Surat Terbuka untuk BEM UI: Orang Tuamu Mengharapkan Dirimu Jadi Singa, Bukan Kucing
Foto : Dr. Mohammad Nasih

Oleh: Dr. Mohammad Nasih

KETIKA demokrasi tidak berjalan normal, mengatakan kebenaran yang sudah terang-benderang pun menjadi tidak ringan. Apalagi melihat banyak tokoh kritis dikriminalisasi dan dimasukkan bui dengan tuduhan yang jelas dicari-cari, bisa menyiutkan nyali. Kecuali mereka yang tetap menginginkan dan menyalakan api optimisme agar bangsa ini di masa depan tidak masuk ke dalam jurang yang dalam.

Mengatakan kebenaran dalam kekuasaan rezim yang kian otoritarian menjadi bernilai perjuangan. Dan mengatakannya di hadapan pemimpin yang telah melakukan penyelewengan, adalah perjuangan besar (jihâd akbar). Jangan pernah takut. Sebab, nilai jihad, apalagi jihâd akbar pasti juga sangatlah besar.

Di sepanjang sejarah, termasuk di dalamnya sejarah kekuasaan, usaha memang tidak selalu berujung dengan keberhasilan. Namun, yang dinilai bukan hasil, melainkan usaha memperjuangkan.

Jika nanti kalian ditanya, baik oleh manusia ketika masih di dunia, maupun oleh Tuhan ketika sudah mati, tentang tanggung jawab kalian sebagai pemimpin mahasiswa, kalian sudah bisa menjawab bahwa tanggung jawab kalian sudah kalian tunaikan.

Namun, kalau kalian hanya tidur, atau mengikuti jejak para pemimpin mahasiswa beberapa tahun lalu yang diselesaikan di meja makan, maka kalian akan merasakan penyesalan di masa depan. Sebab, kalian tidak memanfaatkan kesempatan.

Kalian harus mengambil peran mengingatkan, dan di antaranya adalah dengan kritik. Jangan ragu! Dan jangan takut kepada siapa pun yang mencaci kalian. Sebab, cacian kepada kalian dari orang yang biasanya membela kekuasaan, itu adalah tanda bahwa kalian berada di jalan yang benar.

Bahkan sesungguhnya kalian masih kurang, karena hanya menyebutkan beberapa gelintir saja point yang pernah meluncur dari lisan tanpa tulang dan kini layak kalian sebut sebagai kebohongan. Masih ada banyak yang lain yang seharusnya kalian sebutkan, untuk membangkitkan ingatan banyak orang.

Sebab, oleh pengobralnya, sebagian rakyat dibuat tidak ingat dan sebagian yang lain dibuat tak berani melakukan kritikan. Di mana mobil Esemka yang pernah disebutkan dipesan 6.000 unit, bagaimana realisasi stop utang, bagaimana realisasi stop impor pangan, bagaimana dengan tidak bagi-bagi jabatan, bagaimana dengan kabinet ramping, bagaimana ekonomi yang disebut akan meroket beberapa tahun lalu, apa fakta dari janji tidak menaikkan harga BBM, tidak impor garam, tidak impor gula, dan banyak lagi yang lainnya yang kalau ditulis semua bisa menghabiskan ruang.

Kritik adalah gizi dalam sistem demokrasi. Dan yakini bahwa mengkritik itu berbeda sama sekali dengan menghina. Kritik adalah sikap dan gerakan yang bertujuan untuk mengoreksi kekeliruan. Sedangkan menghina adalah merendahkan sesuatu yang ada pada seseorang yang merupakan pemberian Tuhan. Di Indonesia, memang antara mengkritik dengan menghina ini sering tidak dipahami. Yakinlah 
bahwa mereka sudah punya kamus yang berisi perbedaan makna antara to criticize dengan to insulte.

Yang pertama berarti mengkritik, konotasinya positif. Sedangkan yang kedua berarti menghina, konotasinya negatif. Namun, mereka tidak akan pernah mau tahu, untuk mengalihkan perhatian dari pokok persoalan. Mereka akan hanya menyerang kalian bahwa kalian sedang melakukan penghinaan, bukan kritik. Itu adalah lagu lama penguasa. Di mana pun tempatnya. Bukan hanya di kerajaan politik-kekuasaan, tetapi juga di kerajaan akademik yang seharusnya menjunjung tinggi kebenaran.

Karena itu, berharap kepada pimpinan kampus kalian memberikan dukungan, itu sama dengan berharap hujan turun di tengah kemarau panjang. Ketidakmungkinan ini berlipat-lipat alias murakkab, karena rezimlah penentu posisi mereka. Ditambah lagi mereka telah menikmati gula-gula; bukan hanya jabatan tambahan yang mereka rasakan telah menaikkan kewibawaan, tetapi juga gaji yang bisa meningkatkan kesejahteraan dan menunjang kemewahan. Apalagi mereka akan bersama kalian melakukan kritik sebagai insan akademik yang telah matang.

Tindakan itu akan mendatangkan risiko segala fasilitas menyenangkan yang mereka nikmati dan banggakan hilang. Justru mereka akan menjadi penjaga kampus kalian, agar kalian menjadi mahasiswa-mahasiswa yang duduk manis, kalau perlu sambil tidur menikmati kuliah daring, dan tiba-tiba konstitusi diubah agar jabatan presiden bisa dinikmati sampai tiga periode.

Jangan pernah lelah menyuarakan kebenaran. Kalian masih sangat muda. Orang muda yang tidak revolusioner adalah orang yang tidak punya pikiran. Jangan seperti beberapa senior kalian yang karena lelah tak dapat bagian kekuasaan, kemudian menghinakan diri mereka yang sebelumnya nampak gagah dengan intelektualitas menjulang, dengan menghamba kepada kekuasaan.

Lihatlah, mereka menjadi orang-orang yang sekarang kelihatan pander karena lidahnya terbalik. Sekarang membela penyelewengan kekuasaan yang dulu mereka kritik dengan nalar tajam, padahal banyak sekali yang mereka ucapkan dengan sangat mudah dilacak di berbagai media digital. Bukankah kalian kasihan melihat mereka?

Tetaplah konsisten di jalan perjuangan. Tunjukkan kalian adalah kaum intelektual yang siap melakukan perlawanan secara konstitusional. Semoga yang tidur segera bangun, dan yang pingsan segera siuman. Dan untukmu, wahai Ketua BEM UI; namamu Leon. Orang tuamu mengharapkan dirimu jadi singa, bukan kucing atau kambing. Tetaplah mengaum walaupun ada banyak srigala melolong. Pakai saja pepatah “anjing menggonggong, kafilah berlalu”.

*) Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pembangun Qur’anic Habits di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Pilanggowok Mlagen, Rembang, Jawa Tengah.