‘Perang' Polling Pendukung Jokowi dan Prabowo Marak
Foto : Istimewa

Jakarta, HanTer - Jelang Pilpres 2019, antarpendukung capres dan cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saling ‘perang’ polling guna menaikkan elektabilitas jagoannya masing-masing, sekaligus untuk meraih simpati rakyat.

Menanggapi hal ini, Direktur Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) Arifin Nur Cahyo menegaskan, ‘perang’ polling bisa menjadi booming karena menurunnya kepercayaan masyarakat kepada lembaga survei. Bagi mereka yang berpartisipasi dalam suatu polling maka bisa menyebarkan kepada yang lain sehingga peserta polling semakin banyak. Yang jelas sedikit banyak, sebuah polling maka turut menggambarkan pilihan para netizen.

"Tapi harus dicermati juga polling yang bagus dan tidak. Polling yang bagus mempunyai proteksi terhadap akun boot meskipun masih sulit untuk memisahkan akun buzzer," paparnya.

Lembaga Netral

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin mengatakan, tujuan perang polling jelas untuk membentuk dan menpengaruhi opini publik. Juga untuk merebut hati rakyat agar bisa memberikan suaranya baik di tingkat pileg maupun pilpres. Sehingga tidak heran ada polling yang langsung menyebut salah satu kontestan meraih suara atau prosentase yang banyak.

"Tapi pengaruh polling relarif kecil untuk merebut hati rakyat. Paling besar pengaruhnya untuk pembentukan opini," jelasnya.

Ujang menuturkan,  jika mau polling yang baik tentu harus  dilakukan lembaga yang netral. Sehingga hasilnya objektif dan tentu valid. Sayangnya, sambung Ujang, saat ini jarang ada lembaga survei yang netral. Apalagj waktu gelar polling juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. "Itulah persoalannya. Jarang ada lembaga yang netral,” papar Ujang.

Terpisah pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Silvanus Alvin mengatakan, ‘perang’ polling yang dilakukan sejumlah kandidat baik tingkat pileg maupun pilpres bertujuan untuk memengaruhi swing voters, juga menjaga suara pendukung. Karena secara tidak langsung, polling yang dirilis para kandidat melalui lembaga survei atau pribadi bisa mempengaruhi bagi pemilih.

"Apalagi bagi individu yang belum memutuskan akan memilih siapa," ujar Silvanus kepada Harian Terbit, Selasa (23/10/2018).

Lebih lanjut Silvanus mengatakan, mengingat polling biasa dilakukan oleh lembaga survei maka rakyat harus jeli, lembaga mana yang mengeluarkan. Apakah lembaga survei tersebut berafiliasi terhadap salah satu paslon atau memang benar - benar netral dan independen. Salah satu cara melihat dengan jeli adalah cek apakah lembaga itu masuk dalam daftar Persepi atau tidak.

"Patut dipahami pula bahwa polling itu bisa berubah-ubah. Polling hanya menangkap situasi politik dalam durasi tertentu dan bukan gambaran keseluruhan. Oleh karena itu, kapan pelaksanaan polling juga penting. Karena beda waktu maka bisa saja beda hasil polling," paparnya.