Lima Mantan Pentolan FPI Bebas, Perbanyak Doa Untuk Pembebasan Habib Rizieq Shihab 
Foto :

Jakarta, HanTer - Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212, Ustadz Slamet Maarif mengatakan, hingga kini pihaknya masih berupaya agar Imam Besar (IB) Habib Rizieq Shihab (HRS) bebas. Apalagi saat ini dua kasus kerumunan di Megamendung, Bogor, Jawa Barat dan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta telah inkrah atau berkekuatan hukum tetap. 

Untuk kasus kerumunan Petamburan, HRS divonis 8 bulan penjara dan harusnya bebas bersama dengan 5 mantan petinggi Front Pembela Islam (FPI) yang hari ini, Rabu (6/10/2021) telah bebas. Untuk kasus kerumunan di Megamendung, HRS divonis denda Rp 20 juta subsider 5 bulan kurungan.

HRS masih ditahan karena kasasi atas kasus tes swab palsu RS UMMI Bogor, di Mahkamah Agung (MA) belum inkrah. "Alhamdulillah 2 kasus sudah inkrah Megamendung dan Petamburan.  Tinggal 1 kasus RS Ummi yang sedang proses kasasi di MA," ujar Ustadz Slamet Maarif kepada Harian Terbit, Rabu (6/10/2021).

"Kita tentunya harus perbanyak dan perkuat doa agar dalam kasasi di MA, HRS diberi kemenangan dan bisa segera bebas," sambung Ustadz Slamet Maarif.

Ustadz Slamet menuturkan, selain doa, agar Hakim Agung MA mengikuti hati nurani sehingga bisa membebaskan HRS. Ustadz Slamet mengakui, saat ini perlawanan hukum atas perkara yang dialami HRS tetap dilakukan baik oleh HRS dan pengacara-nya. Sehingga HRS bisa bebas kurungan penjara dan menemui para jamaahnya.

"Memori banding dan lain-lain sudah dimasukkan ke MA dan andaikan kasasi belum berhasil maka masih ada upaya hukum lanjutan yaitu PK. Hari - hari beliau tetap akan diisi dengan berdakwah di lapas," tandasnya.

Putusan Kasasi

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Persaudaraan Alumni (PA) 212, Novel Bamukmin mengatakan, untuk pembebasan HRS, pihaknya masih menunggu putusan kasasi. Saat ini tim kuasa hukum HRS mengajukan kasasi atas putusan Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta yang menolak pengajuan banding HRS dalam perkara swab test di RS UMMI Bogor, Jawa Barat. 

Dalam putusan PT DKI Jakarta pada Senin (30/8/2021) lalu memperkuat vonis Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur yang menghukum HRS empat tahun penjara. "Jadi kita ikuti prosedur," ujarnya.

Novel menyebut, perkara hukum yang menimpa HRS penuh rekayasa dan sarat politisasi. Selain itu perkara hukum yang menimpa HRS juga telah mencoreng martabat penegak hukum sehingga Indonesia sudah darurat hukum dan keadilan. Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan agar HRS mendapat keadilan atas perkara hukum yang menimpanya.

Sebelumnya beredar penyambutan lima ustadz mantan petinggi dan pengurus organisasi Front Pembela Islam (FPI) yang bebas dari Rutan Mabes Polri, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Kelima ustadz itu yakni, Ustad Shabri Lubis, H. Haris Ubaidillah, Habib Ali bin Alwi Alatas, Habib ldrus Alhabsyi dan Ustaz Maman Suryadi.

Ustad Shabri Lubis beserta empat orang Ustadz itu bersama-sama telah keluar dari Rutan Bareskrim Mabes Polri pada hari Rabu sekitar pukul. 10.30 WIB.

“Alhamdulillah tepat pukul 10.34 guru-guru kita dan sahabat seperjuangan kita sudah keluar dari Rutan Bareskrim dan akan kembali ke tempat masing-masing. Mohon doanya mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar, terima kasih atas dukungan selama ini,” ujar Ustadz Slamet Maarif dalam tayangan video singkat yang beredar dimana dirinya berserta rombongan lainnya ikut menjemput ke Rutan Bareskrim, Jakarta Selatan.

Tampak dalam video tersebut juga turut menjemput adalah Ketua Umum Front Persaudaraan Islam (FPI) KH Buya Qurthubi Jaelani, Ustaz Syahid Joban, Ustaz Awit Masyhuri, Babe Haikal Hassan beserta tim pengacara selain Ustadz Slamet Ma’arif yang menjadi ketua rombongan tim penjemputan.

Seperti sudah diketahui sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur memvonis para petinggi dan pengurus ormas FPI itu selama delapan bulan penjara dalam kasus pelanggaran protokol kesehatan di Petamburan, Jakarta.

“Alhamdulillah ini kita baru menikmati matahari,” ujar Ustaz Shabri Lubis singkat memberikan komentar atas pembebasan dirinya beserta para ustadz-ustadz lainnya itu.