Jaga Diri Pasca Ramadan
Foto :

PERBUATAN berdosa bermula dari setan yang secara masif membujuk nafsu manusia sehingga terperdaya tak kuasa menolak. Ketika terpikat  rayuan setan secara sadar atau tidak sadar telah melakukan perbuatan dosa, lalu perbuatan dosa itu diulangi lagi dan diulanginya lagi.

Allah memberikan kemurahan kepada hambaNya yang beriman yakni bulan suci Ramadan yang didalamnya ada perintah untuk berpuasa agar menjadi orang-orang bertaqwa. Di bulan Ramadan itulah Allah membelenggu setan  idak menjalankan aksi buruknya.

Puasa Ramadan yang selama sebulan membentuk kebiasaan dengan amalan kebaikan, disiplin waktu, tertib, sabar dan tekun beribadah maka setelah puasa Ramadan selesai  meski belenggu setan telah dilepaskan kembali semestinya kebiasaan yang baik dalam beribadah itu masih membekas dan masih dilakukan. Namun kenyataan sering dijumpai larangan-larangan dan perbuatan maksiat dilakukannya lagi. Karunia Allah di bulan Ramadhan tidak disyukuri tidak dijaga dengan baik.

Ibadah wajib dan sunnah selama Ramadan yang diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dilalaikannya begitu saja setelah Ramadhan usai. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS. an-Nahl: 92).

Karena itu setelah Ramadan berlalu kita selalu memohon kepada Allah berdoa sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah. Dari Anas RA berkata, adalah Rasulullah SAW memperbanyak do’a, “Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku atas agamamu. Anas berkata: Wahai Rasullulh kami beriman kepadamu dan kepada apa yang datang padamu, apa yang kau khawatirkan? Beliau bersabda: Ya, sesungguhnya hati itu ada di antara dua jari dari jari-jari Allah, Allah membolak-balikkan kepada yang dikehendaki-Nya. (HR Tirmidzi).

Allah menciptakan setan dan malaikat. Setan membisikkan keburukan dan mendustakan kebenaran, sedangkan malaikat membisikkan kebaikan dan mempercayai kebenaran. Ketika mendapatkan bisikan kebaikan dan kebenaran dari malaikat hendaklah memuji Allah. Ketika mendapatkan bisikan keburukan dan mendustakan kebenaran dari setan hendaklah berlindung kepada Allah.

Hawa nafsu sering  menjadi penyebab kita lalai dalam ketaatan mengingat Allah. Lalai mengingat Allah sangat berbahaya baik untuk kehidupan di dunia terlebih untuk kehidupan akhirat.”Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai”. (QS Ar Rum :7).

Setan telah berjanji akan menggoda manusia selama masih ada kehidupan di dunia agar lalai mengingat Allah. Lalai mengingat Allah bisa menyebabkan hilangnya keimanan, merugi untuk kehidupan dunia dan akhirat. “…DIA-lah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang yang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada.....”  (QS Al Fath: 4).

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh) 


** Telah tayang di rubrik Renungan pada media cetak Harian Terbit edisi Rabu, 19 Mei 2021