Hudzaifah dan Perang Uhud
Foto :

HUDZAIFAH seorang sahabat senior dari Rasulullah yang  urut dalam  perang Uhud dan perang lainnya bersama Rasulullah melawan musrikin Quraisy kecuali  dalam Perang Badar, Hudzaifah tidak ikut serta.

Hudzaifah karena keahliannya sering dipercaya Rasulullah sebagai mata-mata untuk bisa menyusup ke daerah pasukan musuh guna mengetahui rencana yang dilakukan musuh.

Ayah Hudzaifah, bersama saudaranya Shafwan Ibnul Yaman  ikut dalam perang Uhud itu.

Ketika Hudzaifah bersama ayahnya berada diluar Madinah dalam perjalanan hendak ke Madinah untuk bergabung dengan Rasulullah, bertemu dengan orang kafir Quraisy menanyakan tujuan kepergiannya.

Orang-orang kafir Quraisy itu melarang Huzaifah dan ayahnya ke Madinah diminta berjanji jika tidak ingin bertemu  Rasulullah. Setelah berjanji maka keduanya dilepas untuk meneruskan perjalanannya ke Madinah.

Setelah bertemu Rasulullah keduanya menceriterakan tentang dihadang nyaman oleh kafir Quraisy. 

Keduanya bertanya kepada Rasulullah apa yang harus dilakukan dengan perkataannya kepada kafir Qurasiy itu. 

Rasulullah bersabda:’’Kita penuhi janji kepada mereka dan kita mohon pertolongan Allah untuk mengalahkan mereka’’.

Dalam perang Uhud itu kafir Qurasy benar-benar mengerahkan pasukannya sekuat mungkin dengan 3.000 prajurit untuk balas dendam atas kekalahan mereka dalam perang Badar. 

Berkat pertolongan Allah pasukan kaum kafir Quraisy dapat dilumpuhkan mundur. Sebagian dari pasukan 

Rasulullah mengira perang telah usai, mereka turun dari atas bukit tidak mengikuti instruksi Rasulullah agar tetap bertahan di atas bukit.

Ketika pasukan kafir Quraisy mengetahui hal itu maka musuh putar balik kembali menyerang pasukan muslim yang masih di atas bukit hingga terdesak.

Setelah peperangan usai dan musuh dapat dikalahkan, maka berita kematian ayah Hudzaifah didengar Rasulullah. 

Mendengar kabar itu Rasulullah memerintahkan agar mereka membayar diyat (denda) untuk ayah Hudzaifah. 

Namun Hudzaifah meminta agar diyat itu diserahkan untuk kaum muslimin dan memaafkan  prajurit yang telah membunuh ayahnya karena ketidak  tahuannya. 

“Ia memang mengejar syahadah dan itu sudah didapatkannya. Ya Allah saksikanlah bahwa aku menyedekahkan diyat itu untuk kaum muslimin,” kata Hudzaifah.

Keberadaan Hudzaifah semakin tinggi dihadapan Rasulullah yang  semakin mencintai  dan menghargai Hudzaifah. 

Wallohu a’lambishshawab.

(Nuchasin M Soleh)