Kehadiran Negara Dalam Menghargai Pahlawan Harus Sepadan
Foto : Ilustrasi (ist)

Oleh: Mohammad Danial Bangu

Ada banyak manusia Indonesia yang tidak hanya bekerja untuk diri sendiri dan keluarganya, tetapi segala daya upaya tenaga hingga pikiran mereka telah memberi manfaat yang sangat berarti bagi banyak orang dan lingkungan.

Usaha nyata mereka penuh daya guna, menolong tanpa pamrih, menyelamatkan banyak orang di tengah kesulitan yang akut. Ibarat oase yang tiba-tiba hadir melepaskan dahaga rombongan musafir di tengah gurun pasir, sehingga tak mengherankan orang-orang  yang telah terbantu dari karya nyata mereka menyebut mereka adalah Malaikat Penolong.

Atau tanpa mereka sadari, niat suci dan gerak langkah kaki mereka memang dibimbing Malaikat. 

Merekalah orang-orang Indonesia yang paham betul bagaimana memaknai nilai-nilai kepahlawanan, untuk kemudian mengejewantahkan tanpa harus menunggu kucuran dana siapa pun atau menjadi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan juga tidak menggerogoti APBD yang sering kali diendapkan berbunga di berbagai bank.

Jika ditelusuri lebih jauh, aktivitas awal hingga kini yang sudah mereka lakukan, sesungguhnya bukanlah suatu gerakan yang terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Malah sebaliknya, yakni otodidak, juga naik turun, jatuh bangun, argumen-argumen mereka terucap apa adanya berangkat dari rasa iba, rasa ingin menolong, tergerak hati, tidak ingin berdiam diri serta segala bentuk kejujuran yang sama sekali bukan ingin mendapat suatu imbalan apalagi gelar Pahlawan!

Seperti yang telah dilakukan Mbah Sadiman seorang warga Dusun Dali, Desa Geneng, Wonogiri, Jawa Tengah yang telah puluhan tahun lamanya dengan peralatan sederhana ternyata mampu menyediakan air di wilayah pegunungan tandus.

Hasil kerja keras Mbah Sadiman yang awal merintis dianggap gila, kemudian dalam kurun waktu yang tidak sebentar itu, sudah menghasilkan banyaknya pepohonan yang rindang di atas tanah pegunungan berhektar luasnya dan juga membuat warga sekitar bergembira dengan beningnya yang mengucur.

Mbah Sadiman adalah satu diantara mereka yang seyogyanya menuai sesuatu dengan penuh arti, arti dari sebuah makna kata peradaban dalam menyikapi bentuk kepahlawanan, keteladanan yang hakiki. Karena pastinya tak banyak orang mampu melakukannya. 

Namun tentu, apalah arti sebuah Negara dan untuk apa adanya pemerintahan jika orang-orang seperti mereka, tidak dihargai? Apakah Negara dengan segala alat kelengkapan ini masih layak disebut beradab jika orang-orang seperti mereka terus diabaikan?

Tidak sedikit dari mereka ada yang sudah terdeteksi, namun kehadiran Negara dalam anugerah kepedulian belum begitu sepadan dengan apa yang telah mereka curahkan.

Lalu apa pengaruhnya jika tidak sepadan itu kerap terjadi? Apa saja keburukan yang dapat timbul lantaran kehadiran Negara tidak dirasakan? Sesungguhnya keburukan paling utama tentunya adalah terus tergerusnya moral para penyelenggara Negara, atau katakanlah para oknum.

Mereka para penyelenggara negara, mungkin secara sadar atau tanpa mereka sadari, tidak paham dan tak memaknai nilai-nilai kepahlawanan, apalagi mampu mengejewantahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah benar para penyelenggara Negara berpikir dalam kerja nyata mereka, tentang akan bagaimana baiknya lima puluh tahun atau seratus tahun Indonesia dan seterusnya? Apakah dengan tidak adanya atau minimnya keluhuran moral akan lahir para Pahlawan yang menjadikan Negara ini akan jauh lebih baik.

Mungkin saja ada para penyelenggara Negara merasa sudah menjadi Pahlawan, misalkan dengan posisinya dalam zona nyaman namun abai dalam hal memuliakan manusia-manusia Indonesia, juga terhadap generasi muda, sehingga berbagai ide, gagasan, konsep, karya dari pemikiran mereka yang brilian tidak berdaya guna di negeri sendiri.

Semoga saja para Pahlawan yang gigih mengajarkan anak-anak di berbagai pelosok, para Pahlawan Keadilan, Pahlawan Kesehatan, Pahlawan Ekonomi, Pahlawan Lingkungan, Pahlawan Kemanusiaan serta semua Pahlawan di segala lini kehidupan bangsa ini merasakan kehadiran Negara dalam anugerah yang sepadan.

Tentu tidak ada kata terlambat dalam memaknai berbagai nilai kepahlawanan, lalu memberi arti bagi mereka, agar jangan sampai ungkapan KH Agus Salim dalam untaian kata mutiara menegaskan bahwa Dalam Negeri Kita, Janganlah Kita yang Menumpang. 

Memaknai kalimat Pahlawan Nasional KH Agus Salim ini, mungkin sampai saat ini kita semua telah merasa menjadi Pahlawan, namun Pahlawan yang hanya menumpang, hanya beda kelas.


*) Wartawan Harian Terbit