Edukasi Cegah Virus Corona Omicron, Ternyata Suntik Vaksin Saja Tidak Cukup
Foto : Dr.dr Allen Widysanto Sp.P-FAPSR & dr. Diane Lukito Setiawan Sp.PK/ ist

Tangerang, HanTer – Sejauh ini penelitian untuk memahami lebih jauh mengenai varian baru virus corona, yakni varian B.1.1. 529 atau varian Omicron masih diupayakan para peneliti dunia. 

Sejumlah aspek penelitian dilakukan pada tingkat infeksi dan gejala; termasuk efektivitas vaksin dan efektivitas pengobatan. Tes diagnostik dilakukan agar upaya pencegahan penyebaran optimal. 

Selain itu, Badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO), memberikan sejumlah rekomendasi tindakan untuk negara dan individu agar melakukan langkah-langkah pencegahan varian Omicron.

Dokter spesialis Patologi Klinik dari Siloam Hospital Surabaya, dr. Diane Lukito Setiawan Sp.PK., mengatakan virus memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidupnya melalui sistem mutasi, yaitu dengan meloloskan diri dari sistem imun yang ada pada tubuh manusia ataupun antibodi yang di dapat melalui vaksinasi. 

“Hingga saat ini, upaya pencegahan yang paling optimal melalui target vaksinasi dengan dosis penuh tercapai di masyarakat  diiringi pelaksanaan Protokol Kesehatan secara berkelanjutan. Adapun tes PCR masih merupakan 'golden standard' dalam mendeteksi virus SarsCov-2 dan beberapa virus lainnya seperti HIV dan Hepatitis, namun untuk mendeteksi sejumlah varian- Covid-19 yang ada, perlu tindakan lanjutan Whole Genome Sequencing (WGS) yang dilakukan pada spesimen dengan hasil PCR positif," kata dokter Diane Lukito, Selasa (7/12/2021).

Ditambahkan Diane Lukito, variasi respon terhadap vaksin, antibodi bahkan paparan virus Omicron pada setiap manusia memang cenderung berbeda. 

"Namun, mekanisme immune escape pada virus (Omicron) ini yang terus diteliti ahli. Untuk sementara, vaksin booster bagi banyak 'kalangan' seperti kalangan medis dan kalangan yang rentan dirasa perlu bahkan penting," tegasnya.

Diane menambahkan pencegahan maupun pengobatan atas paparan Corona Omicron ini kembali ke setiap individu. 

"Sangat tergantung dari setiap individu di periode Pandemi Covid-19 ini dalam menjalani periode pandemi. Kuncinya agar tetap bisa aktivitas adalah disiplin protokol kesehatan lalu perkuat sistem imun dengan vaksinasi, makan makanan bergizi, tidur yang cukup dan olahraga teratur, dan segera melakukan pemeriksaan bila didapatkan gejala," jelasnya.

Sedangkan, Dr.dr Allen Widysanto Sp.P-FAPSR.,  dokter Spesialis Paru dari Siloam Hospital Lippo Village menilai akan varian Omicron 'disinyalir' transmisinya beberapa kali lipat lebih cepat dari varian lainnya, dengan kecenderungan yang dirasakan adalah Gejala Sistemik seperti: pusing dan sakit kepala dibanding gejala Repirasi seperti, batuk, pilek hingga hilang penciuman.

"Pada prinsipnya tatalaksana pasien terpapar covid-19 varian Omicron sama dengan sejumlah varian  yang telah muncul sebelumnya. Akan hal tersebut, penelitian dan observasi masih terus berlanjut pada dunia kedokteran khusus nya tentang varian Omicron ini. Salah satu contoh di benua Afrika, paparan virus yang terus meningkat dengan presentasi paparan pada anak usia 9-12 tahun yang cukup tinggi, " terangnya.

Terkait upaya dan hasil penelitian serta efektivitas vaksin, kata Allen, harus melibatkan para perawat dan pihak terkait tentang titer antibodi yang didapat setelah mendapatkan vaksin.

"Di kesempatan ini saya ikut mengingatkan bahwa vaksin adalah salah satu integral pentingnya," tutupnya.