Newcastle United Resmi Dimiliki Konsorsium Arab 
Foto : Mohammed bin Salman (ist)

Newcastle, HanTer - Kabar gembira menghiasi kubu Newcastle United. Klub yang saat ini bercokol di peringkat 19 kompetisi Premier League resmi diambil alih konsorsium dibawah kendali Arab Saudi melalui Public Investment Fund, Kamis (7/10/21) malam WIB.

Newcastle United yang sebelumnya dimiliki pebisnis Inggris, Mike Ashley, kini telah resmi diakuisisi grup investor yang dimotori kerajaan Arab Saudi melalui  Public Investment Fund atau dana investasi publik. PIF sendiri dipimpin oleh putra mahkota Arab Saudi yakni Pangeran Mohammed bin Salman.

Grup investor yang berisikan Public Investment Fund, PCP Capital Partnes, serta RB Sports & Media telah menyelesaikan akuisisi 100% kepemilikan klub yang bermarkas di St. James’ Park tersebut.

Pihak Public Investment Fund sendiri menjadi investor terbesar dengan menyediakan 80% dana untuk proses akuisisi tersebut, dan menjadi pemilik mayoritas klub. Lebih lanjut, biaya total akuisisi tersebut dilaporkan mencapai nilai 300 juta pounds atau sekitar Rp5,8 triliun.

“Pihak Liga Primer Inggris, Newcastle United Football Club, dan St James Holding Limited hari ini telah merampungkan proses pengambi alihan klub oleh konsorsium berisi PIF, PCP Capital Partnes, serta RB Sports & Media,” ungkap pernyataan resmi Liga Primer Inggris.

“Seiring dengan berakhirnya tes direktur dan pemilik Liga Primer (Premier League’s Owners’ and Directors’ test), klub Newcastle United telah resmi dijual di pihak konsorsium, dan berlaku secepatnya.”

Di sisi lain, pihak Liga Inggris memastikan kerajaan Arab Saudi tidak akan terlibat langsung dalam memimpin Newcastle United, meski mereka menjadi investor utama melalui PIF.

“Liga Primer Inggris telah menerima jaminan mengikat bahwa Kerajaaan Arab Saudi tidak akan mengendalikan Newcastle United. Seluruh pihak gembira dengan selesainya proses ini yang memberikan kepastian dan kejelasan bagi Newcastle United dan para fans mereka.”

Proses akuisisi Newcastle United oleh Arab Saudi sebelumnya sempat terhambat, di antaranya karena isu pembajakan hak siar Liga Inggris yang marak di negara tersebut dan juga terkait masalah utama berupa adanya dugaan pelanggaran HAM Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menyangkit pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.