Pelaku Perusakan Bus Arema Wajib Diberi Sanksi Berat
Foto : Sejumlah kaca bus Arema FC tampak rusak (ist)

Jakarta, HanTer - Aksi vandalisme dengan kedok sepakbola terjadi di Yogyakarta. Bus salah satu klub peserta Liga 1, Arema FC yang sedang di parkir di pelataran hotel dirusak sekelompok orang yang diduga membawa atribut Persebaya dan Bonekmania. 

Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer (SOS), lembaga pemerhati sepakbola nasional mengatakan, insiden tersebut sangat mencoreng industri olahraga si kulit bundar di Indonesia. Apalagi, kejadian terjadi di masa pandemi yang menerapkan protokol kesehatan ekstra ketat.

"Sungguh, kejadian yang sangat memprihatinkan di tengah pandemi Covid-19 dan di saat pemerintah mulai memberikan izin kompetisi sepakbola Indonesia boleh digelar tanpa penonton. Ini harus menjadi catatan Satgas Covid-19, BNPB, Kepolisian, dan Kemenpora. Juga menjadi warning buat PSSI dan PT LIB," katanya, Kamis (21/10/2021).

Menurutnya, jangan sampai akibat ulah segelintir ,orang kegiatan sepakbola kembali dihentikan. Untuk itu, jelas dia, PSSI dan LIB harus tegas terhadap para pelaku kerumunan seperti nonton bareng, konvoi, bahkan demo klub dengan libatkan banyak massa yang belakangan bermunculan. 

"Tegas tegakkan regulasi. Pembiaran akan menjadi pembenaran. Puncaknya, muncul aksi anarkisme dan vandalisme di Yogyakarta karena lemahnya pengawasan dan penegakkan aturan," tuturnya.

"Jangan beri tempat untuk kriminalitas di sepakbola nasional. Kejadian ini bisa jadi berulang bila tidak diberikan hukuman berat kepada pelakunya. Bukan hanya hukum sepakbola, tapi juga hukum pidana," kata Akmal.

Ia menerangkan, pasal yang dapat digunakan untuk melaporkan pelaku perusak mobil lebih dari satu orang ialah Pasal 170 ayat (1) KUHP yang berbunyi: Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. 

"Dalam konteks hukum sepakbola ulah suporter yang melakukan aksi kriminalitas juga bisa masuk ranah Komdis dan dapat dihukum berat."

Apalagi, lanjutnya, dalam regulasi PSSI pasal 4 ayat 2 soal keamanan dan kenyamanan ditegaskan bahwa setiap klub bertanggung jawab terhadap tingkah laku dari pemain, ofisial, personel, fans/penonton dan setiap orang terkait klub tersebut selama penyelenggaraan Liga 1.

Ditempat terpisah, Arema FC, melalui media officernya, Sudarmaji mengutuk keras aksi anarkis tersebut. Menurutnya, kejadian ini menodai semangat kompetisi Liga 1 di masa pandemi. Untuk itu, klub berjuluk Singo Edan akan berkirim surat resmi ke PSSI dan LIB guna menuntaskan masalah tersebut.

"Tentu saja kami sangat menyayangkan dan mengutuk kejadian tersebut karena mencederai semangat dari kompetisi. Arema FC akan berkirim surat hari ini ke PSSI dan LIB agar segera menindaklanjuti agar tidak timbul reaksi dari kejadian tersebut," kata Sudarmaji. 

Sebagaimana diketahui, bus milik klub Arema FC diserang oleh oknum suporter yang diduga Bonek Mania pada Rabu (20/10/2021) malam di pelataran parkir sebuah hotel di Yogyakarta. 

Sudarmaji menjelaskan ada sekitar 10 orang pelaku yang melakukan penyerangan terhadap bus Arema FC. Saat ini, kata dia, pihak kepolisian setempat sudah mengamankan satu pelaku perusakan bus tersebut.

Sudarmaji juga mengatakan manajemen Arema FC mengaku langsung menerima permohonan maaf dari manajemen Persebaya atas kejadian tersebut. "Kami sudah menerima permintaan maaf dari ofisial Persebaya. Kebetulan oknum pelaku perusakan bus menggunakan atribut identik dengan suporter Persebaya," pungkasnya.