Adaptasi Klien Pemasyarakatan Perempuan dalam Menjalani Program Asimilasi di Rumah
Foto : Dwi Ria Ciptasari, S.Gz

Oleh: Dwi Ria Ciptasari, S.Gz

Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH-19/01.04.04 Tahun 2020 tentang  ‘Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak Melalui Asimilasi dan Integrasi dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19 merupakan isu yang berkembang di awal tahun 2020.  

Salah satu fokus dalam esai ini adalah narapidana perempuan merupakan salah satu pihak yang rentan secara sosial dan ekonomi di masa pandemic Covid-19. Mereka harus dapat bertahan hidup dengan perubahan sosial yang terjadi secara cepat. Di satu sisi mereka rentan karena menyandang status narapidana yang mendapatkan Asimilasi. Transisi dari penjara ke masyarakat membutuhkan upaya dari berbagai dimensi untuk mempermudah proses reintegrasi sosialnya. 

Asimilasi dalam proses reintegrasi merupakan salah satu upaya pembinaan sebelum Klien hidup berdampingan di masyarakat. Strategi survive merupakan salah satu upaya menyeluruh agar dapat bertahan hidup di tengah masyarakat. Memahami strategi survive narapidana perempuan dari 4 dimensi yang menjadi factor pendukung bagi keberhasilan mereka bertahan hidup di tengah masyarakat. Karena ada beberapa diantaranya belum sempat diwawancara oleh Pembimbing Kemasyarakatan sebelum menjalani Asimilasi, jadi sangat penting bagi Pembimbing Kemasyarakatan untuk melakukan pendekatan individual. 

Dalam proses bimbingan kepada Klien perempuan khususnya agar dapat membantunya dalam memberikan dukungan moril sehingga mampu bertahan secara sosial dan ekonomi di tengah masyarakat. Pendekatan individual yang dimaksud merupakan indikator di dalam Penelitian Kemasyarakatan yang menjadi acuan bagi seorang Pembimbing Kemasyarakatan untuk menentukan rekomendasi dalam usulan Reintegrasi Sosial seorang Narapidana dan menjadi acuan bagi proses pembimbingan setelah dia mendapatkan program reintegrasi sosial salah satunya Assimilasi.

Pendekatan individual tersebut mencakup karakteristik Individu, hubungan keluarga, masyarakat dan kebijakan pemerintah. Ke empat unsur ini lah yang akan membantu narapidana perempuan bertahan di tengah kehidupan sosialnya.

Pendekatan Individual 

Pendekatan individual yang merupakan indikator yang terdapat dalam Penelitian Kemasyarakatan merupakan dasar untuk menentukan kebutuhan bagi Klien Pemasyarakatan (sebutan untuk narapidana yang mendapatkan program reintegrasi sosial dalam bimbingan dan pengawasan oleh Pembimbing Kemasyarakatan pada kantor Balai Pemasyarakatan). Pendekatan individual itu diantaranya : karakteristik individu, hubungan keluarga, masyarakat dan kebijakan pemerintah. Dimensi ini tidak statis. Keduanya tertanam dalam pengalaman hidup narapidana saat ia memasuki penjara, selesai hukuman penjara, dan dilepaskan, dan mereka berubah seiring waktu. Kehidupan sebelum dan setelah keluar dari penjara merupakan pengalaman yang sangat bervariasi berdasarkan karakteristik individu, hubungan keluarga, pernikahan dan teman sebaya, konteks komunitas, dan kebijakan pemerintah. Orang-orang yang pulang dari penjara telah dibentuk oleh pelanggaran mereka dan riwayat penyalahgunaan zat, keterampilan kerja dan riwayat pekerjaan, mental dan kesehatan fisik, riwayat pelanggaran hukum, dan sikap, kepercayaan, dan sifat-sifat kepribadian mereka. Jaringan teman sebaya di penjara dan hubungan dengan penyalahgunaan zat dan rekan-rekan kriminal di masyarakat dapat mempengaruhi  keberhasilan seseorang untuk bertahan hidup di tengah masyarakat setelah mereka mendapatkan program reintegrasi sosial. Sedangkan teman sebaya juga mempengaruhi perilaku mereka setelah keluar dari penjara. Keluarga dapat menyediakan sistem pendukung yang kuat memberikan mereka perlindungan secara ekonomi, sosial, Pendidikan agama dan pengawasan sehingga kecil kemungkinan mereka melakukan tindak pidana Kembali. 

