Besarnya Jasa Agama, Tapi Kenapa Dihina?
Foto : Legisan S Samtafsir/ ist

Oleh) Legisan S Samtafsir 

Tidak akan ada ketenteraman, jika agama saling dihinakan. Itulah mengapa, Al Quran menegaskan 'untukmu agamamu, untukku agamaku (QS, Al Kafirun: 6).

Seharusnya sudah selesai urusan yang begitu. Siapapun harus menghindari percakapan yang merendahkan agama lain, apalagi di ruang publik. Karena kita tahu bahwa tidak ada keyakinan yang paling terpatri dalam sanubari kecuali agama. Kalau itu diusik, maka yang terjadi adalah bara api permusuhan. 

Mengapa beberapa gelintir orang itu bahkan pejabat publik, masih juga melakukannya. Apakah karena kedunguannya, atau ada agenda setting? Belum lupa kita ucapan "Tuhan bukan orang Arab', sekarang muncul lagi 'Allahmu lemah'. Belum lagi yang kemarin-kemarin, 'Dibohongi pakai Al Quran', 'Pesantren sarang teroris', 'teroris itu punya agama dan agamanya Islam' dan masih banyak lagi.

Jangan mengira itu ucapan biasa. Bagi yang tidak beragama, itu hanya ucapan. Tapi bagi yang beragama, itu ucapan yang menusuk hati. Kalau itu diucapkan sekali karena kekhilafan, itu pasti tidak masalah. Tapi kalau itu sering diucapkan dalam versi yg berbeda-beda dan terus menerus, lalu dibanggakan, dibela dan pelakunya dilindungi, dan sebaliknya yg memprotes ucapan itu malah dipermasalahkan, publik jadi bertanya 'ini agenda apa, agenda siapa, apa tujuannya?'.

Bukankah secara konstitusional agama itu dilindungi, penganutnya diberi kebebasan menjalankannya, dan bahkan secara faktual agama telah memainkan peran yang luar biasa  besarnya bagi berdirinya Republik ini. Dan setelah merdeka, bukankah agama yang menyantuni rakyat di negeri ini.? Tapi mengapa agama yg dihinakan?

Agamalah yg menjadi dorongan bangkitnya perjuangan revolusi rakyat mengusir penjajah. Agama pula yg menyatukan masyarakat yg  berbeda suku dan bahasa tapi menyatu dalam Indonesia. Agama pula yg turun tangan menyantuni rakyat yg miskin, yang menderita, yang mendidik rakyat nya utk berakhlak. 

Lihat setiap tahun berapa besar dana zakat, infaq, shadaqah, tabung jumat, jumat berkah, bagi-bagi daging qurban, panti anak yatim, ekonomi dana haji dan umrah. Bukankah itu jasa besar agama bagi pembangunan negeri ini. Terlalu besar jasa agama di Indonesia ini. Tapi mengapa justru para elit yg mengabaikan itu?

Jadi kita semakin bertanya, mereka yang dalam poros mempersoalkan, menghina dan menyerang agama, apakah itu orang-orang yg buta, dungu, kudet, atau orang-orang yg jahat? Kalau orang baik, pasti bukan begitu. Kalau mereka punya pemahaman dan maksud yg berbeda, seharusnya mereka tabayyun dan terbuka utk mengoreksi diri, bukan malah membuat front permusuhan.

Bayangkan beratnya beban Indonesia, saat Indonesia tercabik-cabik dengan semua problem covid, pertumbuhan ekonomi yg nyungsep, utang yg menggunung, korupsi yg menggila, demokrasi yg jeblok, degradasi moral bangsa, ancaman kerusakan lingkungan, ancaman disintegrasi, kok malah segerombolan orang itu berbicara yang menghinakan agama. Ini jelas sikap dan tindakan yg jauh dari kepatutan seorang warga bangsa, merusak persatuan, menghancurkan modal sosial dan mengancam keutuhan NKRI.

Para intelektual, cendekiawan garis lurus dan kepemimpinan nasional seharusnya turun tangan dan kaki utk memperbaiki ancaman serius itu, bukan di tingkat diskusi tapi aksi nyata. Fa'tabiruu ya ulil albab.