Anies Dinilai Bisa Jadi Representasi Umat Muslim di Pilpres 2024
Foto :

Jakarta, HanTer - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan disebut sosok representatif bagi umat muslim dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang. 

Direktur Eksekutif Indostrategic, Ahmad Khoirul Umam, menilai bahwasanya akan ada banyak elemen Islam yang akan berpengaruh bagi konstelasi politik ke depannya. Mulai dari Nadhlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, hingga 212.

Namun menurutnya, hal ini tidak bisa begitu saja berjalan mulus bagi Anies, karena terganjal aksi 212. "Anies berpotensi menjadi satu nama yang kemudian bisa menjembatani sejumlah tadi poin-poin elemen kekuatan Islam, meskipun ini ada catatan agak serius, momentum di 2017 di Pilkada itu," ujar Umam di Jakarta, Senin (6/1/2021).

Umam mengatakan, kesimpulan ini diambil setelah dia melakukan Focus Group Discussion (FGD) di 12 kota di Pulau Jawa. Hasil FGD lainnya adalah 212 disebutnya tidak akan memiliki pengaruh lebih besar ketimbang NU ketika Pilpres.

Ia mencontohkan saat Pemilu 2019 lalu. Joko Widodo akhirnya menggandeng Ma'ruf Amin yang merupakan tokoh NU sebagai pasangannya.

"Jadi 212 itu hanya satu varian di antara sekian banyak varian-varian lain, kalau kita lihat di (Pilpres) 2019 yang sangat menentukan di level itu justru NU. Mau enggak mau, diakui atau tidak," jelasnya.

Meski Anies dinilai bisa merangkul banyak elemen Islam, Umam menyebut hal itu akan sulit dilakukan kepada NU. Pasalnya, NU selaku organisasi Islam dengan anggota terbanyak di Indonesia kerap menentang kegiatan 212.

"Saya tanya apakah ada potensi? Dan memang ada potensi dan memang konteks di (Pilkada DKI 2017) itu cukup membekas bagi warga NU," ucapnya.

Karena itu, pekerjaan rumah (PR) Anies jika memang ingin maju ke Pilpres 2024 adalah membangun hubungan baik dengan NU. Anies harus mulai menjalin komunikasi dengan kyai, ulama dan pesantren yang memiliki penokohan kuat di kalangan NU.

"Kalau misalkan memang Mas Anies memiliki niat di 2024. Saya pikir dia juga sudah memiliki sense untuk melakukan itu, maka kemudian komunikasi terhadap jaringan NU terutama pesantren, kiai, harus dilakukan secepatnya," terangnya.