Thomas Deng, Pencari Suaka yang Kini Pimpin Australia
Foto : Thomas Deng (kanan)

Hokkaido, HanTer - Kamis (22/7/2021) menjadi sebuah penantian panjang bagi Australia. Ini merupakan kali pertama tim sepakbola putra mereka kembali berpentas di ajang Olimpiade. Sebelumnya, tim tersebut terakhir kali merasakan manisnya perhelatan pada Olimpiade Beijing 2008.

Tentu saja seluruh punggawa dari tim berjuluk Kanguru Muda tak akan membuang kesempatan untuk menuai hasil sebaik mungkin, meski pada laga pertama mereka harus menghadapi tim kuat, Argentina. Kendati demikian, hal tersebut tak membuat mereka gentar. 

Hal itu dikatakan Thomas Deng. Sang kapten mengaku sangat ambisius saat memimpin koleganya ketika dipercaya mengenakan ban kapten tim Australia. Bek berusia 24 tahun itu, pun mempunyai mental baja untuk ditularkan kepada seluruh kolega. 

Mental baja telah terbentuk dalam diri Deng. Beragam kisah hitam telah dilalui, termasuk ketika ia dan keluarga mencari suaka dengan melarikan diri, mengungsi ke Australia saat berusia enam tahun. Sejatinya, Deng merupakan pria kelahiran Nairobi, Kenya. Namun saat itu negaranya tengah perang konflik dengan Sudan.

Saat dia, bersama dengan empat kakak laki-lakinya dan ibu mereka, memulai hidup baru di Australia, ayah Deng tetap tinggal di Kenya sebagai dokter di sebuah lembaga amal. Alhasil, keluarganya tidak pernah bersatu kembali.

Sebagai anak kecil di Afrika, Deng bermain sepakbola dengan saudara-saudaranya sebagai hiburan. Namun keadaan berubah ketika di Australia, ia bergabung dengan Adelaide Blue Eagles Football Club.

“Karier junior saya pada dasarnya di Adelaide. Klub pertama saya di sana adalah Adelaide Blue Eagles, dan kemudian saya pergi ke Melbourne. Saat itulah saya bermain di Polonia selama dua musim dan akhirnya pindah ke Green Gully. Saya memiliki pengalaman yang baik di sana. Saya sangat menikmatinya."

Saat berada di Green Gully, Deng diperhatikan oleh Melbourne Victory. “Saya masuk dan keluar pelatihan saat itu dan akhirnya saya mendapat kontrak dua tahun. Itu adalah momen yang membanggakan."

“Itu hal yang gila,” tambah bek berusia 24 tahun, “Ketika Anda memikirkan kembali segalanya dan memutar waktu kembali, ada banyak hal yang telah terjadi dalam karir saya yang saya pikir tidak akan terjadi. Dan itulah hal-hal yang saya syukuri," pungkasnya.