perlu merajut rekonsiliasi hubungan dengan para tokoh-tokoh muslim ulama, kyai, habaib, tengku, ajengan berbasis kultural yang selama ini dianggap berseberangan dengan pemerintah.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengajak semua lapisan masyarakat terutama dari kalangan tokoh dan aktor politik, kompak dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Dia mengimbau agar seluruh elemen bangsa mendukung kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang masa berlakunya diperpanjang hingga 25 Juli 2021.

Dilamsir Antara, Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR itu mengatakan, ajakannya tersebut tidak hanya ditujukan kepada para elite politik di luar pemerintahan, tapi juga kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pemerintahan di pusat maupun daerah agar lebih kompak dalam menjalankan fungsi-fungsi pemerintahannya.

Basarah menilai ironis jika orang-orang di dalam pemerintahan tidak kompak mengatasi pandemi COVID-19 termasuk dalam penyampaian komunikasi publik.