Ajak Masyarakat Jaga Kebersihan, Pemprov DKI Gencarkan Program Jakarta Sadar Sampah
Foto : Pemprov DKI melalui Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta telah mencanangkan program Jakarta Sadar Sampah sejak 5 Juni 2021.

Jakarta, HanTer – Ungkapan kebersihan adalah sebagian dari iman, seringkali dijumpai di berbagai wilayah di Jakarta. Melalui ungkapan ini, muncul kesadaran bahwa kebersihan penting dan merupakan tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah maupun masyarakat.

Pemprov DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya menjaga kebersihan di lingkungannya masing-masing melalui program Jakarta Sadar Sampah. Pemprov DKI melalui Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta telah mencanangkan program Jakarta Sadar Sampah sejak 5 Juni 2021.

Kepala Dinas LH DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, program Jakarta Sadar Sampah juga diharapkan bisa membantu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memilah dan mengelola sampah. Tujuannya supaya masyarakat dapat menanggulangi dan memanfaatkan sampah secara lebih baik.

“Jakarta Sadar Sampah merupakan wadah kolaborasi guna mewujudkan Jakarta lebih bersih dan hijau. Mulai dari pemerintah, komunitas, bisnis hingga individu, melalui Jakarta Sadar Sampah ini mengajak semua pihak untuk bekerja sama dan turut terlibat melalui tiga aksi, yaitu mengurangi, memilah dan mengolah sampah," kata Asep di Jakarta, Rabu (13/10).

Asep menjelaskan, dalam aksi mengurangi sampah, salah satu caranya adalah dengan bank sampah. Menurut dia, keberadaan bank sampah juga dapat meningkatkan perekonomian warga. Pasalnya, sampah-sampah jenis kertas, logam dan lainnya dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai jual.

"Saat ini bank sampah telah ada sebanyak 3.015 unit di Jakarta. Terkait dengan jumlah sampah yang terkelola di bank sampah rata-rata selama 7 bulan di tahun 2021 mencapai 654.430 kilogram setiap bulan," imbuhnya.

Selain itu, aksi mengurangi sampah juga dilakukan Dinas LH dengan memberdayakan maggot atau larva lalat hitam. Maggot berguna untuk mengurangi sampah organik di Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Asep menerangkan, Pemprov DKI terus berupaya untuk meningkatkan jumlah pembangunan Biokonversi Maggot Black Soldier Fly (BSF).

"Jumlah Biokonversi Maggot BSF yang sudah terbangun hingga Juli 2021 sudah ada 226 unit. Hingga Juli 2021, mampu mereduksi sampah organik mencapai 69.532,91 kg/bulan. Target hingga akhir tahun, kami bisa membangun 66 rumah maggot yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu," ujarnya.

Terkait dengan aksi pemilahan sampah, Pemprov DKI mendorong masyarakat untuk aktif memilih sampah dengan sistem pengangkutan sampah terjadwal. Sistem ini sudah dilakukan uji coba di wilayah tingkat RW percontohan sebanyak 147 RW yang tersebar di DKI Jakarta. Sementara, untuk apartemen gateway aksi pemilahan sampah dalam proses sosialisasi sejak awal bulan September 2021.

“Untuk wilayah perkantoran, sudah ada 22 lokasi yang lakukan pemilahan sampah. Pemilahan sampah di perkantoran dilakukan dengan cara membuang sampah berdasarkan jenis sampah ke dalam wadah yang sudah disiapkan. Kemudian, nantinya ada pengawasan yang dilakukan oleh Dinas LH dan setiap perkantoran memiliki sistem Pengelolaan Kawasan Mandiri,” ujarnya.

FPSA dan ITF

Selain itu, Dinas LH DKI Jakarta juga berencana membangun Fasilitas Pengolahan Sampah Antara (FPSA) Mikro Tebet, Jakarta Selatan. FPSA Mikro Tebet ini menggunakan teknologi ramah lingkungan, yaitu hydrodrive yang mampu mengurangi residu sampah hingga tersisa hanya 10% dan efisien dari segi operasional.

"Teknologi yang diusung pada fasilitas ini memastikan kenyamanan, kebersihan dan kesehatan masyarakat sekitar dan memitigasi risiko bau, asap, bising dan banjir," kata Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekretaris Daerah DKI Jakarta Afan Adriansyah Idris di Jakarta, Rabu (13/10/2021).

