Menyebar ke Banyak Negara Dunia, Masyarakat Diminta Tidak Panik Karena Omicron, Taati Prokes
Foto : Ilustrasi aktivitas warga saat pandemi COVID-19 (ist)

Jakarta, HanTer - Varian baru COVID-19 bernama Omicron dilaporkan telah menyebar ke banyak negara di dunia. Penemuan kasus Omicron membuat negara-negara meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah negara di seluruh dunia bergegas memberlakukan larangan perjalanan atas kekhawatiran bahwa varian tersebut mungkin kebal terhadap vaksin, termasuk Indonesia.

Sejumlah pihak mengingatkan masyarakat harus waspada terhadap penyebaran varian Omicron di tengah peningkatan COVID-19 sepekan terakhir. Meski demikian, masyarakat tidak panik dengan varian omicron karena pemerintah telah memiliki aplikasi yang terintegrasi PeduliLindungi yang perlu untuk terus ditegakkan penggunaannya.

“Saya meminta agar masyarakat tidak panik karena varian Omicron. Kita hanya perlu waspada dan berjaga-jaga dengan kembali mengetatkan penerapan protokol kesehatan yang sudah mulai terlihat abai ini," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (29/11/2021).

Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Hidayatullah Muttaqin SE, MSI, Pg.D mengingatkan masyarakat harus waspada terhadap penyebaran varian Omicron di tengah peningkatan COVID-19 sepekan terakhir.

"Cepatnya penyebaran varian Omicron ke berbagai negara menuntut kesigapan pemerintah untuk mencegah masuknya varian berbahaya ini ke Indonesia," kata dia di Banjarmasin, Senin.

Pelarangan masuknya WNA dari negara Afrika menurut dia tidaklah cukup karena penyebarannya sudah lintas benua. Selain skrining dan penetapan syarat masuk yang lebih ketat, pemerintah perlu lebih cepat memperlambat mobilitas penduduk yang sudah tinggi saat ini.

Meningkat

Terlepas persoalan varian Omicron, kasus COVID-19 di Indonesia mulai mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir. Data Kementerian Kesehatan pada 21-27 November ada 2.320 kasus konfirmasi, naik 2,4 persen dibandingkan kasus yang terjadi pada periode 14-20 November.

"Ini pertama kalinya kasus COVID-19 di Indonesia mengalami kenaikan setelah dalam beberapa bulan terakhir terus menurun setiap pekannya," ujarnya.

Di samping pengetatan pintu masuk dan pengendalian mobilitas penduduk, strategi 3T (testing, tracing dan treatment), Muttaqin menekankan pentingnya edukasi dan penerapan protokol kesehatan di masyarakat diperkuat.

10 Negara

Perhatian dunia saat ini tertuju dengan adanya varian baru Omicron atau B.1.1.529. WHO telah memasukkan varian Omicron ini sebagai Variant of Concern (VoC) pada 26 November 2021 karena kecepatan penularannya dan kemampuannya meningkatkan risiko reinfeksi.

Sebaran varian Omicron berdasarkan data GISAID per 27 November telah mencapai 10 negara yaitu Afrika Selatan, Bostwana, Australia, Inggris, Hong Kong, Kanada, Italia, Belgia, Israel dan Austria.

Kasus terbanyak berdasarkan sampel genom varian Omicron berasal dari Afrika Selatan dengan jumlah 109 dan distribusi 72 persen sampel global.

Sementara situasi di Afrika Selatan dalam satu pekan terakhir semakin memburuk. Jumlah penduduk Afrika Selatan yang dikonfirmasi COVID-19 dalam periode 21-27 November sebanyak 29.373 kasus. Jumlah tersebut naik secara dramatis sebesar 740 persen dibandingkan banyaknya kasus yang dilaporkan sepekan sebelumnya 14-20 November.*

Gejala Omicron

Seorang dokter Afrika Selatan, yang merupakan salah satu orang pertama yang mencurigai kemunculan suatu galur berbeda virus corona, mengatakan pada Minggu bahwa gejala-gejala Omicron sejauh ini ringan dan penyembuhannya bisa ditangani di rumah.

Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan Dr. Angelique Coetze, mengatakan kepada Reuters bahwa, tidak seperti Delta, para pasien yang terkena varian Omicron sejauh ini tidak melaporkan kehilangan penciuman atau rasa. Tingkat oksigen pasien-pasien itu juga tidak anjlok.

PPKM Diperpanjang

Pemerintah kembali memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah Jawa-Bali selama dua minggu ke depan atau hingga 13 Desember 2021 kendati secara umum kasus Covid-19 masih terjaga di level rendah.

"Penerapan PPKM yang masih terus dilakukan di Jawa-Bali menunjukkan tren yang cukup stabil," kata Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Hal itu dibuktikan dengan jumlah kasus Covid-19 yang terus terjaga pada tingkat yang cukup rendah. Kasus konfirmasi terus ditekan dan penurunannya ada di angka 99 persen sejak puncak kasus bulan Juli lalu.

Walaupun tren Covid-19 di Jawa-Bali cenderung stabil, Luhut juga menjelaskan bahwa saat ini terjadi peningkatan nilai Rt (penambahan kasus aktif nasional). Khusus di Jawa-Bali, peningkatannya terjadi 4 hingga 5 hari berturut-turut pada periode awal munculnya varian delta.

Berdasarkan hasil asesmen pada 27 November 2021 terdapat penambahan 23 kabupaten/kota yang masuk ke dalam level 2 dan sebanyak 8 Kabupaten Kota yang masuk ke dalam level 1.

Ada pun berdasarkan asesmen dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 10 kabupaten/kota yang kembali ke level 2 diantaranya berada di wilayah Jabodetabek yang terjadi akibat turunnya angka tracing anggota aglomerasi di wilayah Jabodetabek.

Luhut juga memaparkan tentang perkembangan kasus varian Omicron yang telah menyebar di beberapa negara, seperti Afrika Selatan, Botswana, Jerman, Belgia, Inggris, Israel, Australia, dan Hong Kong.

Untuk itu, pemerintah telah mengambil langkah-langkah kebijakan yang telah diumumkan sebelumnya dan akan terus mengevaluasi kebijakan setiap saat untuk meminimalisasi dampak dari masuknya varian baru ini.

"Kita hanya perlu waspada dan berjaga-jaga dengan kembali mengetatkan penerapan protokol kesehatan yang sudah mulai terlihat abai ini," tegasnya.

Perketat Prokes

Satgas Penanganan COVID-19 mengingatkan masyarakat memperketat dan mematuhi protokol kesehatan secara disiplin di tengah munculnya varian baru COVID-19 yaitu Omicron yang disebut lebih menular dibandingkan varian virus sebelumnya.

Ketua Bidang Data dan IT Satgas Penanganan COVID-19 Dr. Dewi Nur Aisyah dalam konferensi pers daring tentang Analisis Gelombang ke-3 COVID-19 di Indonesia yang diikuti di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa mematuhi prokes di masyarakat seperti memakai masker dan menjaga jarak fisik sangat berpengaruh signifikan pada tingkat penularan COVID-19 apabila terjadi gelombang ketiga pada akhir tahun.