BMKG Jelaskan Terkait Cuaca di Indonesia yang tak Menentu
Foto : Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati

Jakarta, HanTer - Cuaca di Indonesia saat ini tidak menentu. Sebagian wilayah terjadi cuaca ekstrem basah dan sebagian lainnya dilanda cuaca ekstrem kering. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, faktor terjadinya cuaca ekstrem basah disebabkan tahun ini diprediksi relatif lebih basah dari normalnya. 

Dan faktor utama penyebab cuaca tidak normal, menurut dia, karena letak geografis negara Indonesia berada di dua benua dan dua samudera.

"Letak geografis inilah yang menyebabkan kondisi cuaca di Indonesia labil. Sangat berbeda dengan cuaca di negara benua," ujar Dwikorita Karnawati dalam keterangan, Kamis (5/8/2021).

Ia menjelaskan, cuaca tak menentu (cuaca ekstrem basah) saat ini juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer. Di antaranya karena adanya suplai uap air yang tinggi di wilayah Indonesia bagian Barat.

"Ini disebabkan adanya pengaruh perbedaan tekanan antara samudera Hindia dan perairan Indonesia," jelasnya.

Aktifnya gelombang atmosfer, masih ujar Dwikorita, mendorong proses pembentukan awan hujan di Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua bagian Selatan atau selatan garis katulistiwa.

"Di selatan garis katulistiwa juga terjadi aliran udara dingin di permukaan bumi Selatan ke wilayah kepulauan Indonesia. Ini menyebabkan pembentukan awan hujan di Indonesia," katanya.

Sirkulasi siklonik di Barat Sumatera, dikatakan dia, merubah arah angin dan kecepatan angin. Sehingga memicu intensitas hujan yang meningkat, terutama di Pulau Sumatera dan Jawa. Serta suhu muka laut dan anomali suhu muka yang hangat di Indonesia memicu pembentukan awan hujan.

"Ini menyebabkan kelembaban di wilayah atmosfir lapisan bawah dan menengah meningkat dan juga pengaruh fenomena lokal," ucapnya.

"Ini yang membuat fenomena cuaca saat ini kacau," imbuhnya.

Ia menambahkan, cuaca ekstrem kering terjadi di sebagian wilayah Indonesia. Sudah 60 hari wilayah Indonesia Timur tidak turun hujan. 

"Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua Selatan sudah mengalami kekeringan. Ini juga harus diwaspadai, dengan adanya potensi kebakaran hutan," ujarnya.