Konsep Narapidana Perempuan

Jumlah pelaku kriminalitas pria lebih banyak daripada perempuan. Penyebab angka rata-rata kejahatan bagi wanita lebih rendah daripada laki-laki disebabkan karena beberapa hal antara lain: wanita secara fisik kurang kuat, ada kelainan-kelainan psikis yang kas, terlindung oleh lingkungan karena tempat bekerja dan di rumah, wanita kurang minum-minuman keras (Hurwitz, 1986:100). Pada umumnya tindak kriinal yang dilakukan perempuan adalah penculikan atau pelarian anak di bawah umur (Pasal 328 KUHP), pengguguran kandungan (Pasal 348 KUHP), penganiayaan (Pasal 351 KUHP), Pencurian (362 KUHP), pencurian dengan pemberatan (Pasal 363  KUHP),  pencurian dengan kekerasan (Pasal 365 KUHP), penipuan dan narkotika.

Lapas dan Rutan sebagai tempat para pelaku kejahatan mendapatkan pembinaan dan menjalani hukumannya. Bagaimana kehidupan Klien perempuan sebelum masuk Lapas atau Rutan dan setelah dia menjalani hukumannya di Lapas atau Rutan sampai dia bebas dari Lapas/Rutan karena program Asimilasi di Rumah. Melalui  4 dimensi karakteristik individu, keluarga, masyarakat dan pemerintah kita akan memahami cara mereka bertahan hidup secara sosial dan ekonomi setelah mendapatkan program Asimilasi.

PENDEKATAN INDIVIDUAL (INDIVIDUAL PATHWAY) 

Individu

Wawancara mendalam yang dilakukan oleh Pembimbing Kemasyarakatan sebagai bahan rekomendasi apakah mereka layak mendapatkan program reintegrasi sosial apa tidak. Profil individu lebih ditekankan kepada keputusan pribadi untuk berubah ke arah yang lebih positif. Namun lingkungan sosial individu sama pentingnya untuk mendukung perubahan tersebut. Faktor ini berkaitan dengan penerimaan atau penolakan keluarga, teman atau tetangga.  

Kehidupan individu sebelum atau sesudah di Lapas atau Rutan akan menunjukkan perubahan tingkah laku setelah mendapatkan pembinaan. Mereka dibekali berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan menjadi bekal mereka setelah keluar dari Lapas atau Rutan. Beberapa Klien perempuan banyak mendapatkan keterampilan yang bisa diterapkan setelah mereka keluar dari Lapas atau Rutan. Beberapa diantaranya memanfaatkan media sosial untuk berdagang secara online di tengah pandemi covid-19. Beberapa Klien perempuan yang berada di usia produktif ingin mencari kerja di kota sebagai karyawan atau menjadi buruh pabrik. Keinginan tersebut urung diwujudkan di masa pandemi Covid-19. Mereka lebih memilih tinggal di rumah bersama keluarga dan memanfaatkan waktu mereka dengan membantu keluarga. 

Tidak ada lagi stigma negatif dari keluarga maupun masyarakat, mereka lebih percaya diri untuk bergaul di tengah masyarakat. Hal ini yang mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Dukungan dan kepercayaan dari lingkungan sosial dapat meminimalisir individu untuk terlibat kembali ke dalam pergaulan menyimpang yang sebelumnya diadopsi. 

Keluarga

Keluarga merupakan salah satu orang terdekat yang memahami sejarah perjalanan hidup Klien perempuan. Dari keluarga kita bisa mengetahui sejauh apa Klien berubah. Hubungan Keluarga dengan Klien dapat diamati seberapa banyak kontak yang dilakukan Klien dengan keluarganya saat di penjara, baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Upaya paling awal untuk mengetahui ikatan kuat antara Klien dengan keluarga adalah dengan mengetahui intensitas keluarga mengunjungi Klien atau Klien menghubungi keluarga.  Yang kedua bagaimana dukungan keluarga kepada Klien dan respon mereka jika Klien nantinya mendapatkan program reintegrasi sosial khusunya program Asimilasi.

Dukungan dan kepecayaan bagi keluarga dapat mejadi bekal bagi Klien saat mereka hidup di tengah masyarakat. Keluarga sebagai penjamin bertanggung jawab memberikan arahan dan pengawasan kepada Klien. Keluarga juga berkewajiban memenuhi kebutuhan hidupnya sebelum Klien dapat menjadi pribadi yang mandiri secara ekonomi. Klien perempuan banyak mengandalkan uluran bantuan dari keluarga untuk dapat bertahan hidup. Sebagian mengaku menerima bantuan dari sanak keluarga nya untuk memenuhi kebutuhan. Berbeda dengan Klien perempuan yang mempunyai suami ataupun anak yang sudah bekerja, mereka sangat bergantung kepada keluarga secara ekonomi. 

