Prabowo-Anies Cocok Berduet di Pilpres 2024, Pemanggilan KPK Dinilai Tak Pengaruhi Elektabilitas
Foto :

Jakarta, HanTer - Pemanggilan sebagai saksi dalam kasus korupsi pengadaan tanah di Munjul, Pondok Ranggon, Jakarta Timur oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dinilai tak mempengaruhi ketokohan seorang Anies Baswedan dalam kontestasi pemilihan presiden (Pilpres) 2024 mendatang. Nama Anies dinilai akan tetap baik, bahkan elektabilitasnya sebagai Capres 2024 disebut tak terpengaruh dengan kasus tersebut.

 

 

Ketua Umum Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) Syarief Hidayatulloh meyakini, masyarakat Indonesia, khususnya warga DKI Jakarta, sudah semakin cerdas dan kritis dalam menyikapi pemanggilan seorang pejabat oleh lembaga antirasuah tersebut. Karena hanya sebagai saksi, dirinya yakin kasus ini tak merontokkan elektabilitas dan nama Anies.

 

 

"Warga DKI Jakarta percaya Anies sudah bekerja maksimal untuk mereka. Terbukti banyak program direalisasikan dan kotanya semakin maju, warganya semakin bahagia. Nama Anies akan tetap baik dan elektabilitasnya sebagai Capres 2024 tak terpengaruh dengan kasus ini," katanya di Jakarta, Kamis (23/9/2021).

 

 

Dirinya sekaligus memuji langkah Anies yang berani datang ke KPK. "Anies gentleman. Berani datang karena memang tidak terlibat. Banyak tuh politisi yang hanya jadi saksi saja nggak kooperatif, dan enggan datang ke KPK," kata dia.

 

 

Syarief juga mengingatkan seluruh pihak, khususnya penegak hukum yakni KPK, tidak mencampuradukkan kepentingan hukum dengan politik. Dia berharap KPK tetap independen.

 

 

"Jangan dipakai untuk kepentingan politik. Ini urusan hukum yang saya kira, Pak Anies clear dalam kasus ini," tegasnya.

 

 

Prabowo-Anies

 

 

Sementara itu, meski masih tiga tahun lagi, calon presiden dan wakil presiden yang disebut akan maju di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 kini sudah ramai jadi perbincangan. Sosok Anies disebut cocok berpasangan dengan Prabowo Subianto di laga Pilpres 2024.

 

 

Pengamat Politik Adi Prayitno menyoroti peluang Prabowo dan Anies bila maju di Pilpres 2024. Dia berpendapat, tidak menutup kemungkinan keduanya dipasangkan di 2024.

 

 

Kendati begitu menurutnya, ada beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan. "Bila dilihat potensi kuat atau tidak tentu berdasarkan hasil lembaga survei," ujar Adi di Jakarta, Kamis (23/9/2021).

 

 

Dirinya berharap, ada survei kecocokan antara Prabowo dan Anies. Dari hasil survei baru bisa dilihat apakah keduanya bisa lebih unggul dari pasangan lain atau tidak.

 

 

Terlepas dari itu, elektabilitas Prabowo dan Anies sama-sama kuat. "Bila melihat elektabilitas Prabowo dan Anies tentu keduanya sama-sama kuat, kedua orang ini memiliki bekal yang sama, bekal popularitas dan elektabilitas," jelasnya.

 

 

Sehingga, lanjutnya, bila Prabowo dan Anies bersatu, maka hasilnya akan baik. "Kalau dua orang ini berkoalisi, bagus, mantap," ungkapnya.

 

 

Adi menilai, pekerjaan rumah mereka berdua jika resmi bergabung hanya tinggal melawan pasangan lain. "Tinggal bagaimana menstimulasi lawannya, apakah kuat atau tidak, dan seterusnya," imbuhnya.

 

 

Lebih lanjut, Adi mengingatkan sampai saat ini Prabowo memiliki tugas yang harus dituntaskan. Yakni, menaikkan elektabilitas di angka 30-40 persen sebagai syarat aman karena pernah maju pemilu dua kali.

 

 

Sementara eelektabilitas Anies terlihat cukup tinggi di beberapa survei. Salah satunya, survei Indonesia Political Opinion (IPO).

 

 

Dalam survei pada 2-10 Agustus 2021 lalu, Anies memperoleh persentase 18,7 persen unggul dibandingkan 19 tokoh potensial lainnya.

 

 

"Survei kali ini misalnya kami ukur ada 20 nama tokoh, yang kami ukur elektabilitasnya terkait perspektif publik. Nama muncul pertama kali masih teratas Anies Baswedan 18,7 persen, disusul oleh Ganjar Pranowo 16,5 persen, Sandiaga Uno 13,5 persen, AHY 9,9 persen," kata Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah dalam diskusi virtual Polemik MNC Trijaya "Pandemi dan Konstelasi Politik 2024", pada Sabtu 14 Agustus 2021 lalu.