Dia menerangkan, FPSA Tebet yang memiliki luas 5.000 meter persegi itu merupakan pengolahan sampah terpadu dengan recycle center, biodigester, pirolisis, Black Soldier Fly (BSF) maggot, incinerator dan pengolahan Fly Ash Bottom Ash (FABA). Karena itu, diupayakan hanya sampah tak terolah yang masuk ke insinerator.

Di sisi lain, FPSA Tebet dilengkapi fasilitas environmental education (pusat edukasi warga), ruang interaksi publik (taman bermain), food center (kantin), sarana olahraga, urban farming, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan open theater.

"Pembangunan FPSA Tebet juga terintegrasi dengan kegiatan revitalisasi Taman Tebet yang saat ini juga sedang berlangsung. Konsep hijau dari Taman Tebet juga akan diterapkan di FPSA Tebet yang sedang direncanakan," imbuhnya.

Dia menjelaskan, teknologi insinerator yang direncanakan pada FPSA Tebet telah terdaftar dalam Registrasi Teknologi Ramah Lingkungan Pemusnah Sampah Domestik. Kemudian, telah dilakukan pengujian kualitas udara pada laboratorium yang tersertifikasi Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Dia menambahkan, rencana pembangunan FPSA Mikro Tebet juga mengadopsi negara maju di dunia. Beberapa negara itu telah memanfaatkan FPSA untuk mengelola sampah yang berasal dari masyarakat.

"FPSA sendiri sudah dimanfaatkan di beberapa negara seperti di Jepang, Tiongkok, Singapura, Finlandia dan sebagainya," ucapnya.

Dia melanjutkan, rencana pembangunan FPSA beserta fasilitasnya berupa pengolahan sampah sudah dipikirkan secara matang dan disesuaikan dengan komposisi dan karakteristik sampah di Kecamatan Tebet.

Hingga kini, Dinas LH DKI Jakarta terus melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada warga sekitar mengenai rencana pembangunan FSPA Mikro Tebet. Sosialisasi telah dilakukan sejak April 2021 lalu dengan melibatkan perangkat wilayah sekitar.

"Sosialisasi yang dilakukan berupa sosialisasi publik tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), melalui kelurahan setempat dan media massa, serta melakukan pendekatan dengan pihak-pihak terkait," ungkapnya.

Selain FPSA, melalui perseroan daerah PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Pemprov DKI sedang melakukan pembangunan Intermediate Treatment Facility (ITF) di Sunter, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pembangunan fasilitas ini juga merupakan salah satu strategi Pemprov DKI dalam rangka membangun sistem pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Afan mengatakan, ITF Sunter bakal mampu mengolah sampah hingga 2.200 ton/hari dan mengubah sampah menjadi tenaga listrik berdaya 35 MWh. Keberadaan fasilitas ini juga mampu mengurangi distribusi sampah Jakarta ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi sekitar 30% dari rata-rata 7.800 ton sampah per hari.

"Pengolahan sampah ini dilakukan dengan teknologi waste to energy yang dilengkapi dengan berbagai instrumen pengendali pencemaran lingkungan, sehingga pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan ramah lingkungan," tuturnya.

Adapun, teknologi waste to energy merupakan salah satu teknologi pengolahan sampah yang sudah terbukti efektivitasnya dan diterapkan di berbagai negara. Teknologi ini merupakan salah satu alat pemusnah sampah yang dilakukan dengan proses thermal yang aman bagi lingkungan, karena emisi yang dihasilkan sesuai dengan baku mutu yang berlaku.

"Saat ini sudah terpasang kurang lebih 2.000 teknologi waste to energy di berbagai negara. Hal ini membuktikan bahwa teknologi ini mampu mengolah sampah dengan efektif dan efisien," ujar Afan.

Kata dia, penggunaan teknologi ini juga mampu mereduksi sampah hingga 90%. Sehingga jumlah sampah yang dibuang ke landfill akan jauh lebih kecil. Selain itu, penggunaan teknologi ini sering dilengkapi dengan instalasi pembangkit listrik, karena panas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan uap panas yang dapat menggerakkan turbin dan menghasilkan energi listrik.

"Pemanfaatan sampah sebagai sumber energi akan membantu pengalihan kebutuhan sumber daya alam seperti batu bara. Dengan begitu ketergantungan manusia terhadap sumber daya alam tidak terbarukan akan menurun," pungkasnya.