Jakarta, HanTer - Ketua LBH Pelita Umat Chandra Purna Irawan mengkritisi perkataan Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman soal Tuhan bukan orang Arab. Pernyataan itu disampaikan Jenderal Dudung ketika menjadi pembicara di dalam podcast Deddy Corbuzier yang disiarkan di YouTube, Selasa (30/11/2021). 

Chandra dalam pendapat hukumnya yang diterima menilai dengan menyatakan Tuhan kita bukan orang Arab, itu berarti melabeli Tuhan sebagai orang, tetapi yang bukan berasal dari Arab. "Dari kalimat tersebut, kemudian dapat menimbulkan pertanyaan, lantas Tuhan orang mana? Apakah orang Indonesia?" kata Chandra. 

Dia pun khawatir ucapan Jenderal Dudung dapat dianggap melecehkan Sang Pencipta yang jelas kedudukannya sebagai Tuhan, kemudian didegradasikan dengan disebut sebagai orang. 

"Ucapan tersebut dikhawatirkan berpotensi menjadi penistaan agama," kata Chandra.

Ketua BPH KSHUMI (Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia) itu juga berpendapat bahwa ucapan Tuhan bukan orang Arab juga dikhawatirkan berpotensi menimbulkan kebencian terhadap orang Arab atau SARA. Sementara, katanya, ucapan yang bernilai kebencian terhadap SARA dilarang oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis Jo Pasal 28 Ayat (2) UU ITE. 

"Bahwa sudah sepatutnya seorang pejabat untuk menjaga pernyataan atau statement dan tindakannya di ruang publik. Agar tidak menimbulkan kegaduhan," papar Chandra.

Kesalahan Fatal

Terpisah, KH Wafi Maimun Zubair alias Gus Wafi menyebut pernyatan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman yang mengatakan dirinya berdoa menggunakan bahasa Indonesia karena Tuhan yang  ia yakini bukan orang Arab sudah masuk kategori penistaan agama. 

“Ucapan tersebut bahkan bisa masuk kategori penistaan agama,” kata Gus Wafi kepada wartawan, Rabu (1/12/2021). 

Dia menegaskan, omongan Dudung itu merupakan sebuah kesalahan fatal sebab dengan pernyataan tersebut Dudung dinilai menyetarakan Tuhan dan manusia.

“Pernyataan KSAD Dudung Abdurrahman yang menyebut Tuhan bukan orang Arab merupakan kesalahan besar. Hal ini tentu melecehkan Sang Pencipta yang jelas kedudukannya sebagai Tuhan, kemudian didegradasikan dengan disebut sebagai orang,” tuturnya.

Lantaran menilai Dudung telah melakukan kesalahan fatal, Gus Wafi lantas meminta agar Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa memberikan teguran kepada anak buahnya tersebut.

Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Nurul Anwar Sragen tersebut juga mendesak Majelis Ulama Indonesia atau MUI untuk memeriksa secara khusus sejumlah pernyataan Dudung yang menimbulkan kegaduhan. Mengingat, jika dibiarkan, kebiasaan tersebut bisa membahayakan ketentraman umat.