Revitalisasi dan Optimalisasi Prakerin Siswa SMK
Foto :

Oleh Helena Sutrisnowati, Guru SMKN 1 Juwiring

Angka pengangguran terdidik hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda menurun, apalagi pada masa pandemi Covid-19 yang memberikan dampak negatif luar biasa terhadap kondisi perekonomian dan bisnis, sehingga menyebabkan peluang kerja semakin  kecil, bahkan menimbulkan pengangguran baru. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2021 menunjukkan  bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih yang tertinggi, mencapai 11,13%.  Sementara, TPT Sekolah Menengah Atas (SMA) tercatat sebesar 9,09%, di urutan kedua. Fakta empirik ini memperlihatkan anomali bahwa lulusan SMK yang dipersiapkan langsung kerja setelah lulus justru menghasilkan pengangguran yang lebih besar dibandingkan lulusan SMA yang nota benne tidak dipersiapkan untuk bekerja setelah lulus.

Kegagalan Penerapan Link and Match

Fenomena tersebut  setidaknya menunjukkan kompetensi yang dimiliki lulusan SMK tidak atau kurang sesuai dengan tuntutan atau kebutuhan pasar kerja. Kondisi ini mengisyaratkan kekurangberhasilan atau bahkan kegagalan penerapan konsep link and match di SMK. Inti konsep link and match adalah apa yang dilakukan dunia pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ada beberapa pendekatan dalam link and match agar dapat berjalan dengan baik. Pertama, pendekatan sosial, yakni suatu pendekatan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat saat ini. Pendekatan ini fokus pada tujuan pendidikan dan pada distribusi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Kedua, pendekatan tenaga kerja, yaitu aktivitas pendidikan langsung terhadap upaya mengisi kebutuhan nasional tenaga kerja. 
Dalam konteks ini, sistem pendidikan harus mampu untuk membuka bermacam-macam produk tenaga kerja, khususnya untuk membuka lapangan kerja baru. Pendidikan harus mampu memproduksi tenaga kerja dan mampu bermain dengan potensi masyarakat untuk memproduksi barang-barang dan jasa termasuk pemasarannya. Konsep link and match mengarahkan pendidikan kejuruan diselenggarakan di dua tempat, yaitu sekolah dan industri. Hal ini tidak mudah dilakukan, terutama karena rasio perbandingan sekolah dan industri yang tidak seimbang, serta persoalan-persoalan lain yang bersifat teknis operasional. 
Konsep link and match dalam pendidikan dapat diwujudkan dalam beberapa kegiatan. Pertama, merumuskan materi pembelajaran dalam rangka penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Kurikulum sekolah kejuruan berorientasi pada kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan dunia usaha atau dunia industri (DUDI), agar terjadi link yang kuat, dan tidak timbul kesenjangan antara kebutuhan DUDI dengan materi pembelajaran, sehingga pada waktu menyusun materi pembelajaran, satuan pendidikan mengajak dan melibatkan praktisi DUDI.

Kedua, guru tamu (guest lecture). Para pendidik di SMK telah menguasai teori maupun praktik untuk bidang keahlian masing-masing. Tetapi, untuk memberikan materi sesuai kenyataan di lapangan dapat diberikan oleh guru tamu yang merupakan praktisi DUDI.

Ketiga, praktik kerja industri (Prakerin). Peserta didik SMK wajib mengikuti kerja industri. Para peserta didik melakukan latihan bekerja di tempat yang sesungguhnya. Mereka wajib mematuhi peraturan dan tata tertib sebagai karyawan, melakukan tugas secara mandiri dengan peraturan kerja sesuai dengan peraturan yang berlaku. Prakerin merupakan syarat utama bagi peserta didik untuk mengikuti ujian kompetensi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari ujian nasional (Permendiknas 59/2011).

