Dinilai Janggal, Pemohon PK Minta MA Tolak Keterangan Ronal 
Foto : Ilustrasi


Makassar, HanTer - Sery J. Laipeny, SH, kuasa hukum Eva Etwiory Dkk, permohonan Peninjauan Kembali (PK) Perkara Perdata No. 5/Pdt.G/2017/PN. Sml menilai ada banyak kejanggalan atas keterangan Ronal pada surat pernyataan permohonan PK dan Relaas Pemberitahuan Memori PK dari PN Makassar. 
Dalam keterangannya kepada jurusita Ruslan, SH, Ronal menyatakan bahwa ayahnya, Paulus A Laipeny telah meninggal dunia tanggal 18 Juni 2018, oleh karena itu jurusita  membuat surat pemberitahuan dan penyerahan memori PK bernomor : 5/Pdt.G/2017/PN.Sml dari Pengadilan Negeri Makasar.
"Keterangan anak Paulus A Laipeny tersebut, perlu dipertanyakan kenapa demikian? Karena keterangan itu penuh kejangalan maupun bertentangan dengan kontra memori kasasi para termohon kasasi tertanggal 10 Agustus 2018 dan putusan kasasi Mahkamah Agung Nomor : 615 K/PDT/2019. tanggal 10 April 2019," ujar Sery J. Laipeny, SH, Selasa (27/7/2021).
Sery menyebut, keterangan Ronal juga bertentangan dengan kontra memori PK yang diajukan oleh para termohon PK yakni, Paulus A Laipeny, Dkk terhadap permohonan PK yang diajukan oleh Eva Etwiory Dkk pada tanggal 12 Februari 2020. Karena nama Paulus A Laipeny, termohon kasasi I sekarang termohon PK I tidak pernah membantah dan bahwa Paulus A Laipeny telah meninggal dunia pada tanggal 18 Juni 2018.
"Di dalam Kontra Memori Kasasi yang diajukan mereka pada tanggal 10 Agustus 2018, terlihat jelas juga kejanggalan pada jarak bulan meninggalnya Paulus A Laipeny bulan Juni 2018 dengan pengajuan kontra memori kasasi oleh Paulus A Laipeny Dkk di Mahkamah Agung melalui Pengadilan Negeri Saumlaki bulan Agustus 2018 yaitu kurang lebih 1 bulan 18 hari pada tahun yang sama 2018," jelasnya.
Sery memaparkan, dengan jarak waktu dekat tersebut maka menunjukkan bahwa Paulus A Laipeny tidak meninggal dunia, tetapi masih hidup, terbukti Paulus mengajukan kontra memori kasasi tersebut. Oleh karena itu tidak masuk akal ada orang yang memberikan keterangan Paulus A Laipeny meninggal dunia tanggal 18 Juni 2018.
"Karena tidak mungkin orang yang sudah meninggal dunia itu dapat mengajukan kontra memori kasasi atau memberikan kuasa kepada kuasa hukumnya untuk mengajukan kontra memori kasasi," tandasnya.
Dan tidak kalah penting juga, sambung Sery, yaitu Relas Pemberitahuan Pernyataan Kasasi dan Relaas Pemberitahuan dan Penyerahan Kontra Memori Kasasi dari PN Saumlaki yang ditujukan untuk Paulus A Laipeny melalui PN Makasar tidak ada satupun keterangan surat dalam bentuk apapun yang menyatakan bahwa Paulus A Laipeny telah meninggal dunia tanggal 18 Juni 2018. 
Pada Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 615. K/Pdt.G/2019 tertanggal 10 April 2019 juga tidak ada satupun pertimbangan hakim yang menyatakan bahwa Paulus A Laipeny sudah meninggal dunia tanggal 18 Juni 2018, sehingga perkara kasasi tersebut harus dicabut terlebih dahulu oleh pemohon kasasi
"Artinya kalau pertimbangan hakim tidak ada seperti itu, maka disini jelas Yang Mulia hakim Agung telah membernarkan Paulus A Laipeny masih hidup. Hal itu berdasarkan dikabulkannya permohonan memori PK dan kontra memori kasasi tanggal 10 Agustus 2018 yang diajukan oleh Paulus A Laipeny, Dkk," jelasnya.