Masyarakat

Karakteristik lingkungan tempat tinggal Klien kembali mempengaruhi strategi survive Klien perempuan. Lingkungan yang positif dapat mendukung upaya Klien melakukan perubahan atau bertahan hidup secara sosial dan ekonomi. Bukan bertahan hidup menyesuaikan dengan budaya setempat. Seorang Pembimbing Kemasyarakatan harus dapat memperhatikan faktor lingkungan tempat tinggal Klien sebagai bahan untuk bimbingan. Untuk itu lingkungan atau masyarakat dapat membantu merubah KKlien menjadi Ke arah yang lebih positif atau sebaliknya.

Di satu sisi, seseoang Klien perempuan akan dapat bertahan hidup dengan dukungan dari tetangga, teman ataupun masyarakat. Tetangga yang memiliki usaha dapat memberikan pekerjaan kepada Klien tersebut di masa pandemi. Secara ekonomi dan sosial mereka yang rentan ini dapat dibantu untuk dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan keterampilan yang dia miliki atau dapatkan saat berada di lapas atau rutan.

Pemerintah 

Di masa pandemi covid-19 pemerintah banyak memberikan bantuan seperti kartu pra kerja, program bantuan pendidikan atau pengasuhan, bantuan langsung tunai, bantuan non tunai seperti sembako, alat kerja dan lain-lain. Beberapa Klien perempuan mendapatkan bantuan dari Bapas terkait seperti sembako maupun uang tunai. Mereka yang menjadi Klien yang berada di bawah bimbingan Bapas ini diberikan bantuan tersebut yang tergolong masyarakat yang terkena dampak covid 19. Mereka yang rentan diberikan beberapa bantuan dari pemerinth untuk dapat bertahan hidup. 

Kebijakan pemerintah terkait program Asimilasi di rumah merupakan salah satu program yang mengurangi penggunaan penjara sebagai respon terhadap kejahatan. Mereka yang mendapatkan Asimilasi di rumah merupakan salah bentuk punishment yang lebih mengedepankan ke arah restitutif. Klien perempuan diberikan kesempatan dengan adanya kebijakan tersebut untuk dapat memperbaiki perilakunya.

POLA BIMBINGAN KLIEN PEREMPUAN

Perempuan yang berada di penjara sebagian melakukan tindak pidana karena mereka terkena imbas dari kesalahan yang dilakukan oleh suami ataupun temannya. Dalam proses bimbingan terhadap Klien perempuan yang mendapatkan program Asimilasi kita dapat memberikan bentuk bimbingan yang berbeda dengan laki-laki. Proses bimbingan disesuaikan dengan kebutuhan masin-masing individu dengan mempertimbangkan 4 indikator yang terdapat di dalam Litmas. Sebagian besar, Klien yang mendapatkan Asimilasi di rumah tidak mendapatkan wawancara oleh PK sebelum mereka menjalani program Asimilasi. Untuk itu perlu diperhatikan digali data terkait 4 pendekatan tersebut untuk dapat mengetahui apa yang dibutuhkan oleh Klien perempuan.

Seyogyanya kebijakan pemerintah ini harus sejalan dengan kemauan dari diri individu untuk berubah, dukungan dari keluarga dan masyarakat. Pemerintah seperti PK sebagai ujung tombak bkeberhasilan seorang Klien dapat bertahan hidup secara sosial dan ekonomi dan tidak lagi mengulangi tindak pidana dapat berkoordinasi dengan pihak terkait seperti kepala desa, keluarga, kepolisian dan kejaksaan untuk mengawasi berjalannya program Asimilasi. 4 dimensi yang mempegaruhi faktor keberhasilan program Asimilasi ini diharapkan dapat meminimalisir potensi pengulangan tindak pidana.

Pendekatan individual merupakan salah satu cara bagi PK untuk mencari kebutuhan Klien dalam perencanaan program bimbingannya. Penggalian data harus benar-benar dilaksanakan untuk mencari tahu bagaimana hubungan Klien dengan keluarga, dengan teman, pemerintah maupun dengan masyarakat di lingkungannya. Hal ini yang harusnya menjadi agenda dalam proses pengawasan dan bimbingan karena sifatnya dinamis. 

*) Penulis adalah Pembimbing Kemasyarakatan Muda pada Bapas Kelas I Jakarta Barat