Perayaan Balas Dendam

***
Perayaan Balas Dendam
Benny Benke/ ist


Oleh: Benny Benke (Jurnalis)


Meskipun untuk beberapa saat pertama terasa menyenangkan, melegakan dan memuaskan. Tindakan balas dendam, demi melunaskan kesumat dendam, dipastikan berbuntut panjang.

Lihatlah teater balas dendam politik antar politisi partai Demokrat kiwari. Yang katanya dibangun dari arsitektur sakit hati himpunan orang-orang lama di partai itu. Juga orang di luar partai. Yang tersingkirkan atau sengaja disingkirkan, karena ditimbang sudah tidak sejalan dengan pemegang tampuk kekuasaan partai. 

Yang kemudian bersekutu, berikhtiar merebut partai dengan bantuan dan melibatkan orang ketiga. Yang notabene orang Istana. Dengan cara apa saja. Sekaligus menghina moral dan etika.

Setelah dendam politik dilunaskan, dipastikan juga, balas dendam balasan akan datang dari pihak lawan. Demikian seterusnya. Tidak akan pernah padam dan berkesudahan. Apalagi SBY sudah terang benderang mengatakan akan mengobarkan perang perlawanan. Perang yang diperlukan. War of Necessity.
Para ilmuwan psikologi menemukan simpulan, bahwa alih-alih memadamkan permusuhan, aksi balas dendam justru dipercaya akan memperpanjang ketidaknyamanan dari pelanggaran pertama atau aslinya. 

Boro-boro memberikan rasa keadilan, aksi balas dendam (politik) sering kali hanya menciptakan siklus, atau lingkaran pembalasan yang tidak akan pernah berkesudahan.

Jadi dipastikan, aksi "berbalas pantun" dalam konteks partai Demokrat, akan masih dan terus terjadi ke depan. Masih panjang. Marathon dan melelahkan. Dengan intensitas makin menegang, dan mungkin sekaligus njelehi (membosankan) pada akhirnya. Buntutnya, publik akhirnya menyimpulkan, siapapun yang berseberangan dengan rezim, dihancurkan pada akhirnya. Rezim mana saja.

Sebagaimana kita maklumi bersama. Kita sering mendapatkan petuah dari para tetua. Bahwa balas dendam adalah motivasi yang tercela atau tidak baik. Akibatnya, mengejar atau melunaskan balas dendam seharusnya tidak menjadi metode pilihan pertama, saat memberikan hukuman untuk aksi kejahatan yang pernah ditimpakan kepada kita.

Meski kita sadari, balas dendam, baik secara diam-diam, dengan cara meminjam tangan, maupun aksi terang-terangan, acap menjadi pilihan pertama dan utama. Karena sebagai prasangka dan syahwat purba, balas dendam terlalu asyik untuk tidak dilunaskan. Terlalu lezat untuk tidak dirasakan. Seperti rindu, dendam harus dituntaskan.

Tidak mengherankan dalam dunia politik, langkah kuda dengan langkah dendam penuh semangat kejahatan, berjarak sebenang. Karena di dunia politik, adagium menegaskan; "tujuan membenarkan cara". Semua halal hukumnya. Dibolehkan. Yang menyertakan moral, etika apalagi agama ke laut saja.

Meski dari pihak yang kalah atau sengaja dikalahkan dalam ranah politik, selalu menggunakan logika; "bukankah para korban kejahatan (politik) layak mendapatkan semacam balasan atas penderitaan mereka?" 

Jadi, akankah keadilan dan balas dendam bertentangan satu sama lain, atau keduanya justru benar-benar berjalan seiring? Selama seiring setujuan kita kawan, jika berseberangan kita adalah lawan. 

Kalau sudah demikian, pengampunan atas balas dendam, seperti yang diajarkan di kelas Agama apakah masih relevan dalam dunia politik? 

Meski semua agama Samawi mengajarkan balas dendam bukanlah pilihan. Karena balas dendam hanya akan menambah masalah. Kalaupun terpaksa membalas dendam, harus setara pembalasannya (an eye for an eye). Atau balaslah dengan tingkat yang sama seperti kesakitan yang menimpa kita. Setimbang. Tetapi jika kita bersabar, akan lebih baik adanya.

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Al-Quran 16: 126). 

Ah...mana ada etika, moral dan agama dilibatkan dalam perilaku pengambilan keputusan politik di negeri yang katanya Pancasila ini. Agama di bawah tilam saja. Logika politik biar berlari dengan caranya sendiri. Seperti terjadi selama ini. Otonom auto terkam menerkam.

Dengan demikian, ajaran yang mengatakan praktisnya, hanya ada satu pilihan, yaitu MEMAAFKAN. Tidak berlaku di ranah ini. Basi. Ke mana aja loe. Bangun woe. Maka, biarkan balas dendam beranak pinak. Merayakan kesumatnya.

Dengan demikian balas dendam dengan sukses dapat membuka babak baru, yaitu 'balas dendam setelah balas dendam', dengan menghilangkan pengampunan demi menyudahi atau mengakhiri rantai setan ini.

Cerita tentang PENGAMPUNAN yang berarti sudah berhenti total menanggalkan dendam, tinggal cerita dan tanggal di negeri ini.

Cerita elok tentang orang yang pernah menjadi musuh Anda juga partai Anda, misalnya. Yang kemudian dengan kebesaran hati dua belah pihak berdamai, lalu menjadi teman tersayang, atas nama kemanusiaan, adalah nonse belaka. 

Karena di Indonesia, mungkin juga di negara lain, balas dendam adalah "makanan" paling favorit. Yang akan dibawa sampai nanti. Sampai mati.

Karenanya, sebelum orang jahat mendapatkan balasan setimpal, balas dendam tidak akan pernah berkesudahan. Dan di dunia politik, hampir semua pelakunya telah, akan dan sudah melakukan kekejaman politis antarsesama. Diakui atau tidak, diniatkan atau tidak, dan disadari atau tidak.

Akhirnya, meski politik terlalu penting untuk diabaikan. Persoalannya, masih adakah orang baik di dalam dunia politik. Yang tak menyertakan dendamnya, jika telah berbicara tentang perebutan kekuasaan?