LGBT dan Kebangkrutan Ekonomi
Foto : Ilustrasi/ ist

Oleh) Legisan S Samtafsir 

Penduduk Jepang, Korea, Eropa dan Amerika sudah menua. Usia 0-14 tahun <19%, bahkan Spore, Hongkong hanya 12%, sedangkan usia 15-65 dominan >60%. 25 tahun lagi negara2 maju tersebut menghadapi masalah besar demografi, yg diprediksi Jared Diamond (2019) berdampak pada kebangkrutan ekonomi.

Bandingkan dengan di 57 negara mayoritas Muslim (MMCs) seperti Indonesia, usia muda 0-14 tahun di atas 30%. Artinya demografi di negeri-negeri Muslim itu produktif dan akan lebih dominan yang usia produktif. 

Gejala umumnya jelas, di negara-negara maju Eropa, Amerika dan Asia Timur itu, orang-orang enggan berumah tangga dan punya anak, ditambah lagi dengan gerakan LGBT yang massive. 

Mereka mengira bahwa rumah tangga dan pernikahan hanya soal libido biologis, yg tidak harus lewat nikah. Mereka tidak memahami bahwa nikah dan keluarga adalah jalan untuk melahirkan keturunan, melanjutkan kesinambungan ekonomi, kebudayaan dan peradaban manusia.

Mereka yg sumbu pendek dan rabun jauh pemikiran, tidak bisa membayangkan akibat masyarakat gemar LGBT, prostitusi, kumpul kebo, melacur dan melonte. Mereka mengira itu hanya soal hak asasi. Mereka tidak sadar bahwa manusia itu dilahirkan dan kelak akan tua dan mati. Soalnya, siapa yg akan meneruskan kehidupan, jika keturunan dianggap tidak penting dan diabaikan?

Siapa kelak yg akan jadi gubernur, menteri, CEO, presiden, parlemen, jika 'jantan kawin dengan jantan, betina dengan betina'? Jika prostitusi, perlontean dan kumpul kebo yg diumbar atas nama hak asasi manusia, lalu bagaimana dengan soal garis keturunan, soal ahli waris dan keluarga?

Jadi, stoplah mengumbar LGBT, perlontean, kumpul kebo dan pornografi, karena semua itu terbukti jadi biang kebangkrutan ekonomi dan peradaban manusia. 

Jadi perlu kiranya orang-orang yg menyuarakan LGBT itu membuka wawasan pengetahuannya, jangan cuma latah dan dungu mendukungnya tanpa pengetahuan yang benar. Fa'tabiruu ya ulil albab..