Pertandingan Basket AS Kontra Iran Munculkan Keagungan Nilai Luhur dari Olahraga
Foto : Damian Lillard pemain Portland Trail Blazers yang mencetak 21 angka saat Amerika melawan Iran.

Jakarta, HanTer - Bukan hal yang mengejutkan setelah tim bola basket putra Amerika Serikat dengan mudah mengalahkan Iran pada pertandingan kedua Grup A dengan skor telak 120-66 di Saitama Super Arena, Rabu (28/7/2021).

Pelatih Tim USA Gregg Popovich telah menekankan pentingnya bermain secara naluriah dan memilih apakah akan menembak, mengemudi atau mengoper dalam setengah detik, daripada mengamati tempat kejadian dan menghentikan serangan.

Memang, tim Amerika bermain jauh lebih menentukan dalam kemenangannya atas Iran daripada saat kekalahan laga pembukanya dari Prancis. Amerika dengan cepat meluncurkan tembakan tiga angka di awal waktu dan mampu dengan cepat melakukan transisi saat terserang. Ketika dipaksa untuk memainkan pelanggaran setengah lapangan, Amerika Serikat melaju cepat ke ring dan kemudian mengirimkan bola ke penembak yang tak terjaga.

“Masing-masing dari orang-orang ini mencetak 20 atau 25 atau 30 untuk tim [NBA] mereka. Tim mereka bergantung pada itu setiap malam. Kami tidak bisa bermain seperti itu di Olimpiade, jadi kami tidak melakukannya. Semua orang, dalam arti tertentu, adalah pemain yang memiliki peran dan kami tidak membutuhkan pahlawan,” kata Popovich.

Popovich juga mencari konsistensi yang lebih besar di sisi pertahanan setelah kalah dari Prancis, dan timnya merespons dengan intensitas dan fokus, meskipun melawan kompetisi yang jauh lebih lemah. Amerika mencetak 37 poin dari 23 turnover melawan Iran, dan mereka tidak pernah membiarkan lawan mereka menghasilkan momentum nyata.

“Setelah kekalahan dari Prancis, kami bersatu. Ada banyak komunikasi antara dulu dan sekarang. Itu seperti, 'Baiklah, saatnya untuk mulai terlihat seperti Tim USA,” kata Damian Lillard pemain Portland Trail Blazers yang mencetak 21 angka saat Amerika melawan Iran.

Disamping itu, laga Amerika Serikat kontra Iran di Olimpiade Tokyo 2020 ini sejatinya akan dikenang sepanjang masa.

Pasalnya, ini merupakan perjumpaan dua negara yang kerap berseteru dalam dunia politik. Kedua tim sama-sama menghormati dengan khidmat lagu kebangsaan keduanya yang diputar secara bergantian oleh panitia sebelum laga dimulai.

Para pemain pun berjabat tangan sebelum tip-off dan lebih banyak lagi berjabat tangan sesudah laga usai. Pujian, kata-kata bernada sportif antara kedua tim berhamburan sepanjang pertandingan.

Memang, sangat jarang AS bertemu dengan Iran dalam berbagai kesempatan, baik itu di olahraga apalagi politik. Bahkan kedua negara tersebut tak lagi memiliki hubungan diplomatik selama 40 tahun terakhir ini. 

Namun seluruh ketegangan itu cair di Saitama Arena itu. Meski AS memang menang mudah atas Iran dalam laga tersebut, tapi masyarakat dunia akan mengingat hal yang lebih esensial dibandingkan sekedar angka kemenangan, yakni persahabatan kedua bangsa melalui olahraga dan itu merupakan keagungan nilai-nilai luhur dari olahraga.

“Dalam kehidupan umum, saya memandang orang-orang di berbagai negara bergaul jauh lebih baik daripada pemerintah mereka,” kata Popovich menanggapi pertemuan bersejarah di Olimpiade Tokyo 2020 itu.