Menpora Amali Beberkan Visi dan Misi DBON kepada Media di Manado
Foto : Menpora Zainudin Amali

Jakarta, HanTer - Kota Manado di Sulawesi Utara yang eksotis dan indah, menjadi kota keenam yang disambangi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali dalam mengarungi misinya mensosialisasikan produk Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 86 Tahun 2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).

Sebelum Manado, DBON yang merupakan 'blue print' atau cetak biru pengembangan pembinaan prestasi olahraga Indonesia juga sudah disosialisasikan di kota Jayapura, Jakarta, Makassar, Bandung dan Surabaya.

"DBON itu dasarnya adalah Perpres RI nomor 86 tahun 2021 yang diteken Presiden Jokowi tepat pada Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-38 tahun lalu, di mana pada moment yang sama setahun sebelumnya Presiden Jokowi menginginkan review total tentang ekosistem olahraga nasional," ucap Menpora Amali di Manado, Selasa (23/11/2021).

Menteri asal partai Golkar itu juga menyebutkan usai mendapat instruksi untuk mereview total tentang ekosistem olahraga nasional dari orang nomor satu di Indonesia, Menpora bergerak cepat dengan melakukan diskusi terhadap KONI, KOI, NPC, akademisi dan praktisi olahraga nasional, guna memetakan persoalan olahraga nasional.

"Ternyata ketemu, selama 76 tahun Indonesia merdeka belum ada desain baku pembinaan olahraga," jelas mantan anggota DPR RI empat periode ini yang mengungkapkan latar belakang lahirnya DBON.

Lahirnya DBON ini, lanjut Menpora Amali, sebagai jembatan Indonesia menuju prestasi lima besar dunia pada saat 100 tahun Indonesia Merdeka (tahun 2045). Caranya bagaimana? Dengan DBON, pembinaan olahraga difokuskan ke cabor-cabor tertentu. "Cabor yang mengandalkan teknik dan akurasi, terukur," katanya.

Sementara itu, terdapat 14 cabor yang menjadi prioritas pembinaan di DBON, antara lain bulutangkis, angkat besi, atletik, panahan, menembak, karate, renang, balap sepeda, taekwondo, panjat tebing, silat dan wushu di antaranya.

"Pembinaan olahraga memang harus fokus. Cabor mana yang berpotensi, itu yang diseriusi. Itu yang akan kita minta ke pemda. Kalau semua diurusi, malah tidak fokus," jelas Menpora Amali yang secara sederhana mengatakan bahwa melalui DBON ini akan mencari 150 atlet elite Indonesia yang disaring dari 250 ribu atlet bertalenta.

Bagaimana dengan sepakbola yang. notabene olahraga terpopuler di Indonesia? Menpora menyebutkan, sebagai olahraga yang digemari 73 persen rakyat Indonesia, sepakbola tentu jadi prioritas. "Meskipun demikian, sepakbola tidak termasuk 14 cabor prioritas prestasi tadi, tapi dia ada kamarnya sendiri di DBON, yakni Industri Olahraga. Sepakbola, bola basket dan bola voli dimasukkan sebagai olahraga industri sebagaimana yang sudah jalan selama ini adanya kompetisi profesional," jelas alumnus SMPN 1 Manado ini.

"Pertimbangannya, lebih kepada alasan ekonomi. Pada saat kompetisi Liga Indonesia berhenti karena pandemi Covid-19, PSSI dan LIB melaporkan ada dana yang hilang sedikitnya Rp 3 triliun," jelasnya.

Meski demikian, Menpora menegaskan, sepakbola ditargetkan bisa lolos Olimpiade 2024. "Prestasinya tetap kita dorong tapi pola pembinaannya beda dari yang tadi," jelasnya.

MenporaAmali juga menegaskan jika ditinya tidak bekerja sensirian di mana DBON itu melibatkan lintas kementerian dan lembaga negara.

Selanjutnya, Kemenpora akan membangun pusat pelatihan bagi cabor-cabor yang masuk prioritas DBON di Cibubur. Di pusat pelatihan ini nantinya dilengkapi penginapan atlet dan pelatih, pusat penelitian olahraga. Lengkap dengan dokter dan fasilitas pendukungnya. "Tapi nantinya saya berlakukan sistem promosi dan degradasi. Artinya kalau cabor itu tidak lagi berprestasi, diganti dengan yang berprestasi," jelasnya.

Menpora Amali menyadari, mewujudkan DBON tidak mudah tapi ia yakin bisa ketika semua pihak punya visi yang sama. "Kita juga menyamakan persepsi dengan induk-induk cabor. Mereka harus segera menyesuaikan diri. Tidak bisa lagi parsial seperti sebelumnya," pungkasnya.