Liga Eropa Bersihkan Sponsor Perusahaan Judi, SOS Sentil LIB
Foto : Pemain asing Persikabo 1973 (ilustrasi)

Jakarta, HanTer - Beberapa kompetisi bergengsi di benua biru diantaranya La Liga Spanyol dan bahkan Premier League alias Liga Inggris mulai gencar melarang kepada seluruh klub kontestan mengenakan seragam dengan label sponsor judi. 

Agustus lalu, lima klub La Liga Spanyol yakni Deportivo Alaves, Real Mallorca, Real Sociedad, Cadiz dan Granada sepakat untuk melepas sponsor perusahaan perjudian yang melekat didalam jersey mereka. 

Kemudian pada Kamis (23/9/2021) giliran Premier League menggencarkan untuk menolak adanya klub yang memakai kostum berlabel sponsor perusahaan judi. Dikutip Mirror, pemerintah Inggris diminta untuk mengeluarkan aturan mengenai larangan pemakaian jersey yang dilabeli sponsor perusahaan perjudian. 

Perubahan yang diharapkan diperkirakan akan diterapkan mulai 2023 setelah dibahas di Parlemen, yang seharusnya memberi kesempatan klub untuk merestrukturisasi program sponsor mereka.

Berita itu muncul setelah Peter Shilton, mantan penjaga gawang Inggris, bergabung dengan para juru kampanye untuk menyerahkan petisi yang ditandatangani oleh 12.000 orang ke 10 Downing Street untuk menyerukan diakhirinya iklan perjudian yang berlebihan di dunia sepakbola.

Ya, liga-liga top Eropa mulai berbenah agar aspek fairplay tetap terjaga tanpa adanya indikasi dugaan praktik pengaturan skor. Sebab hal itu hanya menimbulkan citra negatif. Tak ayal federasi diberbagai liga Eropa mulai gencar mengkampanyekannya seperti La Liga dan Premier League.

Langkah itu tentu saja patut di contoh Indonesia. Dimana hingga saat ini, tepatnya pada kompetisi Liga 1 musim 2021/2022, sponsor perusahaan perjudian masih melekat di jersey klub. Salah satunya Persikabo 1973 dengan SBOTOP-nya. Tak ayal citra buruk ihwal sepakbola Indonesia, terutama dalam kompetisi berjenjang acap melekat. 

Akmal Marhali selaku Koordinator Save Our Soccer (SOS) misalnya. Ia menerangkan, PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator sejatinya telah mengeluarkan sebuah aturan, tepatnya pada musim 2020 yang saat itu posisi Direktur Utama LIB masih dijabat Cucu Soemantri. 

"Musim 2020 saat kompetisi hanya berjalan tiga laga LIB yang dipimpin Cucu Soemantri sudah mengeluarkan larangan klub disponsori prosuk alkohol, rokok, dan rumah judi," kata Akmal, Kamis (23/9/2021). 

Menurutnya aturan itu tertuang melalui surat bernomor 103/LIB/II/2020 tertanggal 25 Februari 2020. Dimana operator tidak mengizinkan partisipan kompetisi yang dikelola PT LIB untuk menjalin kerja sama komersial dengan produk berkaitan brand rokok, minuman beralkohol, dan situs perjudian.

Bahkan pelarangan LIB disertai beberapa poin yang merujuk kepada peraturan pemerintah. Diantaranya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Pasal 27 Ayat 2 tentang Infromasi dan Transaksi Elektronik. PP No. 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.

Lalu Perpres No. 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Kemudian Permendag No. 20 Tahun 2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol. 

"Artinya, bila sekarang dibolehkan. LIB harus mencabut dulu surat nomor 103/LIB/II/2020. Selama LIB dan PSSI tidak tegas dengan kebijakan yang dibuat dan dikeluarkan, jangan berharap tata kelola kompetisi sepakbola Indonesia akan berjalan dengan benar," tegasnya. 

"Problem mendasar sepakbola Indonesia adalah penegakkan regulasi. Aturan dibuat untuk dilanggar dan dilupakan. Bila dari awal sudah tidak tegas, jangan berharao kompetisi akan berjalan sehat, profesional, dan bernartabat. Yang saya khawair jangan-jangan dirut LIB tidak paham dan tidak tahu adanya kebijakan tersebut. Akhirnya membiarkan pelanggaran terjadi," pungkas Akmal mengakhiri.