Miliki Legalitas Resmi, Anggota ASPAKI  Gelar Musyawarah Nasional II
Foto : Munas ASPAKI/ ist

Jakarta, HanTer – Sejauh ini industri alat kesehatan dalam negeri merupakan sektor industri potensial dalam mewujudkan salah satu pilar transformasi bidang kesehatan, yaitu ketahanan kefarmasian dan alat kesehatan. 

Untuk itu, peran asosiasi yang menaungi industri menjadi sangat strategis dalam upaya pembinaan dan pengembangan industri nasional, sehingga industri nasional menjadi lebih berdaya saing.

Dengan adanya asosiasi, dunia usaha yang tergabung dalam asosiasi industri terus membangun sinergi dengan pemerintah dalam mengakselerasi pertumbuhan industri. 

“Saat ini produk alat-alat kesehatan di Indonesia cuma mengcover 12% dipasaran selebihnya di kuasai oleh produk import, jadi ini jauh sekali perbedaannya,” kata Cristina Sandjaja selaku Bendahara Umum periode 2017-2021 disela-sela Munas Aspaki, Kamis (9/12/2021).

Dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, beberapa pasal menyebutkan peran asosiasi industri, seperti penguatan kapasitas industri kecil dan menengah yang dapat dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan pengembangan, serta asosiasi industri dan asosiasi profesi terkait.

ASPAKI adalah asosiasi yang menaungi produsen alat kesehatan Indonesia, saat ini beranggotakan 152 industri, yang memproduksi berbagai alat kesehatan, seperti masker, jarum suntik, hospital furniture, bahan habis pakai, alat elektromedis, produk IVD (in vitro diagnostic), yang jumlah industri dan produknya terus meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan masyarakat akan alat kesehatan. 

Seluruh anggota ASPAKI memiliki legalitas resmi sebagai produsen alat kesehatan, dan sebagian besar telah menerapkan dan memiliki sertifikat CPAKB (Cara Produksi Alat Kesehatan yang Baik). 

Melalui berbagai program kerja yang dilakukan, ASPAKI mendukung kementerian dan lembaga terkait dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Hal ini selaras dengan implementasi amanat Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan untuk pencapaian kemandirian sediaan farmasi dan alat kesehatan.

Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa dalam 6 tahun terakhir terdapat 518 industri alat kesehatan yang baru, atau setara 268,39 %, sebagian besar di antaranya didirikan saat pandemi terjadi. Pertumbuhan yang signifikan tersebut tercermin dalam investasi di bidang alat kesehatan yang mencapai Rp 441 miliar, terdiri dari Rp 209 miliar investasi lokal dan Rp 232 miliar investasi asing.

Kendati demikian, tantangan dan hambatan dalam industri alat kesehatan saat ini masih cukup tinggi. Masih rendahnya kesadaran pengguna anggaran untuk memprioritaskan pembelian produk lokal dengan kualitas baik, kebijakan strategis substitusi impor yang belum maksimal dilakukan, serta bahan baku alat kesehatan yang beragam dan masih banyak impor, menjadi hal-hal yang perlu dibenahi demi menuju industri alat kesehatan nasional yang unggul dan berdaya saing.