Bendung Radikalisme, Cak Imin: Peran Media Digital Harus Bermanfaat
Foto : Cak Imin/ ist

Kendal, HanTer - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menggelar seminar online dengan tema yang diangkat Literasi Digital: Peran Media Digital dalam Membendung Redalisme.

TIga pembicara yang dihadirkan handal, yakni, Dr. H. Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si (Wakil Ketua DPR RI), Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc (Dirjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Kominfo RI) dan  Dr. Achmad Maulani (Staf Ahli Wakil Ketua DPRRI, Wakil Ketua PP Lakpes dan PBNU) serta Misbahul Munir,S.Psi (Ketua Pimpinan Cabang Gp Ansor Kab. Kendal).

Dalam paparannya, Semuel Abrijani Pangerapan menjelaskan bahwa di masa pandemi dan pesatnya teknologi telah merubah aktivitas seluruh masyarakat dalam melakukan kegiatan dan mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam transformasi digital Indonesia.

“Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mewujudkan masyarakat digital dimana kemampuan literasi digital masyarakat memegang peran yang sangat penting. Karena dalam upaya transformasi digital, pemerintah tidak dapat bergerak sendiri sehingga peran masyarakat sangat dibutuhkan,” katanya, Senin (18/10/2021).

Ditambahkan Semuel, sSehingga Kominfo dan Siber Kreasi serta stakeholder lainnya terus berupaya mengadakan kegiatan guna mencapai tingkat literasi yang optimal.

Hal serupa dikatakan Achmad Maulani bahwa media digital seperti pisau bermata dua: bisa membawa berkah sekaligus malapetaka. Pengguna internet aktif sebanyak 150 juta. Dengan jumlah yang demikian besar, maka berbagai paham keagamaan, mulai yang paling ekstrem/keras sampai yang paling lunak, sangat berpotensi menjadi pasar bebas yang bisa diakses siapapun.

“Maka media digital/internet harus diisi dengan konten-konten yang terus menyebarkan pemahaman keagamaan yang toleran, ramah dan menghargai perbedaan. Penyebaran pemahaman agama yang keras dan jauh dari nilai-nilai kemanuisaan harus dibatasi ruang geraknya. Agama tidak boleh menjadi monster yang menakutkan,” terangnya.

Sedangkan Abdul Muhaimin Iskandar biasa disapa Cak Imin menjelaskan pada saat ini mau tidak mau, ada motivasi yang benar-benar masuk kedalam dunia digital, maka dunia digital merupakan dunia keseharian yang mau tidak mau harus dihadapi dan menjadi bagian di dalamnya.

“Sosial media tidak hanya menghubungkan satu orang dengan yang lainya tetapi sosial media menjadi sangat produktif, bukan saja arus informasi yang berkembang, bahkan antar subjek-subjek pelaku dunia sosial media adalah produsen-produsen dari informasi,” jelasnya.

Dikatakannya, dunia digital ini yang kemudian semakin menguatkan social media, sehingga informasi cepat, efektif, produktif dan pergantianya sangat cepat. Maka cerdas dalam menggunakan sosial media adalah mengerti dan memanfatkannya sebagai peluang bisnis.

“Atau menjadikanya kekuatan sosial, ekonomi, bahkan politik. Itulah peluang untuk kita sehingga kita harus cerdas, cerdas artinya mampu memanfaatkan peluang dunia digital. Dan bijak dalam artian kita harus benar-benar menjadi subjek atau aktor dari dunia digital yang memberi manfaat,” tambahnya.

Sementara, Misbahul Munir  menambahkan sikap redikalisme itu tidak hanya memberontakan dalam bentuk demonstrasi atau hal-hal yang turun ke jalan dan lain-lain, seakan-akan redikalisme dari sisi sosial kemasyarakatan, kebudayaan politik, ekonomi, penunjang orang bersikap berfikir, bergerak secara redikalisme, tetapi dalam hal ini kita menyikapi edologi agama.