#Ekonomi

  • Pertumbuhan Negatif, Daya Beli Rakyat Jatuh, Rizal Ramli: Pemerintah Bisa Kerja Atau Tidak
    Selasa, 11 Mei 2021 - 11:23 WIB

    Pertumbuhan Negatif, Daya Beli Rakyat Jatuh, Rizal Ramli: Pemerintah Bisa Kerja Atau Tidak

    Jakarta, HanTer - Ekonom senior Rizal Ramli (RR) menyatakan, pemerintah saat ini telah meninabobokan rakyat dengan mimpi ekonomi akan pulih dengan cepat bahkan sampai 5,5 - 6 persen seperti yang diimpikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menkeu Sri Mulyani, dan Presiden Jokowi. Padahal kenyataannya Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan saat ini Indonesia masih resesi sehingga pertumbuhan ekonominya masih negatif. "Kami dulu sampaikan jangan memberikan mimpi yang bisa didelivered. Karena sebelum krisis saja cuma tumbuh 3 persen. Kok mau ngimpi bahwa tahun 2021 ekonomi bisa tumbuh. Ternyata itu ramalan-ramalan yang penuh halu, istilah anak muda. Halusinasi ngimpi bakal cepat," ujar Rizal Ramli dalam Chanel Bravo Radio Indonesia yang dilihat Harian Terbit, Senin (10/5/2021). Dalam program yang dipandu wartawan senior Gigin Praginanto, Menko Ekuin era pemerintahan Gus Dur ini menyatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih negatif. Apalagi pertumbuhan GDB itu tergantung konsumsi. Saat ini daya beli yang dilakukan rakyat sedang jatuh. Karena pertumbuhan GDB itu pertumbuhannya tergantung konsumsi rakyat. RR memaparkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih negatif juga dipengaruhi berkurangnya peredaran uang karena telah dikuras untuk membayar utang. Sehingga dari Juli tahun 2020 sampai Maret 2021 pertumbuhan pertambahan kredit negatif. Sementara untuk Maret 2021 pertumbuhannya minus 3 persen. "Jadi uang yang ada saja disedot, karena daya beli rendah. ini yang menyebabkan faktor daya beli rakyat biasa hancur," paparnya. Dana Haji Mantan Menko Kemaritiman ini mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi masih negatif, pengeluaran keuangan yang dilakukan pemerintah juga besar disebabkan defisitnya juga besar. Karena untuk membayar bunga pinjamanannya saja masih meminjam. Saat ini BI juga sudah memaksa menerbitkan uang senilai Rp1000 triliun. "Tapi ternyata itu tidak cukup, lalu mengambil dana haji untuk biaya infrastruktur, mengambil dana wakaf dan sebagainya. Bahkan saat ini kesulitan untuk membayar THR," paparnya. RR mengungkapkan, saat ini kemampuan fiskal untuk memacu pertumbuhan ekonomi juga semakin lama semakin jeblok. Satu - satunya yang positif hanya ekspor yang naiknya lumayan, karena di seluruh dunia sudah mulai pulih pasca pandemi Covid-19. Satu - satunya yang positif yakni saat ini jumlah impor juga berkurang 15 persen dari total GBP. "Jadi analis yang normal bisa lihat bahwa saat ini konsentrasi rakyat anjlok karena daya beli anjlok karena tidak ada pekerjaan, uang beredar berkurang, daya beli menurun, kemampuan fiskal terbatas, tapi kasih mimpi pertumbuhan ekonomi akan naik 6 persen dengan cepat," jelasnya. RR menilai, saat skenario pertumbuhan yang diharapkan pemerintah telah memble. Kkemungkinan yang terjadi sampai akhir 2021, adalah skenario pertumbuhan memble. Yang ujungnya dikwartal IV barang kali 3- 4 persen. Jika canggih recovery-nya bisa lebih tinggi. Tapi pemerintah, pejabat ekonominya tidak punya kemampuan untuk mencari jalan atau solusi yang kreatif. Buzzer RR menegaskan, mimpi untuk sementara dibolehkam guna meninabobokan rakyat. Tapi pada akhirnya akan datang kondisi yang realitas. Mirisnya lagi saat ini yang berkuasa adalah buzzer-buzzer yang membelokkan kebenaran. Karena prinsip kerja buzzerRp adalah memuji-muji yang membayarnya. Tidak heran ketika ada yang kritis terhadap pemerintah mereka hancurkan dengan kosa kata yang terbatas. "Jadi rakyat kita tertipu dengan kelakuan buzzer-buzzeryang jumlahnya bisa 100 ribu lebih yang bisa meninabobokan rakyat kita bahwa semua bisa serba baik, serba hebat," ujarnya. Para buzzerRp, sambung RR selalu mendengungkan bahwa yang dikatakan analis dan pengamat itu tidak benar dan sebagainya. Namun, rakyat akan melihat kehidupan sehari-hari. Minggu ini bisa makan enggak, bisa ada kerjaan atau enggak, mau sekolah, mahal apa enggak. Harga-harga naik. Oleh karena itu ketika rakyat menghadapi realitas seperti ini maka kesimpulannya sederhana, pemerintah bisa kerja atau tidak. "Pemerintah tidak mampu menyelesaikan masalah malah membuat masalah yang sederhana menjadi makin ruwet," jelasnya.

