Sesungguhnya besar pahala itu seimbang dengan besarnya musibah
Foto : Google Image

HAMBA yang mampu menggali hikmah dibalik sakit hanyalah hamba yang sabar. Tanpa sabar, seseorang tak akan mampu menyibak hikmah dan fadhilah (keutamaan) penyakit yang dideritanya.

Terkadang kita menilai sakit yang datang itu buruk tapi belum tentu buruk menurut Allah. “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Seorang muslim berpikir positif bahwa sakit justru merupakan karunia karena akan berpikir betapa  nikmat dan pentingnya sehat sehingga akan mmperhatikan masalah kesehatannya.

Sakit akan menjadi karunia, manakala menerimanya dengan sabar dan ikhlas, karena belum mencapai hakikat keimanannya sebelum ia meyakini, apa yang menimpanya sudah tertulis dalam taqdir-Nya.

Nabi Ayyub tak pernah berburuk sangka kepada Allah dengan takdir nya, justru sakitnya yang belasan tahun dideritanya semakin mendekatkan dirinya kepada Allah dengan kesabaranny . “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44). Berkat kesabaran Nabi Ayyub maka Allah SWT mengembalikan semua yang hilang ketika beliau sakit.  Kekuatan, kesehatan, harta, istri, anak dan kerabat akhirnya kembali kepada beliau.

Kasih sayang Allah pada hambaNya begitu besar. Kasih sayang tidak selalu diwujudkan dalam bentuk harta melimpah dan kesehatan yang prima. Namun, terkadang Allah SWT mewujudkan dengan penyakit. Banyak kisah seseorang menjadi lebih salih setelah sembuh dari penyakit sehingga sakit menjadi rahmat baginya. Tapi sebaliknya Allah mengadzab hambanya dengan memberi kekayaan yang dengan  kekayaannya terjerumus dalam kubangan maksiat.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya besar pahala itu seimbang dengan besarnya musibah. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka ia akan mengujinya. Barangsiap yang ridha maka dia mendapat keridhaan dan barangsiapa yang benci, maka baginya murka Allah.” (HR.Tirmidzi).

Wallohu a’lambihshawab.

(H Nuchasin M Soleh) 

**Telah tayang di rubrik Renungan pada media cetak Harian Terbit edisi Rabu, 17 Maret 2021.