Kedhaliman itu Kegelapan
Foto :

HIDUP yang bermakna bagi seorang muslim berbuat kebaikan untuk beribadah pada Allah sesuai aturan dari Allah dan Rasulullah dengan lebih mengutamakan kemaslahatan (kemanfaatan) dibanding kemudaratan untuk diri dan orang lain.

Orang beriman senantiasa beusaha menghindari cara-cara dzalim untuk mendapatkan apa yang menjadi harapannya, misalnya dalam mencari harta, kedudukan, jabatan, popularitas dan lainnya yang bergengsi.

Sementara, orang-orang yang jauh dari Allah dan Rasulullah hidup yang ditempuh bukan cara-cara yang baik, hidupnya hanya untuk mencari kesenangan memperturutkan hawa nafsunya. Untuk mencapai keinginannya itu terkadang menggunakan cara dzalim menghalalkan segala macam cara.

Kedzaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat. Para pelakunya dihukum sesuai dengan kadar kedzalimannya.

Kegelapan itu bermakna seseorang tidak bisa melihat, atau buta, sebagaimana firman Allah disebutkan di dalam ayat Al Qur’an Surah Thaha  ayat 124-125 , yang artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”

Islam mengajarkan agar saling menjaga hubungan baiknya dengan sesama, tidak berbuat zalim (dholim) karena merugikan diri sendiri, orang lain  dan berdosa besar. 

Dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda: “Berhati-hatilah terhadap kezhaliman, sebab kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat.Dan jauhilah kebakhilan/kekikiran karena kekikiran itu telah mencelakakan umat sebelum kamu. Itulah yang menyebabkan mereka mengalirkan darah sesamanya dan menghalalkan apa yang diharamkan pada diri mereka. (HR Muslim).

Wallohu a’lambishshawab.

(Nuchasin M Soleh)