Karya Seni Film Dinilai Lewat Moral Estetika
Foto : Ilustrasi/ ist

Oleh) Wina Armada Sukardi

Dalam seni, beda komedi dan tragedi telah setipis silet. Lefcourt dan Martin sudah menegaskan, komedi tidak selalu diiringi dengan senyum dan tawa (Sense of Humor and Dimention of Personality, Washington: 1993). Tertawa tidak selalu dipicu rasa lucu. Sebaliknya, tragedi dapat menghasilkan senyum dan tawa. 

Dalam rumusan  Eva Dadlez dan Aniel Luthi, komedi dan tragedi bagaikan dua sisi mata coin, dapat dibedakan tapi tidak dapat dipisahkan (Comedy and Tragedy as Two Sides of The same Coin: Reversal and Incongruity as Spurces of Insight, Illinois: 2018). Seno Gumira Ajidarma menggarisbawahi, komedi dan tragedi,  tertawa dan menangis, menandai yang ektrem dalam spektrum kesinambungan (Antara Tawa dan Bahaya, Jakarta: 1992).  

Kemajuan teknologi komunikasi dan agresifitas keseniaan, termasuk dan terutama dalam karya film, yang melepaskan dari pengkotak-kotakan, telah memuat pendekatan-pendekatan teori lama sering kehilangan relevansinya, setidaknya perlu mendapatkan revitalisasi tafsir. Oleh sebab itu, dalam seni film pendekatan pemisahan komedi dan tragedi tidak selalu cocok lagi. Kita memerlukan suatu pendekatan baru, out of the box, atau setidaknya pendekatan multi approach dalam menilai karya film yang unsur komedi tragedinya sudah beririsan.

Film sebagai karya seni harus dinilai dari moral estetiknya sendiri. Moral dan seni yang berpadu dalam sebuah karya film berkaitan erat dengan  penciptaan dan penemuan serta alternatif. Kita tidak dapat menetapkan secara a priori  apa dan bagaimana  yang harus dipilih dan dipertangungjawabkan. Tidak ada nilai  estetik a priori, yang nampak koherensi karya dalam kaitan antara keinginan dan karya yang sudah rampung. Film tidak dapat didekati cara kuno dengan pengkotakan claster-claster yang hitam putih, apalagi dengan mencoba  menggali premis  tunggal yang sudah usang.

Humor dan Kemarahan Sosial

Manusia merupakan mahluk yang sangat kompleks, apalagi kalau sudah berinteraksi sosial, lebih rumit lagi. Menurut  Robert Pollack , manusia terdiri dari 100 juta-juta , atau  10 kodrat 14  sel. Kemudian setiap sel terdiri dari 10 kodrat 14  atom. Nah, kompleksitas  pada tataran molukul sama  kompleksnya dengan otak seseorang (Sign of Life: The Language and Meaning of DNA, Boston : 1994). Hal ini bermakna, ungkapan dan  rasa  manusia sulit diterjemahan oleh rumus-rumus nalar saja. Persoalan tentu bertambah kompleks dalam kaitannya dengan seni film komedi atau humor.

Dari ratusan teori tentang humor, dapat kita sarikan menjadi tiga pendekatan:  sosial, psikologi dan komunikasi. Sebagai contoh klasik, film-film Charlie Chaplin (lahir tahun 1889) yang tanpa suara. Film komedi ini dapat ditelaah dari berbagai aspek. Hal yang menarik, ternyata humor lebih dahulu dikenal umat manusia dibanding dengan pesan komunikasi lainnya.
Dalam teori-teori psikologi, humor atau lelalucon, tentu termasuk yang terekam dalam film,  secara fundamental dinilai sebagai fenomena sosial. Dalam hal ini tawa membawa pesan, menyampaikan misi. Di balik tawa ada sesuatu yang ingin disampaikan dan dapat sampai kepada taraf untuk mempengaruhi. Dengan begitu,  humor  tidaklah sekedar menghasilkan tawa. Film komedi tidak melulu hanya untuk membuat penontonnya tersenyum atau terbahak-bahak, dan setelah itu melupakan semuanya. Film komedi ingin “menusuk” batin dengan halus, lalu membuat kita dapat mengingatnya dan bahkan dalam banyak hal mempengaruhi kita. Jadi ada fungsi sosial disana.

Humor dapat mengubah persepsi diri kita sebagaimana ditegaskan oleh Elizabeth E Hurlock (Psikologi Perkembangan, Jakarta: 1993). Dengan begitu,  John Sorey yakin,  sebenarnya humor tidak lagi “netral.” Humor bukanlah sesuatu yang “murni.” Ada makna di balik humor yang tidak dapat dibakukan (Cultural Studies and The Study of Populer Culture: Theories and Method, Edinburgh: 1996). Makna humor dapat merembes kemana-mana dengan versinya masing-masing

Tokoh psikoanalisis, Sigmund Freud , seperti biasa, mengkaitkan lelucon atau humor dengan bawah sadar manusia untuk melepaskan sesuatu yang bersifat libidinal. Lelucon, kata Sigmund Freund,  merupakan suatu dorongan ketidaksadaran untuk menyatakan sesuatu (Joke and Their  Relation to Unconscous, New York: 1960). Humor dengan demikian dalam pandangannya dapat saja menjadi keinginan untuk melaksanakan sesuatu yang menjadi larangan atau tabu dalam masyarakat. Melalui penyajian lelucon, orang dapat  menembus tabu dan larangan-larangan masyarakat tanpa harus memperoleh celaaan, sehingga dengan demikian sekaligus ada semacam kepuasan di bawah sadar. 

Arthur Koestler  banyak melakukan penelitian dan hasilnya dituangkan dalam buku “The Art of Creation” yang terbit tahun 1989. Dalam buku itu, Koestler menegaskan humor atau lelucon adalah proses intelektual. Dengan begitu keberadaan humor secara keseluruhan memiliki alasan-alasan yang kuat. Humor baginya bukan untuk merendahkan manusia, tetapi sebaliknya  untuk mengangkat kemanusiaan.

Di mata filosof Perancis Henri Louis Bergson, dalam karyanya yang terakhir “Laughtter” (Paris : 1900)  sampai pada kesimpulan, humor adalah ekstensi pemikiran metafisika dan etika.  Menurut Bergson, kelucuan  dihargai sebagai sesuatu  yang hidup sampai taraf metamorphosis paling asing. Tawa adalah sebuah kegilaan. Dia menjadi senjata utama dalam gerak kehidupan sosial. Tegasnya tawa adalah juga kemarahan sosial.