Giliran Wasit Jadi Sorotan, Akmal; Kompetisi Sekadar Jalan!
Foto : Akmal Marhali (ist)

Jakarta, HanTer - Akmal Marhali selaku koordinator Save Our Soccer (SOS), yakni lembaga pemerhati sepakbola nasional, sangat menyayangkan sejumlah 'kejadian' acap tersaji di dalam kompetisi berjenjang Tanah Air. Beragam kejanggalan acap terlihat, dimulai dari Liga 1, Liga 2 hingga ke Liga 3.

Sebelumnya, dengan lantang Akmal kerap 'berteriak' ihwal adanya dugaan sepakbola Indonesia kembali disusupi praktik kotor berupa pengaturan skor alias match fixing. Dan alhasil, dugaan tersebut mulai terbukti ada, utamanya di kompetisi kasta kedua atau Liga 2 musim ini.

Dimana, manajemen Perserang Serang mengakui adanya praktik kotor yang dilakukan beberapa pemain. Belum rampung masalah pengaturan skor, hal lain turut 'meramaikan' industri persepakbolaan Tanah Air. Diantaranya tentang kinerja wasit yang dianggap kadang 'berat sebelah' alias memihak klub tertentu dalam memimpin sebuah pertandingan.

Berikutnya, kejadian lain pun turut meramaikan tatanan kompetisi, seperti acap tertabraknya regulasi yang ada. Sederet masalah tersebut tak ayal membuat Akmal menyebut bahwa gelaran kompetisi musim ini terbilang hanya sekadar jalan dan selesai. 

Alhasil, alih-alih melepas kerinduan setelah kompetisi sempat tertunda sejak Maret 2020, seolah justru membuat jengah para pecinta bola Tanah Air yang menyaksikan beberapa kejadian kontroversi, seperti adanya dugaan praktik pengaturan pertandingan, kontroversi kepemimpinan wasit serta lemahnya penegakkan regulasi.

"Kualitas sepakbola nasional semakin buruk dibandingkan musim sebelumnya. Mulai dari jeleknya kinerja wasit sampai lemahnya penegakkan regulasi. Kompetisi sekedar jalan. Kalau istilah di sinetron sebatas kejar tayang, stripping tanpa memperhatikan kualitas," kata Akmal, Selasa (23/11/2021).

Berbicara ihwal kepemimpinan wasit, rapor merah diberikan SOS di Liga 1, Liga 2 sampai Liga 3. Hampir setiap pekan terjadi kontroversi. Padahal, gaji wasit sudah naik menjadi Rp10 juta. Atau bisa dikatakan yang terbesar di kawasan Asia. 

"Akan tetapi, kualitas justru yang terendah. Dua laga Liga 1 kemarin antara PSIS Semarang vs PSM Makassar dan Persipura vs Persikabo wasitnya tidak bisa membedakan hal mendasar mana offside dan onside," cetus Akmal.

Yang menarik di laga PSIS Semarang vs PSM Makassar, lanjut dia, justru ada kejadian menggelikan, dimana kiper Jandia Eka Putra memakai jersey Joko Ribowo. Dalam regulasi pasal 20 ayat 2 yang dikeluarkan PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator menegaskan bahwa nomor punggung yang digunakan harus sesuai dengan yang tertera di formulir pertandingan. 

Pelanggaran akan terkena sanksi. Kasus kostum salah ini pernah terjadi di Liga 2 antara Persis Solo vs Martapura FC pada 14 Juli 2019 di Stadion Willis, Madiun. Persis bermain dengan 10 orang setelah M. Shulton Fajar tidak diperbolehkan tampil oleh pengawas pertandingan, Mariyono. 

Shulton harusnya menggunakan nomor 44, namun di jersey-nya mengenakan nomor 94. Kasus Persis sejatinya bisa dijadikan yurispridensi. Selain itu ada sejumlah kasus jersey kiper yang mirip dengan wasit dan itu dibiarkan. Juga penegakkan regulasi terkait lisensi pelatih tidak dijalankan dengan tegas. Pelatih harus lisensi AFC A Pro. 

Pelatih caretaker bertugas maksimal 30 hari dan klub harus segera punya pelatih kepala berlisensi AFC A Pro. "Faktanya, ini juga tidak tegas dijalankan. Padahal, sudah tertera di regulasi. Ingat, ini kompetisi profesional, bukan tarkam! Mau sampai kapan kompetisi digarap asal-asalan?" cetusnya. 

Ditempat terpisah, Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan mengatakan federasi terus berkomitmen untuk memberantas segala praktik suap, pengaturan skor serta match fixing di kompetisi berjenjang Tanah Air. Seperti diketahui, saat ini sedang ramai terkait suap yang ada di kompetisi Liga 3 2021 Jawa Timur.

Terkait komitmen wasit di Liga 1 dan Liga 2, Iriawan menyatakan bahwa bahwa saat ini kesejahteraan wasit sangat diperhatikan oleh PSSI. Apalagi gaji wasit di Liga 1 2021/2022 sudah paling tinggi sepanjang sejarah kompetisi di Indonesia.

"Saya juga minta wasit, asisten wasit untuk menjaga integritas, kejujuran, ketegasan di dalam lapangan. Sebab baik buruknya pertandingan sangat tergantung pada wasit,” ucap dia.