Damainya Hati
Foto :

HATI menempati posisi sentral dalam kehidupan manusia. Hati yang sehat dan penuh kedamaian akan mendorong pada aktivitas-aktivitas positif dan bermanfaat. Manakala hatinya berpenyakit, akan timbul sikap dan perilaku yang menyimpang dari norma-norma kebaikan yang berhubungan dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia.

Dalam keseharian biasanya beban kerja rutin, menghadapi permasalahan tak kunjung terselesaikan bisa membuat hati tidak tenang, stress sehingga kehilangan keseimbangan berfikir secara jernih. Bahkan boleh jadi muncul kesal tanpa sebab yang dapat mengganggu kesehatan jasmani dan pikiran.

Biasanya orang yang bisa tenang hatinya adalah orang yang bisa menjaga keseimbangan antara fikiran dan perasaannya.  Masalah hati merupakan bagian utama dalam hidup,  jika tidak terjaga hati akan bisa terkontaminasi dengan sifat-sifat buruk yang membahayakan, kemunafikan bahkan kekafiran.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal darah (hati), apabila hati itu baik maka baik pula seluruh diri dan amal perbuatan manusia dan apabila hati itu rusak, maka rusaklah seluruh diri (amal perbuatan manusia tersebut). Ingatlah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).

Hati seorang Muslim seharusnyalah istiqomah dalam ketaatan kepada Allah karena akan dapat menghantarkan hidup bahagia. Namun lemahnya iman sering membuat masalah hati ini diabaikan.

Rasulullah bersabda, “Hati itu ada empat macam; hati yang bersih yang di dalamnya terdapat semacam pelita yang bersinar, hati yang tertutup lagi terikat, hati yang berbalik, dan hati yang berlapis.” 

Hati yang bersih itu adalah hati orang Mukmin, dan pelita yang ada di dalamnya itu adalah cahayanya. Hati yang tertutup adalah hati orang kafir. Hati yang berbalik adalah hati orang munafik murni (tulen), ia mengetahui Islam lalu ingkar. Sedangkan hati yang berlapis adalah hati orang yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan. 

Perumpamaan iman di dalam hati itu adalah seperti sayur-sayuran yang disiram air bersih. Sedangkan perumpamaan kemunafikan dalam hati adalah seperti luka yang dilumuri nanah dan darah. Mana di antara keduanya (iman dan kemunafikan) yang mengalahkan yang lainnya, maka dialah yang mendominasi.” (HR. Ahmad).

Memiliki hati bersih merupakan karunia Allah. Ada beberapa kiat menenangkan hati antara lain berpikiran positif, curhat kepada seseorang yang bisa dipercaya dan olahraga. Namun cara paling efektif sesuai Islam, yakni dengan beribadah seperti  berpuasa, sholat atau berdhikir, bersedekah atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. 

Wallohua’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh) 

** Telah tayang di rubrik Renungan pada media cetak Harian Terbit edisi Selasa, 25 Mei 2021