Jalan Meraih Keinginan
Foto :

BUYA Hamka dalam bukunya “Pribadi Hebat” mengatakan tiga perkara yang menjadi kekayaan jiwa manusia yaitu pikiran, perasaan dan kemauan. Betapa hebatnya pikiran seorang ahli filsafat, bagaimana halusnya perasaan penyair atau pelukis tidak akan terlaksana cita-citanya tanpa adanya kemauan.

Menurut Buya selama kemauan masih ada pada diri manusia niscaya akan memperoleh yang diinginkannya. Kesempurnaan pribadi terletak pada kesempurnaan kemauan. Dengan kemauan menimbulkan ketabahan, kegigihan dan ketangguhan.

Manakala Allah  berkehendak tak ada yang dapat menghalangi. Tidak  seorangpun yang mampu menahan kehendak-Nya.  ”Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah ia.” (QS An-Nahl: 40).

Ketika kita sudah pasrah kepada Allah kemudian ternyata kandas ditengah jalan maka kita tidak akan kecewa. Boleh jadi Allah masih belum memberikan waktu untuk kita. Atau mungkin ada kesalahan yang telah kita lakukan.

Kegagalan yang kita alami merupakan suatu bukti bahwa manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan. Manusia boleh berencana, namun takdir Allah yang menentukan tak bisa dielakkan. Kegagalan yang ada sebagai pencapaian yang tertunda. Jangan pernah lupa berharap; pertolongan Allah.  “.....Berdoalah  kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu......” (QS. Almukmin: 60).

Jangan permnah berprasangka buruk pada Allah karena Allah Maha Tahu apa yang kita ingin dan harapkan dan Maha Tahu jalan apa yang seharusnya ditemnpuh oleh hambaNya untuk mencapai cirta-citanya. “......Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216). 

Untuk mencapai yang kita inginkan tentunya dengan memanej tahapan langkah yang harus dilakukan. Bekerja keras, sungguh-sungguh untuk  mengatasi kesulitan yang ada, tidak meremehkan waktu , tegar, tekun, sabar, berani dan tidak lupa beribadah dan berdoa mengharapkan pertolongan-Nya. 

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M SolehSoleh)

**Telah tayang di rubrik Renungan pada media cetak Harian Terbit edisi Senin, 25 Mei 2021