  • Jika Dipercaya Rakyat Jadi Presiden, Rizal Ramli Siap Bebaskan Habib Rizieq dan Basmi Islamphobia
    Jumat, 23 April 2021 - 13:30 WIB

    Jika Dipercaya Rakyat Jadi Presiden, Rizal Ramli Siap Bebaskan Habib Rizieq dan Basmi Islamphobia

    Tokoh nasional Dr Rizal Ramli (RR) mengatakan jika dipercaya menjadi presiden Indonesia maka akan membebaskan mantan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) dan aktivis lainnya dari tahanan

  • Gairahkan Kembali Sektor Ekonomi Kreatif, Pemerintah Gelar Vaksinasi bagi Pekerja Seni
    Selasa, 20 April 2021 - 20:51 WIB

    Gairahkan Kembali Sektor Ekonomi Kreatif, Pemerintah Gelar Vaksinasi bagi Pekerja Seni

    Banyak cara dilakukan pemerintah guna menggairahkan kembali bisnis di sektor ekonomi kreatif yang pada akhirnya dapat memicu sektor perekonomian lainnya. Seperti dilakukan Kementerian   Pariwisata   dan   Ekonomi   Kreatif (Kemenparekraf) yang memfasilitasi pekerja seni untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19 di Jakarta, Senin (19/4).

  • Hergun: Target Pertumbuhan 7 Persen Masih Realistis, Namun Butuh Kerja Keras
    Selasa, 20 April 2021 - 11:37 WIB

    Hergun: Target Pertumbuhan 7 Persen Masih Realistis, Namun Butuh Kerja Keras

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2021 bisa melebihi 7 persen. Hal tersebut disampaikan saat memberi arahan kepada peserta, Rapat Koordinasi Kepala Daerah di Istana Negara Jakarta pada Rabu (14/4/2021)

  • Semuanya Kebalik-balik, Rizal Ramli: Pantes Ekonomi @Jokowi Nyungsep
    Selasa, 20 April 2021 - 10:31 WIB

    Semuanya Kebalik-balik, Rizal Ramli: Pantes Ekonomi @Jokowi Nyungsep

    Beban belanja bunga utang pada APBN 2021 meningkat kurang lebih 18,8% dari Rp314,1 triliun pada 2020 menjadi Rp373,26 triliun pada tahun ini.

  • FABA Bernilai Ekonomi Tinggi dan Pendorong Pertumbuhan Industri 
    Rabu, 14 April 2021 - 21:56 WIB

    FABA Bernilai Ekonomi Tinggi dan Pendorong Pertumbuhan Industri 

    Anggota Dewan Energi Nasional, Dr Agus Puji Prasetyono, mengemukakan, pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) yang berasal dari abu batubara dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan yang bermanfaat bagi pembangunan.

  • Ekonomi Memburuk, Daya Beli Menurun, Rakyat Menjerit
    Selasa, 13 April 2021 - 17:42 WIB

    Ekonomi Memburuk, Daya Beli Menurun, Rakyat Menjerit

    Ketua Umum Barisan Relawan Nusantara (Baranusa), relawan pendukung Jokowi, Adi Kurniawan setuju dengan pernyataan Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI), dr. Ali Mahsun ATMO, yang mengatakan, saat ini daya beli rakyat makin menurun, omset pedagang menurun drastis karena pembeli sepi. Akibatnya, saat ini kondisi rakyat Indonesia yang mayoritas rakyat jelata  semakin melarat.