Kronologi OTT dengan Uang Rp1 Miliar hingga Bupati PUU Jadi Tersangka Dugaan Suap
Foto : Wakil Ketua KPK Alexander Marwata dalam jumpa pers penetapan status tersangka Bupati PPU. (instagram official.kpk)

Jakarta, HanTer - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gubernur Penajam Paser Utara (PUU) Abdul Gafur Masud (AGM) sebaga tersangka. Ia terjerat kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa serta perizinan di Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara.

Selain Abdul Gafur, lima orang lainnya juga berstatus tersangka dalam perkara sama. KPK menahan enam orang itu. 

KPK menetapkan Bupati Penajam Paser Utara Abdul Gafur Masud dan Bendahara Umum DPC Partai Demokrat Balikpapan Nur Afifah Balqis (NAB) sebagai tersangka 

KPK juga menjerat Plt Sekda Kabupaten Penajam Paser Utara Mulyadi (MI), Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Penajam Paser Utara Edi Hasmoro (EH), Kepala Bidang Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Penajam Paser Utara Jusman (JM), dan pihak swasta Achmad Zuhdi (AZ) alias Yudi.

Kronologi OTT

Tim penindak KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap 11 orang. 

Dalam OTT itu, KPK mengamankan Gubernur Abdul Gafur Masud, Bendahara Umum DPC Demokrat Balikpapan Nur Afifah Balqis, Plt Sekda Kabupaten PPU Mulyadi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten PPU Edi Hasmoro (EH), Kepala Bidang Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten PPU Jusman, Welly yang merupakan istri Mulyadi, Achmad Zuhdi alias Yudi pihak swasta dan empat orang kepercayaan Bupati bernama Nis Puhadi alias Ipuh, Asdar, Supriadi alias Usup, serta Rizky. 

Wakil Ketua KPK, Alaxander Marwata, menyebut OTT dilakukan setelah mendapat informasi dari masyarakat terkait penerimaan uang oleh Abdul Gafur. 

Tim kemudian bergerak berpencar ke beberapa lokasi  menindaklanjuti informasi tersebut. Di antaranya di Jakarta dan Kalimantan Timur," katanya dalam keterangan pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (13/1/2022) malam.

Ia menyebut Selasa (11/1/2022) di salah satu 
kafe di kota Balikpapan dan di daerah sekitar Pelabuhan Semayang, Balikpapan, diduga Nis Puhadi (NP) atas perintah Abdul Gafur mengumpulkan uang dari beberapa kontraktor melalui Mulyadi, Jusman, dan staf Dinas PUPR PPU.

"Uang tunai terkumpul  sekitar Rp950 juta. Setelah uang terkumpul, NP kemudian melaporkan kepada AGM bahwa uang siap untuk diserahkan kepada AGM," ungkapnya.

Abdul Gafur kemudian memerintahkan Nis Puhadi membawa uang tersebut ke Jakarta. Setiba di ibukota, Nis Puhadi dijemput Rizky lalu mendatangi kediaman Abdul Gafur di Jakarta Barat untuk menyerahkan uang tersebut.

Tak lama Abdul Gafur mengajak Nis Puhadi dan Nur Afifah bersama-sama mengikuti agenda Abdul Gafur Masud. Setelahnya bersama-sama pergi ke salah satu mal di Jakarta Selatan dengan membawa uang tersebut.

"Atas perintah AGM, NAB kemudian menambahkan uang Rp50 juta dari uang yang ada direkening bank miliknya. Sehingga uang terkumpul Rp1 miliar dan dimasukkan ke dalam tas koper yang sudah disiapkan NAB," katanya. 

OTT kemudian dilakukan. "Ketika ketiganya berjalan keluar dari lobby mal, tim KPK langsung mengamankan ketiganya beserta uang Rp1 miliar," sambung Alex. 

Saat bersamaan tim KPK juga mengamankan Mulyadi dan istri, Welly, serta Achmad Zuhdi di Jakarta. Sedang tim  KPK di Kalimantan Timur mengamankan Supriyadi, Asdar, Jusman, dan Edi Hasmoro.

"Selain itu ditemukan pula uang yang tersimpan dalam rekening bank milik NAB (Nur Afifah) sejumlah Rp447 juta yang diduga milik tersangka AGM yang diterima dari para rekanan," kata Alex.
(*/yp)