Keempat, uji kompetensi, yang mencakup aspek pengetahuan (kognitif), sikap (efektif), keterampilan (psikomotorik) dan tindakan (action). Kelima, penempatan lulusan. Hubungan erat antara SMK dengan DUDI bisa menjadi good will bagi DUDI untuk memberikan kesempatan pertama bagi lulusan SMK (Schelten, 1998).  Dengan demikian, apabila pada kenyatannya terjadi pengangguran SMK yang tinggi, maka itu dapat berarti bahwa penerapan link and match tidak atau kurang sesuai dengan konsep, sehingga penting untuk direvitalisasi. 

Revitalisasi dan Optimalisasi 

Untuk merespon hal tersebut, Pemerintah melalui Ditjen Diksi Kemendikbudristek telah melakukan revitalisasi program link and match dengan mengeluarkan kebijakan  “link and super-match” pada tahun 2021. Kick Off Program Ditjen Pendidikan Vokasi 2021 memuat strategi “link & super-match” masing-masing direktorat melalui program utamanya, serta diselaraskan dengan program Direktorat Kemitraan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI). Pada Direktorat SMK misalnya akan dilakukan program SMK Pusat Keunggulan (PK) yang menargetkan 900 SMK pada 2021. Revitalisasi ini, apabila dapat berjalan dengan baik, efisien dan efektif, tentu dapat menjanjikan perbaikan kompetensi  lulusan SMK sehingga berpotensi dapat mereduksi pengangguran di kalangan lulusan SMK. 

Sambil menunggu realisasi kebijakan “link and super-match” tersebut, yang mendesak dilakukan dalam waktu dekat adalah optimalisasi atas semua potensi yang mendukung perbaikan kualitas kompetensi lulusan SMK. Pertama, membangun kemitraan SMK dengan DUDI yang lebih solid melalui perbaikan komitmen dari kedua belah pihak.

Pihak SMK memberikan konsesi dan jaminan yang lebih baik terhadap semua siswa yang dikirim ke DUDI, baik yang terkait dengan penguasaan teoretik maupun afektif seperti disiplin, sopan santun, kejujuran dan lain-lain. Sedangkan pihak DUDI memberikan konsesi dan jaminan kesempatan lebih besar bagi siswa SMK, memberikan kesempatan praktek kerja yang lebih banyak dan berkualitas, serta memberikan kesempatan kerja yang lebih besar kepada lulusan SMK yang pernah magang.

Kedua, memperkuat praktikum internal sekolah. Untuk mengantisipasi kemungkinan DUDI tidak dapat memberikan layanan kemitraan yang optimal karena berbagai sebab, maka sekolah perlu mengantisipasi kemungkinan  tersebut dengan menambahkan jam praktek kerja secara memadai sehingga standar kompetensi yang diharapkan dapat tercapai.

Ketiga, meningkatkan kreativitas dan inovasi siswa. Tidak selamanya Prakerin dapat berjalan dengan baik dan lancar. Selama ini siswa magang yang mengikuti kegiatan Prekerin masih sering dilihat sebagai beban oleh DUDI.

Dengan kondisi seperti itu, maka layanan dan perlakuan terhadap siswa yang magang bisa saja kurang maksimal, sehingga para siswa perlu memahami kondisi tersebut dan lalu berpikir, bersikap dan berperilaku kreatif dan inovatif. Ketika siswa yang magang diterima “setengah hati” oleh DUDI, maka mereka harus pandai-pandai  “mengambil hati” para instruktur dari kalangan DUDI yang ditugaskan mendampingi mereka.

Untuk itu, para siswa perlu kreatif memanfaatkan sedikit peluang praktek kerja yang diberikan kepadanya. Mereka perlu rajin bertanya dan berinovasi dalam kondisi yang serba terbatas tersebut. Alih-alih berusaha menyenangkan instruktur, mereka juga perlu “mencuri” ilmu dari instruktur. Misalnya, mereka berusaha memuji instruktur dan kemudian bertanya bagaimana kiat instruktur sampai pada posisi/jabatan di perusahaan. Intinya, para siswa tidak hanya mendapat pengalaman praktek minimal yang berbasis kompetensi, tetapi lebih dari itu juga memperoleh pengalaman afektif yang bersifat soft skill. Bagaimanapun, dalam dunia kerja, kompetensi tidak akan dapat menjamin kesuksesan tanpa dukungan soft skill.