Keseimbangan Kehidupan Kerja di Masa Work From Home COVID-19
Foto : Fita Fathurokhmah, M.Si, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh: Fita Fathurokhmah, M.Si

Di masa Covid-19, banyak orang sibuk dengan pekerjaan, keluarga, serta hal terkait dengan pribadi. Seperti yang dinyatakan Delecta, 2011 bahwa terdapat tiga area dasar kehidupan yang harus dipenuhi yaitu tuntutan pekerjaan, keluarga dan hal pribadi. 

Fenomena sebelum Covid-19 banyak ditemukan manusia sulit memenuhi tiga area dasar kehidupan tersebut sehingga keseimbangan kehidupan kerja gagal didapat. Tetapi hikmah yang bisa diambil dari wabah Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia, peluang besar kita dapat memenuhi tiga area dasar kehidupan itu dengan cara pengaturan waktu secara proporsional dirumah.

Pada akhir tahun 2019 dunia dihebohkan dengan penyebaran virus Corona. Pada awal bulan Mei 2020, Indonesia menjadi negara dengan tingkat penyebaran virus yang cukup tinggi yaitu melebihi 10 juta korban terinfeksi. Indonesia termasuk negara dengan tingkat kematian yang cukup tinggi yaitu sekitar 7,6 persen di awal bulan Mei 2020 (Worldmeter, 2020).

Situasi pandemic ini membuat pemerintah berbagai negara termasuk Indonesia memberlakukan kebijakan Work from Home.

Menindaklanjuti penyebaran virus ini, pemerintah Indonesia membuat kebijakan Work from Home, mewajibkan bekerja dari rumah. Hal ini terkait dengan  pasal 86 ayat (1) huruf a pada UU ketenagakerjaaan No 13 tahun 2013 tentang ketenagakerjaan dimana setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja. 

Work from Home menjadi salah satu inisiatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja atau Work Life Balance. 

Selain itu WFH sendiri sebetulnya merupakan salah satu solusi untuk mengatasi stres kerja karena bekerja dari rumah dianggap dapat meningkatkan fleksibilitas batas antara domain pekerjaan dengan domain keluarga. Aspek WFH terdiri dari 2: pertama, kita bekerja diluar tempat kerja secara umum, kedua, terdapat hubungan atau keterkaitan antara rumah dengan kantor tempat bekerja (Rupietta&Beckmann, 2018).

Komunikasi dan pertukaran informasi dimungkinkan terjadi dengan menggunakan kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi melalui berbagai saluran media komunikasi.

Keseimbangan Kehidupan Kerja disaat Work from Home Covid-19

Fenomena dimasa Covid-19 terkait kebijakan WFH bagi pekerja perempuan dan laki-laki dan pasangan suami istri dalam rumah tangga yang sama-sama menjalankan WFH harus sama-sama memainkan peran keseimbangan kehidupan kerja. Work Life Balance sebagai situasi yang terjadi Ketika seseorang mampu menyeimbangkan perannya dalam pekerjaan dan kehidupan diluar pekerjaannya.

Keseimbangan kehidupan kerja merupakan kemampuan seseorang dalam menyeimbangkan antara tuntutan pekerjaan, tuntutan kebutuhan-kebutuhan pribadi maupun keluarganya. Kita dituntut untuk mampu berkomitmen dan memenuhi tanggung jawab dipekerjaan dan komitmen diri dalam berkeluarga. Ada 3 aspek dalam Work Life Balance: 1. Keseimbangan waktu yang digunakan saat melakukan peran individu dalam pekerjaan dan kehidupan lain diluar pekerjaan, 2. Keseimbangan keterlibatan dari berbagai peran, 3. Keseimbangan kepuasan. 

Untuk memenuhi keseimbangan kehidupan kerja disaat WFH Covid-19 ini ada 6 faktor yang dapat memengaruhi: 1. Gender, yaitu peran perempuan dan laki-laki dengan sistem pembagian tugas yang harus seimbang. Menurut Betty Friedan dalam buku The Fountain of Age, mendukung androgini. Androgini adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin pada saat yang bersamaan.

Hal ini diperlukan pada konteks keseimbangan kehidupan kerja saat Work from Home Covid-19 ini. Bahkan androgini harus dilakukan tidak hanya pada masa WFH saja tetapi pada kehidupan seutuhnya.

Perempuan dan laki-laki dalam arti identitas gender, adalah orang yang tidak dapat sepenuhnya selalu dengan peranan gender maskulin dan feminin yang tipikal dalam masyarakatnya tetapi sama-sama dapat bertukar peran. Friedan mendorong laki-laki untuk mengembangkan kualitas feminin yang pasif, penuh keinginan untuk merawat, serta kontemplatif, dan perempuan untuk mengembangkan kualitas maskulin yang tegas, asertif, atau penuh petualangan. Kenyataan yang ditemukan adanya ketidaksetaraan gender yang seringkali dikaitkan dengan sistem pembagian tugas dalam keluarga yang dilakukan secara tradisional.

Mengurus pekerjaan rumah tangga dianggap sebagai tugas utama perempuan. Hal itu menjadi rentan perempuan mengalami konflik peran Ketika mereka juga harus bekerja 2. Psychological Well-Being, Individu yang memiliki psikis baik, positif, penerimaan diri yang tinggi, memiliki harapan dan optimis, diprediksi cenderung memiliki tingkat keseimbangan kehidupan kerja tinggi. 3. Dukungan kerja dari tempat asal bekerja seperti atasan sangat memengaruhi dari Work Life Balance. 4. Dukungan keluarga sama saja dikategorikan pada dukungan sosial. Dukungan pasangan satu sama lain sangat menentukan apakah akan suskes menjalankan keseimbangan peran. 5. Waktu kerja yang fleksibel akan mudah membagi kerja antara tuntutan pekerjaan dan tuntutan pribadi keluarganya, 6. Tanggung jawab terhadap pengasuhan anak ini menunjukkan adanya keseimbangan peran dalam pekerjaan dan keluarga.  

Kenyataan yang ditemukan dari berbagai riset, bahwa keseimbangan kehidupan kerja sebelum pandemik Covid-19 lebih tinggi dibandingkan saat pandemik Covid-19 karena konflik peran antara pekerjaan dan tuntutan tugas yang dilakukan selama ini sebelum pandemik Covid-19 dengan kehidupan pribadi dan keluarganya. Dengan kata lain pekerjaan tidak dianggap mengganggu terhadap pengembangan pribadi dan kesejahteraan keluarganya. Solusi yang bisa dilakukan untuk menekan konflik peran tersebut dan meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja lagi di saat Covid-19 ini adalah dengan keenam faktor diatas dilakukan dengan proporsional.

*) Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta