Tumpul ke Wasit, Tajam ke Pemain, SOS: PSSI Pilih Kasih Sanksi
Foto : Akmal Marhali (ist)

Jakarta, HanTer - Akmal Marhali selaku koordinator Save Our Soccer (SOS) sangat menyayangkan keputusan Komisi Disiplin (Komdis) yang dianggapnya masih kurang tegas. Berdasarkan catatan yang dirangkumnya, ketidaktegasan tak lepas lantaran adanya pilih kasih sanksi antara pemain dengan perangkat pertandingan alias wasit.

Bukan hanya di Liga 1 sebagai kasta tertinggi kompetisi sepakbola Tanah Air. Kerancuan sanksi juga terlihat di kompetisi jenjang usia muda bertajuk Elite Pro Academy. Kritik datang setelah Komdis PSSI menerbitkan sanksi terhadap sejumlah pemain di Elite Pro Academy U18.

Menurutnya hampir di semua level kompetisi bermasalah. Liga1, Liga2, Liga3 sampai Elit Pro Academy (EPA). Sayangnya, tidak ada langkah progresif dari PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator untuk membenahinya. 

Mulai dari pelanggaran regulasi sampai kepada tindakan kekerasan di lapangan. Dan ironisnya, jelas Akmal, mayoritas kekerasan di lapangan terjadi karena buruknya kepemimpinan wasit.

"Anehnya, PSSI pilih kasih soal sanksi. istilahnya tumpul kepada perangkat pertandingan, tapi tajam terhadap pemain dan klub. Sampai sejauh ini tak jelas sanksi wasit yang bermasalah. PSSI menutupinya," kata Akmal. 

"Padahal, tak ada satu pun regulasi FIFA yang memerintahkan sanksi wasit harus ditutupi. Hanya sanksi Mustafa Umarella yang diumumkan. Itu pun tujuannya hanya untuk meredam demonstrasi yang dilakukan pendukung Persebaya."

Tapi, tidak jelas berapa lama sanksinya. Tiba-tiba Mustafa sudah kembali bertugas sebagai wasit cadangan. Begitu juga Iwan Sukoco dan lainnya. Tak ada sanksi denda juga terhadap wasit yang dibayar Rp10 juta per pertandingan," tegas dia.

Sebagai contoh, SOS membandingkan mengenai sanksi wasit dan pemain atau klub. Tak ayal bila Akmal menyebut bahwa ketukan palu Komdis begitu bengis. Semisal mengenai hukuman larangan bermain 12 bulan plus denda Rp 50 juta yang dijatuhkan kepada Todd Rivaldo Albert Ferre karena dituduhkan memukul wasit saat laga Persipura vs Bali United. 

"Anehnya, Komdis menjatuhkan vonis kejam tanpa meminta keterangan sang pemain. Hanya membaca laporan dari pengawas pertandingan. Tanpa rekaman. Save Our Soccer mencoba menyidik. Ternyata Todd Ferre sama sekali tidak melakukan pemukulan seperti yang dituduhkan," jelas dia.

"Bahkan, sang pemain berani bersumpah. Di lapangan dia hanya memegang jam wasit untuk melihat waktu yang sudah habis. Di lorong hanya cekcok omongan saja. Sanksi kejam juga diberikan kepada dua pemain muda Bhayangkara FC di EPA U-18: Hugo Samir dan Dzakwan Husam Sulaiman," urainya menambahkan.

Keduanya dihukum larangan tampil selama 12 bulan dan denda Rp5 juta. "Sungguh, bukan sanksi yang mendidik buat pemain muda. Apalagi, kejadian semua karena ulah wasit yang justeru sama sekali tak dihukum. Bahkan, terkesan dilindungi PSSI. Mau sampai kapan sepakbola kita seperti ini? Sampai kapan sanksi berorientasi uang dan mematikan karir pemain muda?" pungkasnya.